Home » Online Branding

Di Mana Laura?

17 February 2009 16,417 views 27 komentar

Hari ini dapat kiriman pesan dari beberapa teman di Plurk, yang merujuk situs ini. Halaman muka situs itu menampilkan informasi tentang seorang anak bernama Laura Ayuningtyas yang hilang. Bagi siapa yang menemukannya, harap memberitahukan ibunya, Rini Ayuningtyas di suatu alamat email. Yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang proses pencarian Laura juga bisa mengisi nama dan email di tempat yang disediakan.

Untuk yang tak biasa melihat situs seperti ini, nggak akan menduga kalau sebenarnya situs ini adalah bagian dari upaya viral yang dilakukan film The Real Pocong. Terlepas dari judul film pocong yang mulai makin menggelikan dan tidak kreatif ini, upaya membangun awareness film ini terlihat unik. Meski sayang juga, misteri hilangnya Laura langsung dijawab dengan terlalu sederhana: “Ternyata Laura Diculik Pocong” melalui situs The Real Pocong. Rasanya akan lebih keren kalau misteri ini tidak usah dijawab, dan biarkan penonton menyimak jawaban misteri ini di filmnya.

Viral ternyata juga berjalan melalui Facebook, melalui profil fiktif Rini Ayuningtyas, yang statusnya berisikan keluhan Rini akan hilangnya Laura sejak Senin kemarin.

Tambahan, dulu film Pocong 2 pun niat promosinya loh. Baca tulisan masa lalu Media Ide di sini.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

27 komentar »

  • Obi-Wan :

    Situsnya kurang keren. Terlalu dibikin berkesan seram. Padahal kalo mau mereka tinggal bikin flyer yang ditempel di mana-mana. Jauh lebih efektif buat menarik orang yang gak konek ke Internet. 😀

  • Riawan :

    Setidaknya pemilihan untuk berpromosi di media online bole kita apresiasi.. heheheh.. 😀

    semoga bisa memacu insan film lain untuk lebih melirik dunia online. sehingga menambah kaya kreatifitas dunia online. dan akhir2nya dunia online indonesia bertambah maju teruss…

  • hedi :

    Betul, harusnya nggak usah dikasih tahu kemana hilangnya. Bikin aja sampek batas waktu tertentu, baru nanti dikabarin 🙂

  • Richard Fang :

    keren juga nih, strategi blair witch versi online 😀

  • omadt :

    heheh..saya malah ketipu…
    kirain ilang beneran nih anak… mana udah sebar ke milis lagi..
    heheh.. malu deh eike..

  • Agus Pang :

    Ternyata ini iklan promosi film POCONG. Ada2 aja tuh. Sebenarnya saya pribadi merasa ini tidak etis dengan menciptakan kesan anak ini benar2 hilang, sampai ada websitenya pula.
    Next time kalau ada anak yang benar-benar hilang, orang tidak akan peduli dan mengira hanya iklan saja.

    Pembuat iklan film ini harus diberi peringatan atau di tindak tegas.

    Semoga pihak terkait yang berwenang mengurus hal ini jeli, sehingga masyarakat luas tidak dirugikan dengan adanya iklan ‘meleceng’ seperti ini.

    Tadi nya aku pengen tau seberapa serius kah kasus anak hilang ini, dan caranya simple : buka google cari : Laura Ayuningtyas dan aku menemukan http://media-ide.bajingloncat.com/2009/02/17/di-mana-laura/ yg menceritakan bahwa ini adalah iklan film horror.

    Orang kita Indonesia memang kurang kreatif. Masa cerita2 horror yang selalu di angkat di layar lebar. Padahal harusnya film-film yang mendidik yang harus sering ditayangkan. Misalkan saja cerita kepahlawanan Pahlawan Bangsa, Kisah pejuang pahlawan bangsa Sisingamangaraja dll, Orang2 berjiwa besar, “Traumatika Korupsi” – efek jera, Pemersatu Bangsa : Gajah Mada, dll.

    Majulah bangsaku. ( Ini bukan iklan kampanye yang cuman muncul jadi orang baik pada saat kampanye ) wakakakaa

  • Darso :

    oooaaaallaaaaahhhhhhhh……. ta’ kirain tenanan….. katro…
    padahal udah ikut prihatin.. terharu… gwa……. DZIIGGHHH…
    tapi idenya bagus… salut.
    btw, itu foto siapa sebenarnya?

  • indri :

    wah … wah … nggak banget sih.
    next, kalo ada anak yang bener2 hilang, kemungkinan orang tuk mau mem- forward informasinya jadi agak gimanaaa gitu. padahal saat ini sedang marak banget anak hilang.

  • yospandi :

    buat saya ini adalah ‘HOAX’. koq tega-teganya promosi dengan mempermainkan perasaan baik hati orang per orang.
    saya jadi teringat cerita : anak gembala yang iseng …
    1. dia teriak-teriak ada serigala, penduduk desa datang … anak gembala tertawa : ‘he3x ketipu kalian …
    2. hal yang sama diulang, penduduk desa datang … he3x ketipu lagi
    3. kali ketiga sebenarnya SERIGALA benar-benar DATANG, tapi kali ini penduduk desa tidak mau ‘datang’ lagi ….

    dan anda tahu akhir dari cerita ini …. semua dombanya habis dimakan serigala.

    Bagi anda yang katanya TEAM CREATIVE PROMOSI ( anda juga punya anak bukan ? ) film ‘POCONG’ ini … apakah ini yang anda harapkan dari masyarakat indonesia ? nanti saat ada anak yang BENAR-BENAR HILANG, kita semua sudah apatis dan masa bodoh ? Ini yang anda harapkan ??

    Tuhan, ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

  • Ayu :

    waduhhh..
    kok gitu sih cara buat promosi..gak bagus nih efeknya!!
    nanti2 kalo beneran ada anak yang hilang, orang jadi gak serius bacanya. awal pemikiran waktu terima email ttg berita ini, yang terpikir langsung adalah cepat2 forward ke milist2 yang aku ikutin krn ngebayangin pasti bingung dan sedih banget orang tua si anak hilang itu (dan juga krn punya anak seumuran dia). lain kali jangan gitu dehhh

  • dina shintara :

    Ehhhhhh taik loe pada ya gw udh sebarin foto2nya laura krn gw kasian kirain beneran itu anak hilang,kl promosi yg lbh sehat dong !!!!

    Dangkal bgt siy pemikiran loe buat iklan anak hilang !!!

    Gw sumpahin itu anak hilang beneran or loe yg diculik org biar tau loe rasanya malu yg gw dpt krn udh heboh ngumumin ke org2 kl anak loe hilang !!!

    Tuhan gak prnh tidur semoga tuhan dngr sumpah gw ,amien

  • Hanz :

    @dina shintara: Jangan nyumpahin anaknya ilang donk. Dia ngerti apa sih? Gue sih berharap film The Real Pocong anjlok total dan promosi ini gagal total dan justru jadi boomerang buat dia. Mungkin para pembuat ide marketing ini sengaja ingin raise awareness film itu. Ato mungkin emang mereka pingin bikin kita marah? Whatever the reason, ini cara yang sangat menyesatkan publik.

    Mending kita boikot aja film nya!!

  • fbs :

    saya juga ketipu.
    saya kira kita harus melaporkan bahwa website nya ini: http://www.dimanalaura. com. di banned atau dihapuskan.
    ada yang tahu bagaimana cara menghubungi service provider (host) dari website ini?
    juga badan yang menangani hal seperti ini?

    kalau webssite ini sudah terhapus atau tidak bisa diakses, maka akan berkurang orang yang ketipu.

    terima kasih media-ide.bajingloncat.com sudah memuat hal ini dengan cepat.

  • Wawab :

    IMHO:
    Ini iklan yang sangat tidak etis…
    Bayangkan kalau nanti ada website anak hilang beneran dan orang2 jadi ngga mbantu, bahkan ga baca isinya karena mikir “weleh.. paling juga iklan…”

    parah…

    GW setuju ama HANZ!!!! BOIKOTT!!!!
    (pdhl dr dulu jg ga pernah nonton pelm ga mutu gini sih.. hehehe…)

  • dony :

    iyah sangat tidak etis 🙂
    ah sudahlah

  • leksa :

    dari semua viral marketing online sebuah Movie,
    yang termasuk sukses dalam membangun frame berpikir, memasukkan dunia dan latar belakang film ke pikiran pemirsanya, bahkan melengkapi segala informasi seputar dunia film nya ,… adalah film Dark Knight – Batman.

    Yang gue baca, lebih 20-an website tentang KOta Gotham, kampanye anti kejahatan Jaksa “Two Face”, situs berita online kota gotham, sampai situs Psycho misterius yg mengarahkan persepsi visitor tentang Joker.

  • kamal :

    wah… ada ada aja ya caranya… unik juga. tapi mudah2an film2 pocong or kuntilanaka or genderuwo or lainnya yg dari Indonesia gak ikut2an film ini dengan promosi kayak gini… males banget dah…

  • Wuri :

    Cara promosi yang sangat TIDAK ETIS !!!!

  • joe :

    kreatif deh, btw anaknya cakep …

  • biro jasa :

    jangan main-main dengan iklan anak hilang..coba perhatikan emosi keluarga yang anak nya hilang..full emosi

  • Media Ide » Blog Archive » Karakter Fiktif dalam Social Media :

    […] Sepertinya aksi Sarah Aprilia ini mengilhami Daun Muda Award 2009, dimana diadakan kontes untuk membangun karakter fiktif di ranah maya. Para peserta menciptakan karakternya sendiri (tanpa harus ada relevansi dengan suatu brand) dan mengembangkannya melalui berbagai kanal social media. Beberapa karakter menuai kontroversi karena malah membangun kampanye bernada negatif, seperti seorang karakter yang menderita sakit kanker dan akhirnya meninggal. Sesuatu yang awalnya menuai rasa simpatik, namun malah mendapat cercaan karena ketahuan kalau karakter yang dibangun adalah palsu. Hal ini tentunya berbahaya kalau karakter tersebut merepresentasikan sebuah brand. Cerita lainnya tentang kampanye negatif yang berbalik arah menyerang brand adalah kisah Laura yang hilang, yang ternyata diculik dalam film Pocong. […]

  • roro :

    saya sepakat dengan siapa tadi ya
    “Orang kita Indonesia memang kurang kreatif. Masa cerita2 horror yang selalu di angkat di layar lebar. Padahal harusnya film-film yang mendidik yang harus sering ditayangkan. Misalkan saja cerita kepahlawanan Pahlawan Bangsa, Kisah pejuang pahlawan bangsa Sisingamangaraja dll, Orang2 berjiwa besar, “Traumatika Korupsi” – efek jera, Pemersatu Bangsa : Gajah Mada, dll.

    Majulah bangsaku. ( Ini bukan iklan kampanye yang cuman muncul jadi orang baik pada saat kampanye ) wakakakaa”

    Ini klise tapi sekiranya hal ini disadari oleh media-media di Indonesia,saya yakin kita akan mengubah wajah Indonesia menjadi lebih beradab.
    Televisi, game, iklan, web dan semua yg kita tonton, dan kita berinteraksi dengannya adalah teman. Bahkan media cetak, majalah , koran dsb. Teman berbagi. teman ada yg baik dan ada yang buruk.
    Namanya juga teman kita bisa saling mempengaruhi.
    Siapa yg lebih kuat mempengaruhi yang lebih lemah.
    Di layar televisi atau layar lebar, di mana posisi corong adalah layar, dia berposisi sebagai komunikator. Sedangkan audiense sebagai komunikan. Maka arus informasi berjalan dari layar ke audiense. Sedangkan di balik layar ada ide sutradara, keinginan profit produser, keinginan tenarnya bintang film dll. tapi yg paling kuat di sini adalah ide cerita/narasi.
    Bila kita ingin Indonesia bangkit dari keadaanya sekarang maka ide cerita yang disebar melalui media-media layar harus yang bersifat memotivasi posistif, membangun kepedulian, kebanggaan sebagai bangsa yang pernah memiliki pahlawan2 yg berdedikasi untuk rakyat, umat dan generasi penerus.
    Begitu juga dengan pemberian award-award. Award harus lebih banyak untuk yg berprestasi dalam membangun, mendidik, mengasuh dan mengayomi. Mungkin award spt itu dah banyak tapi lagi2 media lebih memblow up event penghargaan yg rating oriented. Yang level-levelk seleb lah. Trus gosip-gosip yang mludak sehari-hari, Itu sadar ga sadar mendidik orang Indonesia yg betaaaah banget sama tv untuk belajar pinter ngintip kehidupan orang lain, trus nggosipin trus ngeramal deh ntar siapa yg menang lawan siapa, njelek2 in yg satu.

    ah udahlah

    Ini sebetulnya garapan besar. sampe ibu-ibu yg pengen anak2 nya jadi orang yg lebih berpotensi besar ngelarang anak2 nonton tv saking sedikitnya pengaruh positif dari tuh layar.

    Ayo lah, berubah.
    Sekira nya uang yang kita tuju, percaya deh… terpuruk, nubruk, nyusruk, druk druk…

    Mari!

  • ardhan :

    waduh,, ampe segitunya, niat amat dah

  • utari :

    weww…kreatif bgt..salut..salut

  • erick prima :

    waduh saya tidak tau coba tanya anaknya aja…ok…

  • Karakter Fiktif dalam Social Media | Marketeers :

    […] Sepertinya aksi Sarah Aprilia ini mengilhami Daun Muda Award 2009, dimana diadakan kontes untuk membangun karakter fiktif di ranah maya. Para peserta menciptakan karakternya sendiri (tanpa harus ada relevansi dengan suatu brand) dan mengembangkannya melalui berbagai kanal social media. Beberapa karakter menuai kontroversi karena malah membangun kampanye bernada negatif, seperti seorang karakter yang menderita sakit kanker dan akhirnya meninggal. Sesuatu yang awalnya menuai rasa simpatik, namun malah mendapat cercaan karena ketahuan kalau karakter yang dibangun adalah palsu. Hal ini tentunya berbahaya kalau karakter tersebut merepresentasikan sebuah brand. Cerita lainnya tentang kampanye negatif yang berbalik arah menyerang brand adalah kisah Laura yang hilang, yang ternyata diculik dalam film Pocong. […]

  • Media Ide » Blog Archive » Saat Selebriti Menghilang… :

    […] Dahulu pernah ada kampanye film The Real Pocong, yang diawali dengan isu seorang anak bernama Laura yang hilang. Segala hal yang menyangkut emosi memang beresiko tinggi. Banyak orang yang sudah terlanjur peduli […]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge