Home » Online Communities

Gempa dan Social Media

2 September 2009 7,551 views 10 komentar

Sekitar jam 14:55 tadi terjadi gempa, yang diikuti dengan gempa susulan 2 kali dengan skala lebih kecil, di selatan Laut Jawa. Dampaknya terasa di pesisir selatan Jawa hingga pusat kota Jakarta (yang nulis ini sedang berada di lantai 26 saat terjadi gempa). Seperti biasa, sesuatu yang memiliki dampak besar akan ramai dibicarakan di ranah social media, tak terkecuali di Facebook, Twitter, dan Plurk.

Inilah sebagian percakapan yang bisa disimak di Facebook Search.
facebook_search_gempa

Berikut ini adalah tren percakapan yang terjadi sehubungan dengan gempa, diambil dari Trendistic. Jam 15:30 menunjukkan puncak terjadinya pembicaraan seputar gempa.
twitter_gempa_trendistic

Kalau ini diambil dari TweetStats. Kata “gempa,” “earthquake,” “jakarta, “tasikmalaya,” dan “indonesia” terlihat mendominasi tren selama 3 jam sejak pukul 15:00.
twitter_gempa_tweetstats

Dan terakhir berikut ini adalah tren percakapan yang terjadi di Plurk.
plurk_gempa

Titik gempa terakhir bisa dilihat di widget berikut ini:

Percakapan yang terjadi sebagian besar serius. Namun ada yang bercanda yang menganggap gempa sudah menjadi klaim negara tetangga. Sayangnya tidak semua media pintar menyortir mana yang serius dan mana yang guyon. Cek saja kebodohan Kompas yang mengira gempa ini diklaim oleh Malaysia. Bisa jadi sih maksudnya bercanda, tapi rasanya peristiwa gempa bukanlah hal yang pantas dijadikan sebagai bahan gurauan, apalagi untuk media sekelas Kompas.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

  • pepoluan :

    Lha? Artikel Kompas nya ndak dibaca, mas?

    Artikelnya bersifat tongue-in-cheek, dan diawali dengan “pengguna internet dari Indonesia ternyata masih jengah dengan tingkah Malaysia”

    Sepertinya Anda nih yang kurang teliti dalam membaca.

    Jadi… salah siapaaaa hayoooo… πŸ˜€

  • ierone @ myblog4famouser.com :

    Lagi enak-enak ngobrol, ada gempa
    ya pada cepet-cepet keluar menyelamatkan diri

  • lukman :

    @pepoluan

    saya kira judulnya itu yang provokatif, walau isinya informatif, rasanya tidak cocok jadi judul sebuah berita, IMO

  • mawi wijna :

    hiiii, gempa kemarin bikin sensasi di media daring karena warga Jakarta juga merasakan. Coba kalau gempanya di Mentawai sana, pasti ndak seheboh kemarin.

  • Jauhari :

    Gempat itu UJIAN,COBAAN, MUSIBAH hanya yang mengalami yang bisa mengambil hikmah dan pelajarannya…

  • ipied :

    social media paling mudah dijangkau, dan jadi wadah sharing informasi tercepat πŸ™‚

    mudah2an ada filter penyaringan informasinya ya, biar gak ada kesalahan info, atau mungkin propaganda.

  • hedi :

    seharusnya kita (pengguna social media) pun tidak menggunakan guyonan (apalagi yg cynical) dalam situasi seperti ini

  • zam :

    utk artikel kompas, menurutku kompas ndak bisa disalahkan dan dianggap membuat lelucon. salahkan juga dong para pengguna sosial media yang meneruskan “lelucon” ini sehingga seolah-olah jadi “berita beneran”. dan kalo baca di Kompas, kompas juga sudah menjelaskan bahwa apa yg ada di social media itu hanya “candaan” dan bermaksud mengklarifikasinya. πŸ™‚

  • dita.gigi :

    lagi ngtrend pit… lagi ngetren… πŸ˜†

  • arham blogpreneur :

    Yah…ampun Pit, lo sempet sempetnya cari data begini.. saloute πŸ˜‰ …

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge