Home » Online Communities

Menempatkan Brand dalam Komunitas Dunia Maya

2 March 2006 9,347 views 7 komentar

Dalam hidupnya manusia pasti akan bersosialisasi. Dari ia bekerja, bersekolah, di lingkungan rumah tangga, dan dimanapun ia berada ia mencoba untuk menggabungkan diri dengan kelompok tertentu. Seperti di dunia nyata, keinginan bersosialisasi melalui interaksi di dunia maya juga menjadi kebutuhan.

Kebutuhan sosialisasi ini difasilitasi oleh bermacam website. Dahulu, pada awal-awalnya internet dikenal di Indonesia, beberapa pengembang mencoba memfasilitiasi kebutuhan pemakai internet (umumnya remaja) melalui portal-portal komunitas. Dari sekian banyak portal bermunculan, yang bisa terlihat aktivitasnya hingga sekarang mungkin hanya Kafe Gaul. Ada beberapa portal komunitas lain yang lebih spesifik kepada tema tertentu, meski tidak seterkenal Kafe Gaul. Meski demikian, format komunikasi antara sesama anggota komunitas masih sebatas forum diskusi saja.

Anggota komunitas diajak semakin aktif sejak menjamurnya Friendster di Indonesia. Konsep keanggotaan yang terkoneksi satu sama lain dan pengenalan pribadi lebih jauh anggota komunitas menjadikan Friendster sebagai sebuah website yang aktif dikunjungi. Hampir setiap harinya ribuan orang berkirim pesan ke rekan dalam jaringannya. Fitur pun makin lama makin berkembang. Seseorang kini bisa lebih mengenal teman dalam jaringannya melalui blog, tukar-tukaran foto, saling mengisi testimonial, bahkan berkiriman ucapan.

Konsep serupa Friendster ternyata ditemui pula di website komunitas lainnya. Yahoo! menciptakan Yahoo! 360º. Ada pula MySpace, yang mungkin tidak banyak dikenal oleh orang Indonesia. Tapi percaya atau tidak, kalau di US, MySpace ini kini malah lebih populer daripada Friendster, karena lebih banyaknya fitur yang bisa dimanfaatkan anggota. Salah satu andalannya yang masih tidak ada di Friendster adalah musik. Anggota bisa mendengarkan lagu sampai melihat jadwal rutin konser setiap artis musik yang tergabung di MySpace. Berbagai fitur baru yang dekat dengan keinginan anggota ini menjadikan MySpace pilihan utama remaja di US.

Berdasarkan data comScore Media Metrix, sejak 6 bulan terakhir MySpace memiliki kunjungan rata-rata hampir 30 juta unique user per bulannya, dan menempati peringkat kedelapan website yang dikunjungi pada bulan Januari. Anggota MySpace mencapai 54 juta user dengan 22% pengunjung bulanannya berusia di bawah 17 tahun. Jumlah ini pula yang akhirnya membuat lebih dari 8% iklan di internet tayang melalui MySpace, menyaingi Yahoo! dan Google.

Lalu, bagaimana posisi sebuah brand atau institusi di dalam komunitas dunia maya ini? Jumlah anggota komunitas yang terus menjamur tentu menarik untuk dieksplorasi. Untuk brand atau institusi yang erat dengan produk kecantikan untuk remaja, tentu mencoba mendekatkan dirinya dengan berbagai komunitas remaja wanita. Kalau sudah ada, anggota komunitas itu bisa dibujuk untuk terlibat dengan kegiatan online brand atau institusi tersebut.

Hal-hal yang umumnya sudah pernah dilakukan oleh pemasar brand di Indonesia adalah membuat sebuah website dengan kampanye yang inline dengan program ATL dan BTL-nya. Di website tersebut pengunjung diajak menjadi anggota, dan didorong untuk berpartisipasi dalam beragam program aktivitas seperti kuis, video, game, dll. Tentunya, semua kegiatan itu selalu dengan iming-iming hadiah. Kalau tidak, anggota pasti akan malas berpartisipasi.

Upaya mengenalkan website itu umumnya dilakukan dengan cara-cara berikut. Hal yang paling mudah (dan mahal) adalah dengan memasang banner di Friendster atau website komunitas lainnya. Cara ini cukup baik membangun awareness akan program yang dijalankan suatu brand atau institusi. Hal lain yang biasanya dilakukan adalah dengan melakukan e-mail blast dan/atau SMS blast ke database konsumen yang sudah terdaftar sebelumnya. Selanjutnya, pola referral dilakukan dengan mengajak anggota yang sudah tergabung untuk mereferensikan aktivitas online ini ke e-mail rekan-rekannya. Promosi juga bisa dilakukan melalui blog dan mailing list, namun harus disikapi dengan hati-hati, mengingat dua media ini sifatnya lebih personal, dan segala sesuatu yang sifatnya promosi sering dianggap sebagai spam. Kalau memang tidak bisa, sebaiknya jangan dipaksakan, daripada nanti malah citra brand atau institusi terlihat buruk.

Sebenarnya ada beberapa alternatif cara lain dimana brand atau institusi bisa memanfaatkan jaringan sosial dunia maya yang ada. Buzz-Oven, sebuah jaringan sosial yang berfokus di musik merasakan betapa MySpace bisa ikut pula mendukung kampanye yang mereka lakukan. Maka, pengelola Buzz-Oven pun lalu mendaftarkan keanggotannya. Desain halaman MySpace yang bisa dikustomisasi menguntungkan Buzz-Oven. Buzz-Oven bisa mendesain tampilan halaman keanggotan di MySpace-nya sesuai dengan gaya desain di website-nya. Karakteristik visual brand Buzz-Oven yang terlihat di halaman website-nya bisa dimunculkan pula di halaman MySpace. Setiap anggota komunitas Buzz-Oven diminta untuk ikut menjalin jaringan dengan profil Buzz-Oven di MySpace.

Buzz-Oven Dallas

Hal serupa dilakukan oleh P&G yang mencoba membangun komunitas sendiri melalui kampanye Sparkle Body Spray. Di website ini, sempat ditampilkan blog fiktif dari karakter-karakter yang mewakili produk. Tadinya diharapkan kalau pengunjung mau aktif berinteraksi dengan brand melalui blog ini. Namun, karena konten yang ditawarkan kurang menarik, sedikit sekali komentar muncul dari para pengunjung. Akhirnya, P&G merasakan lebih banyak keberhasilan setelah ikut bergabung dengan jaringan MySpace.

Cara yang dilakukan Buzz-Oven dan P&G dengan menggabungkan dirinya melalui jaringan MySpace merupakan cara yang murah (bahkan bisa dibilang gratis). Untuk di Indonesia, hal serupa mungkin bisa dilakukan di Friendster?

Alternatif lainnya adalah dengan memanfaatkan teknologi RSS feed yang sudah semakin lumrah digunakan. Konten tulisan, gambar, video, dan audio dari suatu website bisa “ditarik” untuk tayang di website atau blog pribadi. Sebuah website brand atau institusi wajib hukumnya mulai memanfaatkan teknologi ini. Bayangkan, bila brand tersebut menayangkan konten-konten digital menarik yang bisa dibagi dan dirasakan oleh semua konsumennya. Konten digital yang selalu di-update ini bisa “ditarik” ke website atau blog pribadi konsumen. Akhirnya, tanpa perlu mengunjungi website brand, setiap konsumen bisa merasakan kehadiran brand di website atau blog pribadi mereka masing-masing.

Pasti masih ada cara-cara kreatif lain untuk menempatkan brand sebagai bagian dalam aktivitas anggota komunitas di dunia maya. Intinya, biarkan konsumen atau komunitas memilih apa yang disukainya. Seperti yang diutarakan dalam penelitian Forrester tentang social computing, untuk bisa lebih banyak terlibat dalam interaksi sosial di dunia maya, institusi harus berani melepaskan kendali akan produk atau brand yang dimilikinya. Biarkan konsumen yang memegang kendali brand dan membentuknya sesuai persepsinya. Memang agak sulit dan penuh resiko, mengingat brand merupakan properti berharga dari sebuah perusahaan. Namun di era informasi, dimana konsumen kini bisa mengakses banyak pilihan dan memilih yang memang disukainya, peran institusi tak lebih dari sekedar pengarah dan bukan penentu. Selanjutnya, terserah konsumen akan bersikap apa terhadap arahan itu.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • Andry :

    Kalo company mungkin lebih efektif konvensional, humas dan marketting. Kecuali kalo memang itu company yang core business di web.

    Tapi untuk personal branding (viral blog), blog memang efektif.

  • LinKyo :

    it’s interesting. Banget. Tapi, mungkin, IMO, orang/perusahaan indonesia merasa, klo ditargetkan ke website, such as blogs, or in indonesia yang lebih rame itu friendster…. it won’t really ‘do much’ soalnya di US, kan punya komputer dan internet itu udah nyaris wajib untuk setiap rumah. hm….. setidaknya itu menurut saya….

  • Pitra :

    masih mungkin utk ditargetkan ke konsumen di Indo, sepanjang brand itu masuk ke irisan demografi berikut: 18-34 tahun, sering nge-net (computer literate), sering main game online. Kalo target akuisisinya sampe 5.000 user masih bisa dijamin dapet kok.

  • rahmat :

    Ya!pernyataan pitra memang logis, tapi tdk bsa dipungkiri bahwa tidak semua perusahaan di indon bisa menggunakannya, karena hanya sedikit (mungkin kurang dari 5%) perusahaan yang memiliki target customer tsb..dan mereka juga belum begitu yakin dgn teknik itu

  • denbaguse :

    man jadda wa jadda

    blognya keren abissss… dab

    langsung aja gabung ke
    http://www.jogjaclub.cjb.net yuk
    tak tunggu…!!!

  • gorovoyy :

    Hack again?!

  • pmreload :

    publikasi…publikasi…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge