Home » Online Communities

Berkomunikasi dengan Microblogging

16 September 2008 6,223 views 7 komentar

Mengenai apa itu microblogging silakan dibaca dahulu di tulisan sebelumnya. Berbagai aplikasi microblogging dari yang terkenal pertama kali, Twitter, hingga yang populer kali ini, Plurk, sampai yang buatan negeri sendiri, Kronologger, semuanya punya format serupa: berupa tulisan singkat selayaknya SMS, dikirim dengan mudah via halaman internetnya atau melalui telepon genggam, dan bisa diberikan komentar yang bisa dibaca semua temannya.

Sejak bergabung dengan Plurk dari bulan Juni 2008, ada pola-pola rutin yang selalu muncul dari tulisan teman-teman. Mungkin kalau bisa direkapitulasi, tipe tulisan yang muncul adalah sebagai berikut:

  1. Aktivitas yang sedang/akan/baru saja dilakukan penulisnya, bisa relevan dengan aktivitas kerja, keluarga, hobi, hingga pacaran.
  2. Cerita atau gosip seputar teman-teman Plurk itu sendiri.
  3. Pernyataan yang dipicu dari pemikiran si penulis, yang biasanya pemikiran itu didasarkan pada aktivitasnya sehari-hari.
  4. Pertanyaan/pernyataan terbatas yang sifatnya hanya dipahami oleh teman-teman kelompok atau keluarganya.
  5. Info tentang kejadian akhir yang muncul di koran atau portal berita.
  6. Kegiatan yang sifatnya ritual harian, misalnya: ucapan selamat pagi, apa yang dimakan untuk sarapan, kegiatan buka puasa.
  7. Seputar berita dan teknis penggunaan Plurk.
  8. (ada yang mau menambahkan?)

Plurk

Suatu waktu nanti, sepertinya perlu dibuat riset kecil-kecilan dengan mengambil data acak dari 100 pengguna Plurk di Indonesia tentang aktivitas nge-plurk-nya selama 30 hari penuh. Agar kita bisa dapat data lebih lengkap perilaku pengguna Plurk di negeri ini. Namun berdasarkan pengamatan sepintas selama dua bulan ini, tipe tulisan nomor satulah yang paling mendominan, serta tipe tulisan nomor 5 dan 7 yang paling minor.

Dengan pola-pola tulisan yang ada seperti di atas, mungkinkah sebuah brand bisa masuk dan mencoba berkomunikasi dengan tetap memanfaatkan isu di atas?

Saat ini di Plurk ada Mas Radityo Djadjoeri dengan username bangomania, yang mengatasnamakan komunitas pencinta Kecap Bango mencoba menggali insight tentang kebiasaan para penghuni Plurk makan di bulan puasa ini. Ia memang tidak langsung disponsori oleh Kecap Bango, dan apa yang dilakukannya adalah inisiatif dirinya sendiri. Kalau dilihat dari respon yang muncul sejak ia bergabung, ternyata ragam pertanyaannya mengundang jawaban positif dari para pengguna Plurk, terutama dari mereka yang doyan makan.

Nah, bukankah hal ini mungkin pula dilakukan oleh brand lainnya? Apakah mereka berani dan siap?

Artikel lalu yang relevan:

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • Nike :

    Waaa… hebat euy, di survey gitu πŸ™‚

  • fg :

    kesian sekali orang2 yg hidupnya di twitter, plurk, kronologger :p

  • rama :

    woo.. si bango itu research to.. sempat dikucilkan jugak dia .. ehehehe

  • BloGendeng :

    Aku nggak tertarik sama itu semua. Sepertinya nggak berguna.

  • RepublikFoto :

    Pit… apaan lagi tuh Plurk?

    Anak muda sekarang pada “gaul” banget ya….
    trus Blackberry yang ditempat lain buat pebisnis, di Indonesia cuma buat mainan Facebook & YM πŸ™‚

  • widik :

    Good info, wah perlu di coba nih….

    salam.

  • ihsangamerz :

    maz,cman mo promosi aj

    plurk:
    http://plurk.com/ihsangamerz
    twitter:
    http://twitter.com/ihsangamerz

    follow me,ok….XD

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge