Home » Online Branding

Mempromosikan Buku Melalui Internet

14 February 2006 5,957 views Satu komentar

Beberapa upaya memperkenalkan suatu buku, baik itu fiksi maupun non fiksi, ternyata tidak harus melalui cara tradisional. Umumnya, pengarang buku di Indonesia memperkenalkan karyanya melalui resensi di media massa, talk show di berbagai tempat, atau melalui seminar. Meski upaya ini memang memberikan hasil, tentunya ini perlu didukung dengan dana yang besar pula.

Di US, beberapa pengarang, didukung oleh penerbitnya, mencoba mengenalkannya melalui internet. Bisa dikatakan sejak internet dikenal, orang banyak membeli buku melalui Amazon. Belakangan ini, website dan blog menjadi alat untuk mengenalkan tulisan, baik fiksi maupun non fiksi. Bahkan Amazon kini mulai menyiapkan blog khusus untuk para pengarang mengenalkan isi bukunya.

Lunar ParkPengarang Bret Easton Ellis membuat website fiktif untuk karakter Jayne Dennis dari novelnya, “Lunar Park.” Di website Jayne Dennis, pembaca bisa mengetahui data diri karakter lebih jauh. Tentunya semua data itu fiktif. Bahkan sampai foto dimana terlihat Jayne Dennis sedang bersama dengan Keanu Reeves. Tokoh fiksi ini ikut memperkaya karakter dalam novel tersebut.

Blog juga dipakai sebagai media pengenalan karakter. Novel “The Traveler” karya John Twelve Hawks bercerita tentang petualangan futuristik. Karakter utama di novel tersebut, Judith Strand, dibuatkan sebuah jurnal melalui blog. Jurnal itu diceritakan dari sudut pandang Judith Strand dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya.

Cara lainnya adalah dengan membagikan beberapa bab awal secara gratis di internet. Upaya ini dilakukan oleh penerbit Knopf untuk buku “Kafka on the Shore” karangan Haruki Murakami. Upaya ini ternyata menimbulkan efek getuk tular yang menarik. Banyak pembaca mulai memperbincangkan buku ini, dan menuliskannya dalam blog mereka. Bahkan, berbagai ulasan pembaca ini bisa dilihat langsung dari tautan di iklan-iklan yang dipasang oleh Knopf di beberapa website.

Stranger Things HappenUntuk para pengarang yang sudah memiliki banyak tulisan, pengarang bisa membagikan tulisan-tulisan karyanya yang lama secara gratis di internet. Tujuannya, sebagai alat pemancing pembaca. Saat pembaca tertarik akan tulisan si pengarang, diharapkan pembaca akan membeli buku karangan pengarang berikutnya. Hal ini dilakukan oleh penulis cerita pendek, Kelly Link. Dulu ia membagikan buku terdahulunya, “Magic for Beginners,” secara gratis, di saat ia meluncurkan buku terbarunya, “Stranger Things Happen.” Secara total, lebih dari 15.000 orang mengunduh buku gratisnya dari internet. Kini buku “Stranger Things Happen” pun bisa didapat gratis dari website-nya.

Mendapat ulasan dari para penulis blog terkenal juga merupakan salah satu cara. Buku non fiksi “Freakonomics: A Rogue Economist Explores the Hidden Side of Everything“ terbitan HarperCollins Publishers dikirimkan kepada Jason Kottke, yang lalu mengulasnya secara dalam di blog-nya. Salah satu penulis buku ini, Stephen Dubner, memiliki blog yang bertautan dengan blog Jason Kottke. Hasilnya, blog Stephen Dubner ini memiliki 6.000 pengunjung per hari, dan buku “Freakonomics” menduduki urutan nomor 2 penjualan kategori non fiksi hard cover di US.

Untuk para pengarang yang tidak terlalu mementingkan sisi bisnis, blog bisa dijadikan media untuk menuliskan serial cerita. Hal ini sering disebut dengan blook, yaitu tulisan fiksi atau non fiksi yang dibuat oleh pengarang secara berurutan melalui media blog. Beberapa contoh blook adalah: “Hackoff," “Money," “Rad Decision," atau “The Boy Who Heard Music." Kini, penerbitan Lulu bahkan mulai menawarkan jasa untuk menerbitkan blook dalam bentuk cetak.

Kini juga sudah dikenal podcast, dimana pengunjung blog bisa mendengarkan audio yang ditawarkan oleh penulis blog. Fungsi podcast pun mulai dimanfaatkan untuk mengenalkan buku. Beberapa buku menawarkan versi audio untuk para pengunjung yang tidak punya waktu untuk membaca. Selain menyajikan tulisannya dalam format blook, “Hackoff “ juga menyediakan versi audio-nya. Bahkan, BMW baru saja meluncurkan seri audiobook, cerita fiksi dengan mengkaitkan brand BMW sebagai bagian dari cerita keseluruhan.

Ternyata mempromosikan sebuah buku melalui internet memiliki banyak cara. Tentunya hal ini menarik kalau salah satu cara yang disebutkan sebelumnya bisa pula diadaptasi untuk penerbitan buku di Indonesia. Cara-cara ini bukanlah patokan. Internet yang penuh dengan interaktifitas selalu memberikan peluang alternatif cara baru. Tinggal bagaimana kreativitas kita sebagai penulis atau penerbit bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

Satu komentar »

  • Andry :

    Saya suka Lulu. Kolaborasi (Web 2.0) real-time antara writer dengan instant feedback dari calon reader sangat menarik.
    Pembaca bisa sedikit banyak, menentukan jalan cerita buku yang lagi dibikin.
    Untuk buku yang sifanya non-fiksi, bayangkan kekuatannya. Setahu gw, UrbanGiraffe menulis buku tentang themes WordPress, dan yang ikut berkolaborasi disana adalah pembacanya. Luar biasa.

    Tapi, ada juga lho promosi E-Book yang sepertinya malah mempolusi web.. hehe.. Yang pake sistem referral itu lho.. apa itu juga sarana promosi e-book ?

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge