Home » Online Branding

Saat Brand Berkampanye Melalui Channel Social Media

8 July 2009 7,511 views 10 komentar

Sampai sekitar 3 tahun lalu, saat portal informasi masih menjadi tujuan utama pengguna internet Indonesia, pola berkampanye brand di ranah daring masih menggunakan pola sama. E-Advertising mereka lakukan dengan cara memasang iklan brand di spot-spot portal dan membayar sewa spot itu selama minimal sebulan. Tak beda dengan apa yang brand lakukan di media cetak dan televisi. Sekeren-kerennya desain brand, informasi yang disampaikan masih tetap satu arah, dari produsen ke konsumen.

Perkembangan selanjutnya, desain brand semakin interaktif, dengan perkembangan rich media banner. Pengguna bisa berinteraksi, bermain game, mengirim data via form di dalam brand, dan mendapatkan pengalaman lebih dari sekedar menatap pasif iklan. Bahkan ada beberapa situs yang menawarkan untuk mengubah desain tampilan portal agar relevan dengan tema kampanye brand.

Meski dengan rich media banner, interaksi terasa lebih kaya, namun pesan yang diberikan masih dominan disampaikan oleh brand. Pengguna belum bisa merasakan pengalaman yang membuat iklan yang disampaikan itu menjadi terasa lebih personalized. Tidak ada yang membuatnya menjadi khas sesuai keinginan pengguna. Kalau diizinkan, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 1.0. Komunikasi yang terjadi masih cenderung satu arah, bersifat top-down.

Saat blog tumbuh pesat dan gaungnya membesar sejak tahun 2007, brand secara perlahan-lahan mulai melirik ini sebagai salah satu channel potensial. Meski masih meraba-raba, beberapa brand ternama mulai mencoba meraih atensi para narablog (blogger). Sebutlah PT Toyota-Astra Motor, sebagai brand pertama yang menyelenggarakan gathering makan siang bersama para narablog. Karena ini merupakan hal baru, para narablog pun antusias menghadiri acara dan melakukan reportase tulisan di blognya. Ada pula yang mengadakan kompetisi blog, dengan harapan nama brand itu disebut di banyak blog. Secara tidak langsung para pembaca blog yang ikut dalam kompetisi itu pun aware akan kegiatan brand tersebut.

Sekarang saat Facebook menjadi situs yang paling banyak dikunjungi pengguna internet Indonesia, pola kampanye brand pun semakin bergeser. Istilah social media marketing pun mulai dikenal. Kalau dahulu brand berkampanye dengan membuat situsnya sendiri, kini tak lengkap kalau kampanye itu tak terintegrasi dengan Facebook. Bahkan kini ada brand seperti BNI yang hanya berkampanye di dalam Facebook, tanpa membuat situs kampanye tersendiri. Kalau dulu pengunjung diminta untuk datang ke situs kampanye brand, kini eranya brand yang mendatangi dimana para pengguna internet biasa berkumpul.

Melalui blog, Facebook, lalu Twitter dan YouTube, setiap program kampanye dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi pengalaman unik setiap individu yang berpartisipasi. Dari sisi pengguna pun terasa lebih nyaman, karena mereka lalu tidak melihatnya seperti iklan. Mereka melihatnya sebagai salah satu fungsi yang umumnya mereka lihat saat sehari-harinya mereka beraktivitas di social media. Apalagi kalau program yang dilakukan brand menunjang E-Narcism mereka. Iklan terlihat lebih halus, dan lebih disukai para targetnya. Melalui kampanye seperti ini pun, brand bisa terlibat dalam percakapan dengan para penggunanya. Brand tentu harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, karena percakapan tak bisa dikendalikan sepenuhnya lagi oleh brand. Nah, kalau diizinkan lagi, E-Advertising era masa ini bolehlah disebut sebagai era E-Advertising 2.0.

Sedikit gambaran mengenai perbandingan E-Advertising 1.0 dan E-Advertising 2.0:

E-Advertising 1.0 bersifat satu arah, hanya dari brand menuju konsumen, sementara E-Advertising 2.0 bersifat dua arah. Konsumen yang terlibat dalam percakapan dengan brand menyebarkannya ke teman-temannya yang lalu ikut pula melibatkan diri dalam percakapan dengan brand.

Baca juga tulisan tentang E-Cosystem untuk mendapatkan gambaran skematik besarnya.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

  • jidat :

    wah saya setuju kalo sekrang adalah masa E-Advertising 2.0.
    lanjoedkan!lebih cepat lebih baik yang pro rakyat! he

  • ierone :

    saatnya memperkenalkan ierone sebagai brand

  • Hendrik Yulianto :

    siip lah saya setuju sekarang era E-advertising 2.0..mantabz….

  • Lex dePraxis :

    Tepat sekali. Give the megaphone, eh? πŸ˜‰

  • Andy OrangeMood :

    Weeesss, brand besutan gua di sebut disini… :p

    Terus terang gua pribadi bisa bilang BNI itu berhasil, untuk sebuah brand yang not sexy, old, corporate, sound bulky dan berbau-bau goverment, BNI berhasil merangkul audience di Facebook. 9,000 ++ fans dalam 4 minggu is WOW!… coba bandingkan dengan brand lain yang bahkan lebih sexy dan sudah lebih dulu bermain… (ngga perlu sebut lah yaw…:p )

    Banyak faktor yang perlu dipelajari, tetapi yang paling penting adalah sangat “open mind” nya mereka yang gua salut… berbeda dengan beberapa pihak yang sering menganggap social media marketing mudah dilakukan dan bisa dilakukan sendiri yang pada akhirnya ketika mereka melakukan mereka gagal atau lebih parahnya tidak melakukannya dan competitor selangkah lebih maju.

    The point is when you want to jump to social media, make sure you learn and listen your audiences. Get an expert on your side will be much better who already understand and experience. πŸ™‚

  • Raffaell :

    Yoi, yang ke 2.0 lebih multi koneksyen yah, hehehehehe saya sih senang yang b2b aja langsung, biar jger…

  • arham blogpreneur :

    selamat ya Pit… kayakna mau bikin buku E-advertising πŸ™‚

    sekadar saran, tampaknya perlu dipertajam dan diperbanyak study case nya.

    namu perbedaan E-advert, buat saya sendiri online startegy mengarah ke sifat 2.0 yang mana berbasis community. Persisnya dengan Community ini, efek viral dan mouth to mouth marketing berlipat lipat lebih dahsyat dibanding marketing / adverts 2.0 yang hanya bersifat vertikal..lebih dari itu lewat social media marketing dan menemukan segmentasi, akan lebih manusiawi dan warmly untuk prosumer.

    tapi kalau ngeliat pilpres kita baru baru ini,apa consumer kita sudah benar2 mampu digiring dengan advert 2.0 ?

  • Pitra :

    @Andy:
    Iya ini contoh kasusnya pake brand BNI, yg keinget cepet pas nulis ini, brand itu soalnya. Social media marketing memang susah sih, banyak faktor yang harus dilihat. Kalau dulu cuma mantau 1 microsite, sekarang yang dipantau banyak site, masing2 dengan cara mengukur yang beda2 pula.

    @Raffaell:
    hihi, kalau B2B sepertinya kurang relevan dengan model di atas, karena di atas lebih tepat kalau untuk B2C sebetulnya.

    @Arham:
    Ini masih sambil nyusun draft pemikiran kok. Makanya nggak detil. Kalau detil per kasus pasti akan ada di buku yang (masih berencana) mau disusun.
    Kalau dilihat dari kemarin, dan berdasar perkataan tim sukses salah satu capres kemarin, menggunakan internet utk kampanye pilpres masih jauh dari berhasil. Wong kita ini gak sampai 10% penduduk Indonesia kok. Grass rootnya jauh lebih banyak, dan suara mereka lebih dominan. Untuk grass root, kampanye pun masih tetap berfokus pada pencitraan figur, dan bukan enrichment materi kampanye.
    Namun kalau melihat pertumbuhan pengguna internet, saya sih optimis 2014 kampanye politik di di era 2.0 benar2 akan terwujud.

  • Pandu :

    benar sekali, oh yah tapi bagaimana ya mengukur keberhasilan e-advertising 2.0 tersebut baik secara kuantitatif dan kualitatif?

    mungkin klo kuantitatif dengan melihat statistik web, jumlah hit, visitors, dll…

    klo dengan kualitatif, pembicaraan/diskusinya bertone positif.

    atau mungkin diadakan e-survey?

    ^_^ada pendapat lain?

  • Astho :

    our customers are our marketer…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge