Home » Online Branding

Viral Berbeda dengan Spam

24 October 2008 5,472 views 4 komentar

Viral - SpamBeberapa hari lalu di Plurk muncul komentar kesal kalau beberapa orang menerima sebaran email dari Axe. Mereka heran untuk apa sih Axe kirim-kirim seperti ini. Mereka pun heran darimana Axe mendapatkan alamat email mereka. Memang, apa yang dilakukan brand Axe dengan menyebar email kepada orang-orang secara asal ini bukanlah viral. Ini jelas-jelas spam. Tak berbeda dengan apa yang dilakukan para penjual Cailis, Viagra, atau MLM online. Hehe, apa Axe mau disamakan dengan mereka?

Terkadang pihak advertising agency sendiri masih salah kaprah dengan istilah viral. Viral itu proses, dan bukan media. Mereka sering ‘menjual’ ke kliennya, berargumen kalau viral itu berbiaya murah. Tinggal sebarkan via email atau milis, nanti pasti penerima email akan mengklik tautan dan masuk ke situs si brand. Kalau 1-2 tahun lalu mungkin hal itu masih berlaku. Sekarang konsumen kan sudah cerdas. Semakin banyak pengirim serupa seperti itu, semakin banyak pula email yang masuk ke tempat sampah.

Viral bukan sekedar mengirim email belaka. Yang pertama harus diperhatikan, akan dikirim ke alamat email mana saja dan apakah si penerima sudah menyatakan kesediaannya untuk menerima email seperti itu. Apakah database alamat email itu didapat dengan membelinya dari pihak ketiga? Perlu ditanyakan lebih dahulu ke pihak ketiga ini, bagaimana metode mereka mengumpulkan alamat email.

Bisa jadi mereka hanya sekedar mengumpulkan alamat email kontak dari setiap blog atau milis saja. Mereka tidak menanyakan ulang ke pemilik email bersangkutan tentang kesediaan mereka menerima informasi iklan baik dari pihak ketiga itu maupun dari pihak lain yang bekerja sama dengan pihak ketiga itu. Kalau tidak ada proses ini, apa yang mereka lakukan adalah harvesting, dan ini adalah kegiatan yang melanggar privacy pemilik email.

Lalu, bagaimana caranya brand bisa mendapatkan data email yang valid dan tidak berefek spam? Banyak caranya. Misalnya, bila brand selalu melakukan kegiatan below the line, manfaatkan ini untuk mendapatkan pula alamat email target. Pastikan juga pemilik email setuju untuk berlangganan pesan dari brand baik itu dalam format surat, email, ataupun SMS. Jika mereka tidak setuju, hargai pendapat mereka, dan langsung coret data mereka dari database.

Cara lainnya, adalah dengan melakukan inisiasi awal memasang iklan besar-besaran dengan iming-iming hadiah. Saat pengunjung mendaftar dan berpartisipasi dalam kuis atau permainan yang disediakan oleh situs brand, sediakan opsi serupa seperti di atas. Berikan juga fasilitas agar pengunjung bisa keluar sewaktu-waktu dari database. Cara ini memang mahal di awal, namun akan menjadi lebih murah saat kampanye brand berlanjut di kemudian hari, karena upaya brand untuk mengakuisis pengunjung baru semakin sedikit.

 

Kalau merunut teori New Wave Marketing-nya Hermawan Kartajaya, pemilik brand harus terlebih dahulu melakukan tahapan confirming. Brand sebaiknya mengecek terlebih dahulu apakah si pemilik email sudi menerima email tersebut. Kalau si pemilik email merasa isi email itu tidak relevan dengannya, ia tentu akan menolak. Jika ini dipaksakan, maka yang dilakukan brand hanyalah kegiatan spam belaka.

Menyebarkan informasi tentang situs suatu brand melalui email tidak lantas bisa disebut sebagai viral. Viral itu sebuah proses dimana orang membicarakannya di ranah online, entah itu di blog, forum, jejaring sosial, dll. Sekarang caranya, adalah bagaimana men-trigger sehingga pembicaraan itu muncul, dan terjadi secara positif. Apa yang dilakukan Axe kemarin (serta banyak brand lainnya mungkin) memang menjadi pembicaraan tapi efek yang ditimbulkan negatif.

Jadi, mohon demi kebaikan brand Anda juga, pastikan advertising agency yang mengelola brand Anda tahu bedanya antara viral dan spam. Kalau mereka nggak mengerti, mungkin Anda harus cari pihak lain yang bisa membantu Anda.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

4 komentar »

  • Yogi :

    Gw juga dapet nich email spam dari Axe beberapa hari lalu. Memalukan banget! This is so loooow for Axe.

  • Yeni Setiawan :

    Saya juga dapet, langsung klik “Mark As Spam”.
    (itu sodaranya Mark As Read di Plurk mungkin)

  • Yodhia : Blog Strategi + Manajemen :

    Ya, email Axe itu konyol juga….
    Makanya edukasi online marketing a la Mas Nukman itu mungkin penting banget..

  • jobsdber :

    hemm… gw ngerti skrg apa artinya viral. buat yg mau viral di media gw, let me know.

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge