Home » Creative Works

Tentang Menulis Buku

25 June 2009 7,109 views 19 komentar

Mungkin ada yang ingin tahu kenapa tiba-tiba orang yang belum pernah menulis buku ini sebelumnya tiba-tiba menelurkan 2 buku sekaligus? Baik buku “E-Narcism, Gaul dan Eksis di Internet” maupun “F-Marketing, Optimalkan Personal Image & Product Branding Anda” ini diterbitkan oleh Kanaya Press, yang merupakan lini penerbitan baru dari grup Trubus.

Kedua buku itu dibuat dalam waktu yang berbeda. Buku E-Narcism disusun selama 4 bulan lebih (dengan sekitar 2 bulan vakum karena kesibukan), sementara buku F-Marketing disusun sekitar 10 hari. Beda banget ya? Keduanya memang dimulai dari tujuan yang berbeda. Buku E-Narcism itu sudah dibuat draft-nya sejak awal Desember 2008, dan inisiatif penulisan memang dimulai dari diri sendiri.

Sementara, buku F-Marketing merupakan pesanan dari penerbit Kanaya Press. Begitu banyaknya buku tentang Facebook di pasaran, tapi tak satupun yang membahas sisi pemasarannya. Agar tak kehilangan momentum (mumpung Facebook masih menjadi tren), penerbit menargetkan agar buku bisa selesai ditulis dalam 2 minggu. Untungnya, karena cukup banyak tulisan di blog ini yang relevan dengan materi itu, materi buku bisa selesai lebih cepat dari jadwal yang ditentukan.

Sejujurnya, Ollie-lah yang menjadi panutan dalam hal ini. Ia bisa mampu menyelesaikan minimal 1 buku dalam sebulannya, dengan ia tetap rutin menjalankan bisnis toko retail dan online-nya (dan kini mengurus suami). Bingung juga, bagaimana ia bisa membagi waktunya, seakan-akan Ollie punya waktu 36 jam dalam sehari. Namun setelah menjalani sendiri, meski belum secanggih Ollie, ada 5 hal menarik yang bisa dijadikan tips:

Disiplin

Tentukan target jumlah halaman yang akan diketik setiap harinya. Ternyata menulis 5 halaman ukuran A5 satu spasi dalam sehari itu sudah melelahkan loh. Saat ide mengalir, mungkin tidak menjadi masalah. Namun saat mengalami kebuntuan, mengisi 2 halaman pun susahnya setengah mati. Hal yang bisa dilakukan adalah memaksa diri. Menulis buku non fiksi punya keuntungan. Anda bisa meloncat-loncat ke sub bab lainnya tanpa perlu khawatir cerita menjadi tidak menyambung. Saat kebuntuan menimpa Anda di sub bab A, alihkan perhatian dan cobalah meneruskan isi sub bab B. Intinya, target halaman per hari pun tetap bisa tercapai.

Membagi waktu antara konten berbobot sulit dan mudah

Membahas contoh kasus lebih mudah daripada menulis hal-hal yang berhubungan dengan teori dan konsep. Untuk teori dan konsep, Anda perlu melengkapinya dengan studi referensi. Bila hari itu Anda mengalami kekalutan pikiran (karena mungkin pikiran tersita pekerjaan), tulislah hal-hal yang berbobot mudah. Saat Anda sedang santai dan bisa berpikir jernih, tulislah konten yang berbobot sulit. Kalau diperhatikan, baik buku E-Narcism dan F-Marketing banyak sekali contoh kasus, karena memang materi seperti itulah yang lebih mudah dibuat saat diri berkecamuk deadline pekerjaan.

Jangan terlalu memikirkan tata bahasa dan EYD

Terkadang saat menulis, fokus perhatian malah lebih pusing memikirkan tata bahasa yang enak daripada maksudnya. Memang sih keduanya berkaitan, tapi biarkan saja tulisan mengalir lebih dahulu. Kalau target halaman sudah tercapai, barulah Anda baca ulang, dan perbaiki sana sini. Jangan terlalu memikirkan pula mana kata yang italic, dan mana yang bukan. Biarkan saja. Toh di pihak penerbit nanti akan ada editor yang akan membantu memperbaikinya.

Referensi bahan

Jangan bingung kalau kehabisan materi bahasan. Banyak sekali referensi bahan di internet yang (sebenarnya kalau mau) tinggal Anda baca, pahami, dan tulis ulang. Tentunya dalam menulis ulang, masukkan pemikiran-pemikiran pribadi, sehingga Anda tak sepenuhnya menjiplak dan menerjemahkan. Pilihlah bahan mana yang relevan dengan kondisi saat ini, karena biasanya tulisan yang berhubungan dengan dunia IT cepat sekali ketinggalan zaman. Jangan lupa untuk menulis kredit untuk semua referensi tulisan yang Anda pakai.

Lengkapi dengan visual

Visual penting untuk melengkapi cerita. Visual juga membuat halaman terlihat lebih banyak supaya buku terlihat tebal (hehehe). Sekedar usulan, lengkapi visual setelah selesai menulis buku. Fokus utama Anda tetaplah pada penulisan konten. Anggaplah membuat kelengkapan visual sebagai bonus Anda dalam menyelesaikan isi konten yang jauh lebih berat.

Kredit foto: signora oriente

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

19 komentar »

  • suprie :

    wah boleh nih, bikin buku apa yah enaknya …

  • Catatan Kusam :

    jadi pengen nulis buku..

  • my blog 4 famouser dot com :

    jadi pengen nulis buku juga.
    tapi nulis apa ya?

  • Fikri Rasyid @ Bloggingly :

    Hahay, tips ini dia yang saya nantikan 😀

    Thanks y Bang Pitra 😀

  • didut :

    hehehe~ ya intinya begitulah pit *lagi dikejar editor juga* 😛

  • Billy Koesoemadinata :

    setuju pit, kalo nulis buku emang perlu disiplin dan juga yang penting adalah nulis.. terus.. terus..

    karena nulis buku itu beda sama nulis di blog maupun juga artikel di media massa.. kalo di buku, perlu sambung-menyambung dari awal sampe akhir yang demikian panjang.. sementara kalo di blog maupun media massa, terkadang bisa satu-putus.. meski ga nutup kemungkinan bahwa tetep bisa bersambung 😉

  • Fenty :

    nice tips 😀

    disiplin itu yang sulit sampe sekarang tulisanku cuma baru nyampe bab 2 doang, hahahaha, padahal udah 3 tahun buat :p

  • Heriyadi Yanwar :

    Saya nulis biografi Pitra deh

  • Pitra :

    @Heriyadi: hayah, gak ada yg beli.. Penerbitnya juga sayang uang nerbitin kayak gituan.

    @Fenty, @Didut: Lanjutkan!

    @Billy: format cerpen elo yg di blog satunya (yg nyeritain perjalanan) ok juga loh.

    @lainnya: ayo dimulai, dengan topik yg familiar dengan dunia kalian sendiri.

  • Japestinho @ Bloggingly :

    Wah tips yang sangat mantap mas. Kalo dilengkapi konsistensi bisa juga mungkin ya mas apa sudah termasuk dalam disiplin itu 😀

  • mawi wijna :

    hihihi boleh juga dijadikan referensi buat impianku membukukan batu, he3

  • Eddy :

    Dear Sir, apakah tertarik me review Biindit.com ( PPC terbaru di Indonesia ) di blog anda ?

    Terima kasih

  • Arham Haryadi :

    mau kritk nih Pit. kok e-narcism ngak semarik F-Marketing yah ? 🙂 apa karna passion gw di marketing kah

  • Pitra :

    @Japestinho: konsistensi = disiplin kalau di bahasan di atas 🙂

    @wijna: iya tuh, sepertinya membukukan cerita yg berhubungan dengan wisata candi belum pernah ada.

    @eddy: haha, belum tau Mas, gimana ntar.

    @Arham: eh, cerita2 dong gak menariknya di mana? Soalnya E-Narcism itu memang bukan buku marketing ato branding loh..

  • Riawan Tamin :

    menarik pit.. thx utk tipsnya :D..
    tips yang sangat membantu :)..

  • arham blogpreneur :

    yang gw liat di E-narcism itu pemetaan social media dan bagaimana social media untuk membangun eksistensi diri kita di ranah maya. Blog, forum internet, situs-situs Web 2.0 lain.

    masalahnya gw abis baca “all marketers are liars” disana, penyampaian beritanya seperti cerita sedangkan di e-narcism kadang seperti berita yang taktis dan strategis kadang seperti how to yang teknis, untuk yang terakhir ini mungkin ngak disengaja, karna tujuannya memang strategi bukan teknis… in short , terkadang dalam suatu pembahasan yang menarik tiba tiba sense nya lepas gtu ajah…

    oia soal “all marketers are liars” , ngak ada maksud ngebandingin lho.. 🙂 smoga bisa jadi masukan yah 🙂

    cheers

  • muji :

    Saya juga sudah punya ide banyak, tapi kok belum semangat buat ditulis ya?
    tapi sekarang saya berusaha untuk disiplin, biar buku saya segera terwujud. Amin

  • Alfisyahrin :

    Jadi semangat pengen nerusin draft lagi nih mas. Memang motivasi itu kadang naik turun, makanya mumpung lagi naik mesti dimaksimalkan nih…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge