Home » Online Living

Popularitas Twitter di Indonesia

12 May 2009 15,365 views 30 komentar

Pengakses tertinggi situs microblog Plurk kini adalah Indonesia. Berdasarkan versi Alexa, 23,5% kunjungan ke Plurk adalah dari Indonesia, selanjutnya diikuti oleh Amerika Serikat (17,5%)dan Filipina (13,6%). Popularitasnya memang menanjak, karena kebiasaan pengguna kita yang suka ikut-ikutan dengan yang sudah lebih duluan menggunakannya.

Microblog Twitter, pendahulunya, malah ketinggalan, karena jumlah penggunanya di Indonesia pun belum sebanyak Plurk, meskipun Twitter begitu populernya di Amerika Serikat. Namun bisa jadi kondisi itu akan berubah di beberapa bulan mendatang, karena entah kenapa popularitas Twitter di Indonesia mulai meningkat belakangan ini. Katanya, sekarang pengguna Twitter di Indonesia sudah mencapai 15.000 1.500 orang (mohon koreksi kalau salah ya).

Perhatikan saja data dari Google Trends berikut yang menunjukkan peningkatan tren pencarian kata twitter dan situs twitter.com, sementara kata plurk dan situs plurk.com cenderung statis.

Lalu apa yang menyebabkan peningkatan popularitas Twitter ini? Salah satunya mungkin disebabkan karena promosi aktif para penyiar radio yang juga pengguna Twitter. Belakangan ini coba dengarkan beberapa radio ternama, seperti Hard Rock dan Prambors. Mereka terbuka untuk kenalan, tanya-tanya, dengan para pendengarnya melalui Twitter. Di antaranya misalnya: @pandji, @iwetramadhan, @steny_agustaf, @larasati, @andiraa, @mrshananto, dari Hard Rock (sumber: @taufikn). Suara figur seperti penyiar tentu lebih mudah menarik minat pengguna baru. Mereka yang belum kenal Twitter minimal akan mencobanya terlebih dahulu.

Tren yang menunjukkan popularitas Twitter menanjak juga bisa dilihat dari semakin banyaknya brand lokal yang ikut memiliki akun Twitter. Ada @vivanews, @kompasdotcom, @thejakartaglobe yang rutin mengirimkan tautan terakhir dari berita di portal masing-masing (agak membosankan memang). Ada yang memanfaatkan individu seperti @jalansutera untuk mewakilkan informasi berita dari tempatnya bekerja (Tempo Interaktif).

Ada yang lebih “manusiawi” karena menyampakan pesannya ala pengguna Twitter lainnya. Isi Twitternya relevan dengan brand yang ia angkat, seperti yang dilakukan @lalights, @nike_id, @macworldid. Ada lagi yang memanfaatkan Twitter untuk menceritakan beragam program promosi dan event yang dilakukan oleh brand, seperti @pacificplace, @plazasenayan, dan @kinokuniya_jkt (sumber: @aulia)

Akankah peningkatan popularitas Twitter di Indonesia ini akan terus berlangsung? Kalau melihat pola yang sudah terjadi pada Plurk dan Facebook, sepertinya tinggal tunggu waktu saja. Asalkan para influencer aktif di Twitter, para fan-nya pasti akan mengikuti, karena seperti disebutkan di atas, pengguna Indonesia itu cenderung suka ikut-ikutan.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

30 komentar »

  • vetamandra :

    @lalights manusiawi? gak pernah bales reply dari followernya tuh. Bukan contoh yang baik tentang pemanfaatan twitter oleh sebuah brand

  • Rizki Adi :

    lagi sibuk mainan game terminator salvation di twitter

  • ierone :

    aku udah punya akun twitter cuman jarang kepake aja

    @eeronebangetz

  • Pitra :

    @vetamandra: wah kalo dibales ndak dibales, ndak tau saya.. 😀 tapi setidaknya dibuat oleh orang, bukan di-generate oleh mesin seperti @vivanews atau @kompasdotcom

  • mr.bambang :

    aku jarang mbales di twitter, kadang suka lupa. Beda dengan di Plurk yang cenderung lebih banyak dibaca dan mudah ngasih komen 😀

  • Aulia Masna :

    @anakcerdas @thejakartaglobe itu diupdate staffnya dan lumayan sering interaksi juga kok. Kalau news links memang pakai twitterfeed. Selain itu @blitzmegaplex juga selalu bales setiap @ reply yang dikirim ke mereka.

    @blitzmegaplex & @thejakartaglobe itu dua brand yang tingkat interaksinya cukup tinggi. Selama ada yang kirim message ke mereka, pasti dibales.

    JG juga pakai Twitter untuk segmen Your Say di korannya, jadi selain dari pertanyaan in person, sms, atau email, mereka pakai Twitter.

  • Aulia Masna :

    Oh iya, penyiar masih ada lagi @anto_nugroho & @dagienkz yang siaran di Otomotion 97.5 tapi mereka cross post Plurk ke Twitter.

    Kalau penyiar/mantan penyiar yang murni di Twitter ada juga @sesanasution, @yudhaperdana, @wartong (warman nasution) & @imamdarto. Speaking of which, mereka semua masih siaran ga ya? Udah lama ga dengerin Prambors.

  • Aulia Masna :

    Baru ngeh juga. Itu rank Twitter traffic di Indonesia nomer 77 sedangkan Plurk nomer 164, berarti biarpun pengguna Plurk jauh(?) lebih banyak daripada Twitter di Indonesia, jumlah akses ke Twitter masih lebih tinggi daripada Plurk?

    Interesting.

    Twitter user berarti jauh lebih bawel dong ya? Wakakakaka!!

    Btw, jumlah 15 ribu itu dari mana Pit?

  • Pitra :

    @aulia masna:
    ini pakarnya twitter yg ngomong, jadi saya percaya aja..:D
    kalo @sesanasution, @yudhaperdana, @wartong (warman nasution) sudah nggak di Prambors. Tapi @imamdarto masih.
    N, ups koreksi, bukan 15 ribu, tapi 1.500 user, ini dari obrolan kemarin di Twitter. Ndak nemu sih cara cari realtime user Twitter dari Indonesia.

  • Dita Firdiana :

    ooo untuk ini toh survey di twitter beberapa hari yg lalu…

    wogh… ari daging punya plurk… ke tekapeh… *slurp*

  • ChaCha :

    klo ikut2an kan emang udah biasa…
    tapi plurker cenderung lebih loyal (baca: idealis)
    iya ga sih?

    hehe
    **dilemapar bata

  • Anggun Prasetya :

    Aku lebih suka Twitter, karena Twitter nggak ada sistem karma yang jahat, nggak ada emoticon-emoticon jelek, dan nggak perlu buang2 waktu ngecek satu-persatu respon dari tiap2 thread yang pernah kita komentari. Paling males kalau ada yang ngerespon thread cuman pake emoticon, apalagi kalau ternyata dia bot. Beugh!

  • Aulia Masna :

    Di Plurk itu kebanyakan nge-junk, reply yang ga jelas dan ga penting (dancing banana? plis deh). Kalaupun ada diskusi yang berarti dan bermakna, jumlah junk reply terlalu banyak jadi turn off, selain itu horizontal timeline dan pemakaian flash yang berlebihan juga jadi faktor kenapa sebagian besar peminat socnet ga nyaman pakai plurk.

    Positioning setiap post yang selalu berubah di timeline juga bikin cape bacanya.

    Kalau dibilang pengguna plurk lebih loyal, enggak juga rasanya. Di mana loe ngerasa nyaman, di situ lah loe nongkrong, kalau temen2 loe di plurk, jelas2 loe bakal hang out di sana, tapi kalau banyak di Twitter, ya di Twitter lah loe nangkring.

    Lucunya, gue udah ninggalin Plurk berbulan2, masih aja ada yang kirim friend/fan request (kebaca di email).

  • Waraney Rawung :

    Gua pake Plurk dan Twitter, dan suka dua-duanya. Lebih fokus ke Twitter sekarang, karena sangat membantu pekerjaan. Di Plurk emang cenderung lebih nyampah sih. Hehehe. Lumayan ngilangin stress, asal dibukanya pas jam2 menjelang pulang kantor.

    Kebetulan banget Pit, gue baru nulis soal @vivanews_com (dan lo udah nge-reply). Sayang banget kalo punya Twitter tapi cuma buat newsfeed tanpa interaksi. They don’t know what they’re missing. Gue suka @jakartaglobe, jadi penasaran sama @blitzmegaplex.

    Jadi inget juga, belum lama ini ada brand yg bikin Twitter account, trus hampir terjebak mirip bot. Agaknya setelah disindir, mulai ganti strategi jadi lebih manusiawi. Hehehe…

  • Syahran :

    Gue gak ikut-ikutan ahh… Freindster dan Facebook aja bingung mo diapain…

  • zam.web.id :

    nggak nyangka, tahun2 mendatang mungkin indonesia bisa jadi pasar potensial untuk web 2.0

  • Ollie :

    Yeah! Berarti tepat deh keputusan gue kembali ke twitter :p Follow me yah… @salsabeela :p

  • Tomy Rusmansjah :

    jangan lupa mas @itbofficial buat mengetahui berita terbaru dari ITB.

    dan yang berita centilnya ada juga yang gak official di @itb1920 he he he…

    regards,
    @matasapi

  • penjenguk :

    wahhh nice inpo nihh.. keren ada bukti otentiknya…….. ikutan plurk juga ahhh…. @penjenguk

  • Adhityani Arga :

    Bagus banget nih info. Keep em coming! Setuju kalau brand mau komunikasi pake twitter harus ada sentuhan manusianya. Salut untuk @blizmegaplex untuk soal itu.

  • daekha :

    hohooo……..

    enk jg join d twitter..

    wkwkkw,,,,,,,,,,

  • JalanSutera.comâ„¢ :

    account twitterku di-suspend gara-gara membanjiri twitter menggunakan twitterfeed.

  • Rahmat :

    leh gabung

  • Endydib :

    ikutan nebeng nih

  • evi :

    msh awam, tapi lumayan ngrasain punya akun twitter meningkatkan trafik dari luar.

  • ENDYDIBYANTORO :

    salam kenal semuanya di FC

  • (Open) Case Study: Sisi Gelap Perkembangan Twitter di Indonesia :

    […] bulan mei, blog media-ide menulis sebuah entry mengenai kepopuleran twitter di Indonesia yang makin meningkat. Di sana disebutkan bahwa salah satu alasannya mungkin adalah banyaknya public […]

  • SAMSIAH :

    Ikutan dunk

  • Dhanis :

    Punya twitter nggak cuma buat update status aja, tapi juga bisa buat informasi dan sharing lagu, foto, ataupun musik baru yg kita punya. Useful banget! 🙂

    follow me: http://twitter.com/dear_dhanis

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge