Home » Online Branding

Microsite dan Facebook Fan Page

3 January 2010 7,494 views 9 komentar

facebookfanpage0Sekitar 2-3 tahun lalu, brand selalu membuat microsite untuk kampanye daring mereka. Mereka memusatkan kampanyenya melalui situs yang mereka kembangkan sendiri. Aktifitas kampanye dilakukan seluruhnya di dalam microsite. Sepanjang promosi gencar dilakukan di radio, televisi, dan portal ternama, traffic kunjungan ke microsite selalu tinggi. Sebaliknya pula, kalau promosi membangun awareness pas-pasan, traffic kunjungan pun tak seberapa tinggi pula.

Tahun lalu Facebook menanjak popularitasnya di Indonesia. Facebook Public Profile (atau sering dikenal dengan Facebook Fan Page) pun merubah tampilan dan fungsinya. Melalui Facebook Fan Page, brand (dan juga figur publik) bisa membangun awareness-nya di sini. Alih-alih membangun microsite seperti tahun-tahun sebelumnya, brand lebih cenderung memanfaatkan media Facebook Fan Page yang sudah ada.

Beberapa brand tetap membuat microsite terpisah karena alasan tertentu, seperti kurang tepatnya platform Facebook Fan Page untuk program aktivasi daring mereka. Brand ini tetap memanfaatkan Facebook Fan Page untuk membangun basis penggemar lalu menawarkan kepada mereka fitur-fitur yang hanya bisa dinikmati bila mereka berkunjung ke microsite milik brand. Hal ini umumnya dilakukan oleh brand rokok yang memang punya limitasi berkampanye di situs social media karena peraturan pengguna yang harus 18 tahun ke atas.

Kalau diperhatikan, brand yang bermain di Facebook Fan Page melakukan satu dari 3 pola yang semuanya berujung pada keberhasilan membangun komunitas penggemarnya. Ketiga pola ini adalah:

1. Conversation.

Sepertinya sederhana, namun sulit. brand memancing para penggemarnya untuk memberikan komentar terhadap suatu topik, atau pendapat mereka tentang brand itu sendiri. Dari sini bisa diketahui siapa saja penggemar yang loyal terhadap brand, atau yang saat ini mempunyai keluhan terhadap suatu brand. Menanggapi pujian dari penggemar memang menyenangkan. Cukup terima kasih sudah selesai. Yang sulit adalah menanggapi kritikan, yang harus sesegera mungkin direspon sebelum isu melebar lebih jauh.

Belum lagi membangun percakapan rentan terhadap masuknya kompetitor ikut bergabung sebagai penggemar dan menjelekkan nama brand di dalamnya. Brand perlu pintar memilah mana kritikan yang membangun dan mana yang murni celaan tanpa argumentasi penunjang. Apalagi kala jumlah penggemar sudah puluhan ribu, dan aktivitas komentar yang diberikan penggemar muncul sedemikian cepatnya setiap saat.

Beberapa Facebook Fan Page brand lokal yang aktif melakukan percakapan dengan penggemarnya (atau setidaknya menciptakan tempat sehingga penggemarnya saling bercakap-cakap satu sama lain), adalah Gila Motor, Yamaha Motor Indonesia, dan Invictus. Biasanya keaktifan seperti ini muncul karena selain di ranah daring, komunitas yang terbangun ini juga telah menyelenggarakan kegiatan kopi darat.

facebookfanpagegilamotor

2. Creation.

Melalui Facebook Fan Page, brand mengundang para penggemar untuk berkreasi dan mengirimkan hasilnya ke Facebook. Biasanya kegiatan ini diikuti dengan iming-iming hadiah bagi pengirim terbaik. Hal ini sempat dilakukan oleh Acer Indonesia yang mengundang penggemarnya untuk mengirimkan foto mereka beraksi di depan layar webcam sambil memegang lembaran augmented reality. Hal serupa saat ini sedang dilakukan pula oleh Gery Chocolatos yang mengajak penggemarnya untuk berfoto selucu mungkin dengan produk Chocolatos.

Ada pula situs portal pemasaran The Marketeers dari Markplus, yang sebelum peluncurannya mengundang blogger untuk menyampaikan tulisan mereka melalaui Facebook Fan Page-nya dengan iming-iming tiket gratis Markplus Conference di bulan November kemarin.

facebookfanpageacer

3. Collaboration.

Pola ini belum banyak yang melakukannya. Melalui pola ini para penggemar brand saling berbagi cerita atau manfaat. Info dari satu orang bisa jadi bermanfaat bagi orang lain. Atau bahkan para penggemar brand bisa saling bekerja sama dan menciptakan nilai baru melalui Facebook Fan Page-nya. Brand membuat infrastruktur dan membiarkan penggemar memberikan kontribusi di dalamnya. Brand bisa pula membuat kegiatan sosial dimana setiap penggemar baru yang melakukan kontribusi tertentu memicu brand untuk ikut pula menyumbang donasi.

Telkomsel melalui program Ngobolin Kampus memfasilitasi para pengguna Telkomsel (khususnya mahasiswa) untuk bisa berbagi informasi seputar kampus melalui Facebook Fan Page-nya. Coca-Cola melalui program Buka Semangat Baru memberikan donasi melalui Facebook Fan Page-nya. Para penggemarnya diminta untuk men-tweet (di Twitter) ucapan semangat bernada positif. Setiap tweet yang memenuhi syarat akan dikonversi menjadi sejumlah rupiah oleh Coca-Cola untuk didonasikan.

facebookfanpagetelkomsel

Nah, tentunya di 2010 ini akan lebih banyak bentuk kreatif yang dilakukan brand untuk membangun komunitas penggemarnya di Facebook. Jadi, bukan tidak mungkin akan muncul pola baru yang tak terpikirkan seperti di atas.

Kredit gambar: lumaxart

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

9 komentar »

  • chicha :

    Setiap baca postingan blog bang pitra, selalu terinspirasi.

    Thank you…

  • si Rusa Bawean :

    dari pada bikin microsite
    mending pake facebook fan page aja

  • Arham blogpreneur :

    ia nih setiap baca jadi terinspirasi *tuit tuit prikitiuw

    btw, kemampuan page untuk web affiliasi masih belum pernah diuji, mungkin karena limitasi FBMLnya, tapi kalau untuk membangun komunitas juga conversation, rasanya boleh lah sekedar untuk pelarian alih alih membuat replikasi starteginya My idea starbucks

  • nengratna :

    mereka merakyat ya…

  • padmanegara :

    dan 2010 makin banyakk lagii….

  • pesanlogo :

    menarik ulasannya. trims

  • Pandu Truhandito :

    Ketika saya sedang mengurus sebuah web company, tim kami juga membuat sebuah fanpage sebagai tempat interaksi utk company tersebut dengan konsumennya.

    Tapi ada beberapa kendala yang muncul:
    1. Memang pengguna facebook sudah menjamur tetapi bukan berarti kita tetap bisa menjaring dan menyentuh semua konsumen melaluinya
    2. Tidak semua pengguna facebook fasih dengan fitur2nya (termauk fanpage). Bersyukurlah perusahaan-perusahaan dengan user base yang social media savvy, tapi kalau mereka tidak tahu apa-apa? Dari sana timbul kendala: lanjut promosi dan fokus kepada para user yang memang terbiasa dengan fb atau mencoba mengedukasi semua konsumen? Waktu adalah concern terbesar; selagi kita mengedukasi, pesaing mungkin sudah bergerak jauh
    3. Concern terbesar adalah data. Memang menggunakan fb fanpage sangat convinient bagi publisher; semua sudah tersedia, sangat customizable dan bisa diintegrasikan dengan hal yang lainnya. Tapi berarti user akan spend time di fanpage lebih banyak daripada di situs. Dan kalau tidak ada traffic bagaimana mau mendapatkan feedback? Kalau benar-benar diperhatikan fitur yang disediakan fb dibuat agar user terkonek dan diarahkan ke facebook tapi tidak sebaliknya (atau setidaknya, proporsinya sangat timpang). Interaksi terjadi fanpage dan bukan di situs! Kalau tidak ada feedback bagaimana mau improve? Ini sama saja dengan membiarkan nasib perkembangan usaha marketing online tergantung kepada perkembangan fb fanpage itu sendiri.

    Saya rasa problermnya ada pada how to balance onsite dan offsite interaction. Memanfaatkan Facebook dan social media pada umunya itu baik. Tapi jangan sampai kita sampai terlalu terganytung dan akhirnya usaha marketing online menjadi terkumpul in 1 basket

  • papertalk :

    bagaimana caranya membuat rapat online? jadi boss2 nggak perlu berangkat ke kantor. berangkat ke kantor kan buat energi banyak dan emisi kendaraan yg sangat banyak…

  • D+E :

    @papertalk: untuk rapat online yg cukup creatif bisa menggunakan game online Second Life. Silakan simak sedikit artikel mengenai ini di http://www.dpluse.info/urban/halal-bihalal-virtual

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge