Home » FreSh

FreSh! 3.0: Berbagi Pengalaman Seputar Jurnalisme dan Komunikasi

3 November 2008 7,755 views 9 komentar

Perhelatan FreSh! 3.0 akhirnya berlangsung juga, dengan meminjam ruang rapat besar di Detik.com. Acara berlangsung pada hari Jumat kemarin tanggal 31 Oktober 2008, dimulai dari jam 19.00 hingga selesai jam 22.00. Dengan senang pula, ternyata semua konsumsi makanan dan minuman pada kesempatan kali ini disponsori semua oleh pihak Detik.com, sehingga saweran untuk perhelatan kali ini ditiadakan. Acaranya sendiri berlangsung meriah dan ramai, dihadiri lebih dari 30 orang.

Yang berbagi pada FreSh! 3.0 ini Budiputra, yang berbicara tentang proffesional blogger, dilanjutkan oleh Donny BU yang bercerita tentang pengalaman jurnalismenya di Detik. Lalu dilanjutkan oleh Ollie yang berbagi pengalaman tentang keaktifannya kini dalam menulis buku dan Anantya yang bercerita tentang dasar-dasar komunikasi. Presentasi ditutup oleh Akhmad Fathonih yang spontan bercerita tentang blog NavinoT-nya. Sayangnya Ivan Lanin yang tadinya akan bercerita tentang Wikipedia Indonesia ternyata berhalangan hadir. Mudah-mudahan kesempatan presentasi ini bisa ia lakukan pada perhelatan FreSh! Selanjutnya.

Presentasi pertama dari Budiputra tidak menggunakan slide. Ia bercerita kalau menjadi seorang professional blogger itu bisa ada 3 model bisnis:

  1. Menjadi publisher blog, dengan mengelola blog sebaik mungkin, dan akhirnya mendapatkan revenue dari blog tersebut. Bisa jadi ia memiliki banyak blog untuk mendapatkan revenue yang semaksimal mungkin.
  2. Menjadi writer atau paid blogger. Di sini, blogger menulis untuk blog lain dan ia dibayar untuk itu. Budiputra sendiri masuk dalam kategori ini.
  3. Mengembangkan komunitas blog.

Budiputra sendiri aktif menulis harian di berbagai blog luar dan dibayar untuk setiap posting-nya. Ia cerita kalau celah untuk ini masih sangat dibutuhkan. Di sini ia berpesan kalau menjadi seorang paid blogger harus bisa menulis, ngeblog, mengerti topik tertentu (misal: teknologi), dan pastinya harus bisa menulis dengan Bahasa Inggris. Coba saja daftarkan diri ke jaringan blog seperti Gawker Media, Weblogs Inc, dan pilih topik yang kita pahami. Atau, bisa juga mendaftar ke berbagai blog pribadi bertema teknologi yang besar-besar seperti Gizmodo dan Engadget. Mereka juga mencari blogger-blogger baru untuk menulis.

Budiputra juga bercerita kalau jaringan blog itu ternyata sangat butuh persepsi atau sudut pandang dari berbagai negara yang berbeda. Itulah makanya mereka tidak menutup diri hanya untuk blogger Amerika dan Eropa. Justru sudut pandang kita yang di Asia ini mereka butuhkan untuk memperkaya konten mereka.

Seperti jurnalis media pada umumnya, menulis blog untuk jaringan ini juga menuntut kecepatan. Semakin duluan menulis tentang peluncuran produk tertentu, semakin dianggap sebagai breaking news. Justru akan merupakan kesenangan sendiri, bila akhirnya tulisan breaking news ini direferensikan oleh jaringan blog lain. Tulisan breaking news ini juga biasanya dihargai lebih tinggi oleh jaringan blog.

Keahlian memahami suatu topik merupakan hal yang penting. Semakin paham akan topik tentu akan membuat tulisan menjadi menarik dan menarik page view yang tinggi. Hal ini akan menjadi penilaian bagi blogger yang bersangkutan terkait dengan kompetensinya. Kalau apa yang ia tulis ternyata tidak akurat, tentu akan diacuhkan pembaca, dan akan menurunkan page view-nya.

Hal penting lainnya dalam menjadi seorang professional blogger adalah kesanggupannya memenuhi persyaratan posting. Kalau ia sanggup untuk menulis 3 posting per hari, ya sebaiknya pertahankan itu, karena itu akan menjadi penilaian apakah si blogger ini serius atau nggak.

Sebagai catatan, Budiputra adalah bekas karyawan Tempo yang memutuskan untuk keluar dan menjadi professional blogger yang full time. Kini ia lebih merasa lega dan senang dan enjoy dalam bekerja, meski sebagai professional blogger menuntutnya harus menulis setiap hari dan tidak kenal libur. Namun, ia bisa mengerjakan semuanya di tempat yang ia suka, di rumah, kafe, dll.

Selanjutnya Donny BU bercerita tentang jurnalisme online. Materi slide-nya bisa dilihat di sini. Donny bercerita bahwa “to make things thinkable, we have to write with context.” Konteks itu bisa dibilang sebagai seni untuk melihat sesuatu, seni untuk membuatnya percaya akan sesuatu, seni untuk melakukan pembujukan. Lebih detilnya, bisa langsung dilihat materi presentasinya berikut.

Selanjutnya, Ollie pemilik Kutukutubuku.com bercerita tentang pengalamannya menulis buku dan berhubungan dengan penerbit, tentunya dengan batasan deadline. Materi slide-nya bisa dilihat di sini. Melalui presentasi ini, ia bercerita kalau deadline itu penting dan menyampaikan tips-tips menulis yang dibatasi oleh deadline.

Ollie juga sempat membuat kuis, dimana peserta harus menyampaikan dalam 1 paragraf hal-hal apa yang paling membuat kita takut. Ollie mambagikan hadiah buku karya terbarunya kepada penulis yang terbaik. Ada pula hadiah undian yang hasilnya bisa dilihat di blog.kutukutubuku.com.

Selanjutnya Anantya bercerita tentang bagaimana kita berkomunikasi. Dari masa ke masa cara kita bersosialisasi selalu berubah. Dimulai dengan telegram, lalu telepon, hingga sekarang telepon selular 3G yang memungkinkan kita bisa langsung berbicara sambil melihat wajahnya. Komunikasi yang dulu terbatas dengan email, kini dengan messenger yang bisa chat langsung tanpa menunggu balasan. Ekspresi yang dulu susah disampaikan kini bisa diwakilkan dengan emoticon.

Hal yang lucu terjadi kalau gaya berkomunikasi menggunaan chat atau email ini lalu terbawa ke dunia nyata. Ada kisah seorang programmer yang membangun hubungan romantis dengan seorang programmer lain melalui email. Lucunya, saat mereka bertemu gaya bicara mereka tak ubahnya seperti email. Yang satu menunggu lainnya selesai berbicara, ada jeda sejenak (seperti berpikir) lalu komunikasi dilanjutkan oleh pihak lainnya. Jangan-jangan, hal serupa terjadi pula pada kita?

Materi slide Anantya ini belum diunggah oleh beliau. Nanti kalau sudah diunggah, blog ini akan di-update segera.

Selanjutnya Akhmad Fathonih (yang telat datang karena menyasar) bercerita tentang proses pembuatan blog yang ia buat bersama rekannya, Ivan Sielegar yang belum pernah ia tatap muka hingga sekarang. Materi slide-nya bisa dilihat di sini. NavinoT adalah blog seputar dunia IT, dan kini lebih fokus pada mengembangkan komunitas pembacanya.

Video liputan kegiatan FreSh! 3.0 ini belum sempat diedit. Mudah-mudahan, begitu ada waktu kosong, bisa secepat mungkin diedit dan diunggah online.

Kegiatan FreSh! 4.0 mudah-mudahan bisa diadakan di bulan November ini. Tema berikutnya adalah tentang dunia freelance. Untuk waktu dan tempatnya, akan dikabari secepatnya di groups-nya Facebook. Bagi siapa yang tertarik untuk berpartisipasi presentasi, siapkan saja materinya, dan sampaikan kesediaan Anda di groups tersebut.

FreSh! 3.0

Kredit foto: Ollie

Artikel lain seputar FreSh! 3.0:

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

9 komentar »

  • ndoro kakung :

    satu kekurangan posting ini, tidak ada penjelasan waktu kapan pertemuan diadakan.

  • Pitra :

    ups iya. terlewat.. saya update di post πŸ˜€

  • catur pw :

    hehe… ndoroo… FreSh! 4 dateng yooo πŸ˜‰

  • Ollie :

    Ralat Pit, kemaren hadiahnya adalah buku “Stephen King: On Writing”. Asik kemaren thanks for Detik.com for hosting the event.

  • andrias ekoyuono :

    aseeek, ada potoku
    *junk*

  • Akhmad Fathonih :

    Oke, sepertinya, FreSh berikutnya akan diselenggarakan dan disponsori oleh D*? Atau T*? πŸ˜€

    Ndoro-ne mpun mecungul :p

  • rama :

    horeee… ada potokuuu…
    eh, aku kan nggak dateng yo… πŸ˜€

  • ivn :

    numpang lewat

  • buku belajar kompute :

    Gak nyangka yah sekarang kutu buku jadi toko online yg besar

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge