Home » Online Branding

Istilah kerennya, Advergame!

2 July 2005 9,815 views 2 komentar

Di US, brand-brand terkenal sudah cukup lama menggunakan game sebagai media kampanyenya (terutama karena devisa yang dihasilkan via game kini sudah melebihi yg didapat dari film-film Hollywood). Coba lihat game-game konsol sekarang, hampir semuanya tidak lepas dari unsur brand di dalamnya. Kebanyakan memang brand hanya dipasang sekedar background saja, misal: papan-papan iklan yg ada di tepi lapangan game FIFA-nya keluaran Electronic Arts, atau di skate ring yang dipakai oleh Tony Hawk dalam game-nya.

Pasar game konsol memang paling besar di US, tapi product development-nya memakan waktu lama (bahkan kadang sampai 3 tahun), sehingga agar sesuai dengan strategi komunikasi suatu brand, brand baru bisa masuk pada saat proses pengembangan akhir. Akibatnya, paling-paling brand cuma muncul sebagai latar game saja (mungkin kalau dianalogikan di TV, hanya  menjadi sponsor yang muncul sebagai running text saja). Pasar game konsol ini membidik usia 18-34 tahun (diutamakan remaja pria).

Tapi ada pasar game lain yang memang lebih kecil, tapi malah terbukti lebih efektif mengkampanyekan brand. Malah, beberapa game ini di-owning oleh brand tersebut. Game ini sifatnya lebih kasual, sederhana, dan tidak terlalu kompleks. Modelnya biasanya pengembangan dari permainan kartu, arkade, olahraga sederhana. Game seperti ini di US ternyata malah banyak dimainkan oleh anak-anak, remaja baik pria maupun wanita, hingga sebagian wanita dan pria dewasa. Ada yang berbasis flash game, dan dimainkan via website (pemain harus online). Ada pula yang harus di-download terlebih dulu, baru bisa dimainkan.

Model game kasual seperti ini proses development-nya tidak terlalu lama. Sekitar 2-3 bulan sudah cukup. Hal ini memungkinkan brand untuk berkampanye via game model ini. Game bisa diidentikkan dengan lifestyle pengguna brand (misal: game basket Live the Madness buatan developer Wild Tangent menggunakan icon kaleng Coca Cola sebagai item bonus yg bisa diambil pemain). Atau bahkan game yang identik dengan product knowledge, seperti game produksi Wild Tangent untuk Toyota melalui game Corolla Joyride.

Game bisa disebar melalui website maupun viral. Bila game menarik dan mampu membuat pemainnya kecanduan (cukup misalnya 10 menit saja), secara tidak langsung, pesan-pesan brand akan tertanam dalam benak pemain. Sepanjang game-nya enjoyable, tentu pemain tidak akan keberatan dengan keberadaan brand tersebut. Intinya adalah, bagaimana membuat gameplay yang menarik namun tetap bisa meng-embedd-kan pesan brand (secara tidak langsung), dan bagaimana membuat game menjadi experience bagi pemain.

Untuk pasar Indonesia, game konsol sulit menjadi pertimbangan, selain karena proses development yang lebih lama (mengingat belum ada industrinya), pemasarannya pun sulit terukur, karena faktor game piracy (pembajakan).

Clear Warriors

Tapi peluang advergame untuk game kasual – dimana pemain bisa mendapatkannya melalui website – masih sangat besar. Waktu development-nya tidak lama (maksimal 3 bulan untuk game arkade sederhana). Pemain game online pun juga sangat banyak. Bagi brand yang memiliki target demografi pria 12-30 tahun, game kasual berbasis online merupakan pasar yang menarik. Hal ini tidak tertutup untuk target demografi wanita yang hobi bermain game ala Tetris dan kuis-kuis. Tentunya, segala hal yang berhubungan dengan internet, pemasarannya akan mudah diukur (misal: seberapa lama pemain bermain, berapa unique user yang memainkan game, dll).

Contoh advergame yang pernah berjalan di Indonesia salah satunya: game Clear Warriors buatan SmartShell (divisi Stratego Bandung) dan Draft Indonesia. Sambil bermain, pemain bisa menyerap pesan product knowledge dari shampo Clear, melalui aksi para jagoan Clear yang membunuh monster ketombe dan gatal.

Petualangan di Singapura

Pasar game lainnya adalah, mencoba mengkaitkan antara game – brand – event, yaitu game yang dimainkan melalui event yang diselenggarakan oleh brand. Pepsodent Indonesia sering melakukan hal ini. Tahun lalu, Singapore Tourism Board pun juga melakukan hal yang sama melalui event promo yang diselenggarakan di mal-mal.

Promo dalam game memang masih jarang terdengar di Indonesia. Bahkan tidak semua brand manager atau advertising agency memanfaatkan celah pasar ini. Ada yang tertarik mencoba?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

2 komentar »

  • Media-Ide » Game sebagai Media Advertising Online :

    […] Belakangan ini, meski perkembangannya belum besar, banyak brand mulai melirik penggunaan game sebagai alat kampanye mereka. Saat ini, brand pun baru memanfaatkan game ini untuk kegiatan below the line mereka. Biasanya, pada setiap event yang erat dengan anak atau remaja, hampir selalu dijumpai game interaktif membawakan brand tertentu (selanjutnya disebut sebagai advergame). […]

  • randy :

    betul sekali mas (komentar diatas)…. game game online skrg juga jadi sasaran iklan.. wah wa..

    nice info mas.. πŸ™‚

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge