Home » Online Living

Dari Diary ke Dunia Daring

15 October 2009 6,761 views 23 komentar

diaryIni sebenarnya adalah catatan materi presentasi FreSh minggu lalu. Ceritanya kemarin memang tentang bagaimana perempuan menyimpan catatan curhatnya via diary. Setelah sebelumnya sempat tanya ke beberapa perempuan di Plurk dan Twitter, ternyata masih ada dari mereka yang kini masih menulis diary, meski mereka juga memiliki blog.

Menurut pengakuan beberapa dari mereka, ada yang menulis diary dari sejak SMA, dan menyimpannya hingga berjilid-jilid diary. Isinya murni curhat atas kejadian yang baru saja mereka alami. Sesuatu yang sifatnya sangat pribadi, sehingga bahkan keluarga mereka pun tak tahu apa isinya. Ada teman yang cerita pula betapa marahnya ia saat pernah menemukan orang tuanya membaca-baca buku diary miliknya.

Beberapa ada yang benar-benar beralih, memanfaatkan blog untuk media curhat mereka. Ada blog tempat mereka berbagi cerita kepada khalayak. Ada pula yang memiliki blog pribadi, diberi password, supaya tak ada yang mengusik dan membaca kisah ceritanya. Ada pula yang memanfaatkan Facebook Notes untuk menyimpan cerita dan hanya bisa dibaca oleh teman-teman terbatas yang di-tag. Ada yang memanfaatkan Twitter dan Plurk untuk curhatan singkat, biasanya sih berupa rasa kesal, gugup, bahagia, atau perasaan apapun yang menghinggap di sanubarinya saat itu.

Banyak alternatif medium untuk mewujudkan ungkapan hatinya di ranah daring. Hal serupa berlaku pula dengan foto. Dulu masih sempat ngetren berfoto di dalam photobox dan memasukkannya di dompet. Kalau sekarang, mereka lebih senang menggunakan kamera ponsel, mengangkat kameranya ke atas kepala 45 derajat, memalingkan wajah, berekspresi imut, dan menjepretkan kamera ponselnya. Hasil fotonya? Langsung dari ponsel diunggah ke Facebook, atau dibagi ke temannya melalui koneksi bluetooth. Lebih cepat dan praktis.

Semua yang berawal dari diary yang tertutup kini semakin lama semakin terbuka. Cerita di blog pun beragam, dari pengalaman sehari-hari ke kantor, kuliah, kisah romantis, puisi, hingga yang serius seperti pengalaman profesional seseorang. Status update di Facebook, Plurk, dan Twitter sudah menjadi hal yang lumrah.

Meski bebas berekspresi di ranah daring, ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Setiap tulisan dan status update Anda akan dibaca oleh orang lain. Kalau tidak berhati-hati dalam menulis, bisa-bisa apa yang Anda tulis malah menyakiti hati orang lain (dan sialnya, dibaca oleh semua orang). Setiap tulisan dan status update itu mewakili karakteristik diri penulisnya. Melalui itulah, para pembaca di ranah daring mencoba memahami seperti apa kepribadian dan perilaku Anda. Kalau yang Anda tulis adalah sesuatu yang bermanfaat, para pembaca pun akan suka, bahkan merasa terinspirasi. Mereka akan selalu menantikan setiap tulisan terbaru Anda.

Dunia daring memang tempat untuk berbagi. Menulis diary itu memang bisa menenangkan beban pikiran. Semua emosi bisa ditumpahkan, dan Anda akan lega setelah semuanya tercurahkan. Namun, jangan lupa untuk menaruhnya di tempat yang tepat. Jikalah isi cerita sangatlah sensitif, taruhlah saja di diary pribadi Anda, di buku, atau di blog yang ter-password, sehingga tak terbaca oleh orang lain yang menjadi subjek diary Anda.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

23 komentar »

  • Tweets that mention Media Ide ร‚ยป Blog Archive ร‚ยป Dari Diary ke Dunia Daring -- Topsy.com :

    […] This post was mentioned on Twitter by anakcerdas, Media Ide. Media Ide said: When diary becomes publicly seen in the online world… http://bit.ly/1OU9Bw […]

  • zam :

    dan orang selalu beranggapan bahwa blog itu adalah diary yang online. blog dan diary itu menurutku beda banget. jadi, tidak semua yg bisa ditulis di diary bisa ditulis di blog..

  • hedi :

    Beberapa kawan wanitaku menulis catatan harian di blog, tapi dengan identitas anonymous, semua tulisan diolah sedemikian rupa (bila menyangkut tempat, nama atau kejadian). Jadi andai ada yang terkait dengan cerita datang, bisa saja tak tahu itu adalah ceritanya.

  • kilatista :

    kunjungan pertama dan berharap media ide sudi mampir ke gubuk saya. salam hangat

  • kanglurik :

    Wah yang di slide show kok kebanyakan cewek ya?? Secara general yang punya diary emang cewek si…

  • Pitra :

    @Zam:
    Betul Zam.. Kalau diary di buku terserah mau menulis apa, hanya si penulis dan Tuhan yang tahu ๐Ÿ™‚
    Tapi kalau di blog, kan sudah masuk ranah publik. Ada hal-hal yang perlu dipilah-pilah sebelum mengklik tombol publish.

    @Hedi:
    Hahaha, cara begitu juga bisa… ๐Ÿ˜€

    @Kilatista:
    Halo salam kenal untuk blogger Borneo ๐Ÿ™‚

    Kanglurik:
    Hihihi, memang Kanglurik punya diary toh? Katanya (katanya loh ini) kalau yang punya cowok, namanya bukan Diary, tapi namanya Jurnal ๐Ÿ™‚

  • Fenty :

    ah emang kenapa kalo cowok journal kalo cewek diary ?? itu kan cuma nama ๐Ÿ˜•

  • -GoenRock- :

    Eeeeng… Itu skrinsyut2 dari FB kok ndak disensor namanya? ๐Ÿ˜† *riwil*

  • ipied :

    dulu banget jaman esde pernah nulis diary tapi selalu gak pernah sampe habis bukunya.. hahaha males soalnya…. :p sekarang lebih senang ngeblog dan curhat lewat plurk atau twitter ๐Ÿ˜€ atau curhat sama temen langsung hehehe

  • mayasari :

    yang pasti, menulis adalah sebuah terapi untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan tekanan batin atas sesuatu. Apapaun media nya ndak jadi masalah, to….

  • uchie :

    Stuju ma pendapat mba may, terkadang, bisa kena gangguan jiwa kalo ga buru2 dilampiaskan..

    Walaupun ga bisa bikin tulisan yg panjang macam Pitra, tapi dengan menulis status yg isinya mungkin kaya gini “AAAAAAAARRRRRRGGGGGGGHHHHHHH” lumayan bisa mengurangi kebetean terhadap hal atau masalah atau orang yg lagi dihadapi apalagi ketika kita ga bisa menyuarakan isi hati secara terang2n (bete sama bos misalnya) pada saat itu ๐Ÿ˜€

  • oCHa :

    iya ik! ndak di sensor (nottalking)

  • Pitra :

    @Fenty:
    Biasanya sih kalau diary kan isinya semua emosi tertumpahkan. Nah, kalau jurnal ya seperti catatan kegiatan sehari itu saja, tanpa ada faktor emosi. Eh tapi saya nggak tau, ada nggak cowok yang benar-benar punya diary (lengkap dengan semua emosi dan curhat di dalamnya)? Saya tanya ke teman-teman saya yang cowok, nggak ada yg punya tuh soalnya.

    @Goenrock:
    hihihi.. gapapa dong. Yang di screenshot kenal semua kok (kecuali Farah Quinn)

    @Ipied:
    Boleh loh kalau dirimu mau curhat kepadaku…

    @Mayasari:
    Betul, katanya Memeth, menulis itu sebagai katarsis. Apapun bentuknya, setelah menulis, rasanya lebih lega.

    @Uchie:
    Ini komentarnya panjang, chie…

  • frans :

    dari dulu saya bingung kenapa cewek suka nulis diary???

  • else :

    soalnya lumayan sebagai media curhat…hihi

  • Arham blogpreneur :

    dhea butuh tambahan kiranti tuh …. hehehe

  • nengร‚ยฎatna :

    mengapa perempuan cenderung lebih suka curhat?
    apakah laki-laki malu curhat?
    apakah yang laki-laki suka kalau bicara kehidupan?
    lebih mudah bicara, atau menulis?

  • Software Restoran :

    Kalau saya lebih menggunakan blog untuk business-diary, yaitu “diary online” yang bisa digunakan untuk memberikan info-info terbaru seputar suatu perusahaan. Kalau untuk personal-diary online, saya pikir lebih cocok menggunakan situs social media ya, seperti Facebook dan Twitter.

  • konsultasi kesehatan :

    Bagi kami di kalangan medis, catatan apapun dari teman sejawat, akan bermanfaat, lebih-lebih bila di daerah yang jauh dari fasilitas. yang penting bisa koneksi online, masih bisa berharap tuk mendapatkan jejak-jejak pengalaman dari yang lainnya.

    Happy blogging

  • Esmeralda :

    Time goes by, from diary to web 2.0
    Tapi kesakralan diary bagi yang suka nulis diary tak mudah untuk digantikan dengan online media (I think). Sama seperti kitab suci (ah masak sih menyamakan diary dengan kitab suci:) ) saat baca kitab versi buku tingkat emosinya akan sangat beda dibandingkan baca versi digitalnya.

  • attaossi :

    hahaha ketahuan deh belangnya kalo dibaca orang banyak

  • ngupingers (diary ngupping pertama di indonesia) :

    ehm…apa ngak capek ya..nulis dua kalidi buku harian dan blog juga?????

  • Dari Diary ke Dunia Daring | Marketeers :

    […] ini juga bisa dibaca di blog penulis: Dari Diary ke Dunia Daring VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0.0/10 (0 votes cast)VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0 (from 0 votes)Related […]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge