Home » Online Branding

Banjir Hashtag di Twitter

24 March 2010 9,103 views 26 komentar

hashtagBelakangan ini banyak brand mulai melirik Twitter sebagai alternatif komunikasinya. Kalau sekedar punya akun Twitter, sudah banyak brand yang melakukannya, namun kalau brand itu memanfaatkan akun itu secara serius, bisa dikatakan belum banyak.

Nah, di antara brand yang punya akun Twitter ini, beberapa di antaranya sering mengajak pengguna Twitter lainnya untuk bermain hashtag. Pengguna Twitter umumnya didorong untuk menyusun kalimat dengan menyertakan frase tertentu di antaranya, dengan diawali tanda pagar (#). Frase ini biasanya adalah pesan yang berhubungan dengan kampanye brand. Polanya, bagi mereka yang bisa menyusun kalimat terbaik atau terlucu akan mendapatkan bingkisan dari brand.

Sebenarnya bermain hashtag bukan barang baru. Dari dulu warga Twitter suka melakukannya, saat mereka tertarik untuk membahas topik tertentu. Dari #indonesiaunite, #tolakrpmkonten, #followfriday, #whenifirstmet, #jamanSD, dll. Dari membahas hal terkait dengan kondisi sosial politik, hingga yang fun dan menghibur. Hashtag juga memudahkan kita melacak percakapan tentang suatu hal. Kita bisa melakukan pencarian tweet yang punya hashtag serupa untuk mendapatkan gambaran hal-hal apa saja yang menjadi bahan omongan.

Para pemilik brand juga paham kalau mereka tidak boleh “berjualan” langsung di social media. Yang bisa mereka tanamkan adalah pesan atau (mungkin) tagline brand dan membiarkan pengguna Twitter bermain-main dengannya. Apakah akhirnya mereka yang ikut bermain sadar kalau yang mereka lakukan ada kaitannya dengan advertorial brand, itu tahapan komunikasi selanjutnya.

Sadar atau tidak hashtag terkait dengan advertorial brand ini mulai membanjiri ranah Twitter (setidaknya terasa banget sejak seminggu kemarin). Dulu yang bisa dibilang sukses adalah aksi kampanyenya Coca-Cola dengan #bukasemangatbaru. Setiap tweet dengan hashtag itu akan dikonversikan dalam rupiah, dan akan disumbangkan melalui Coin A Chance. Belakangan ini, kita bisa menemukan #50persen, #soimpressive, #soyjoyhealthylicious, #comeswithmusic, dan entah apa lagi. Semua terkait dengan aktivitas brand di Twitter.

Bermain hashtag sebenarnya menyenangkan kok. Sudah beberapa kali juga ikutan. Apalagi kalau temanya memang “nyambung” dengan kita. Namun seperti biasa, apa yang berlebihan itu belum tentu enak. Sekarang mungkin masih menyenangkan. Bayangkan saja kalau nanti semua brand melakukan hal serupa di Twitter. Menyenangkan atau tidaknya memang kembali ke diri masing-masing. Lalu bagaimana dengan mereka yang kurang senang dengan hal ini? Kalau akun brand, mereka tinggal klik unfollow, tapi kalau yang membanjiri timeline-nya dengan hashtag adalah teman-temannya sendiri, kan nggak mungkin melakukan unfollow?

Nah, menurut kalian sendiri bagaimana? Apakah kalian jenuh dengan hashtag yang berhubungan dengan advertorial? Apakah cara-cara yang kini mereka lakukan dengan hashtag masih dalam batas kewajaran? Atau justru kalian ikut senang karena dengan ini banyak kesempatan bagi kalian untuk mendapatkan hadiah?

Kredit foto: Jeff

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

26 komentar »

  • uberVU - social comments :

    Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by anakcerdas: new post: Banjir Hashtag di Twitter http://bit.ly/b9wTrG

  • lindaleenk :

    8-|

    kalau sampai ngeflood di timeline terpaksa ijin temennya di unfollow dulu

    *udah pernah soalnya

  • Wahyu Awaludin :

    Gw sih seneng2 aja,mas Pit..Bisa dapet banyak hadiah soalnya..

  • edy :

    gw baru tau smalem kalo #50persen ternyata iklan 😆

    buat gw, selama hashtag-nya asyik ya diikutin aja

    tapi kalopun bukan iklan dan gw anggap hashtag ga cocok sama gw ya ga gw ikutin

    jadi selama bisa nyamar dan ngikutin aura twitter

    ga bakal terlalu ngganggu kali ya

    tanya dong, apa ukuran berhasilnya hashtag sih?

    jadi trending topic, atau ada cara ngukur lain?

  • sumarketer :

    biasa aja, twitter kan gratisan, ya harus dibanjiri dgn iklan. tv gratis tanpa iklan ya gak bisa nonton. twitter dan social media lain kan hidup dari brand. jadi ya biasa aja. kalau gak mau iklan, ya cari yg bayar aja kayak cable tv. bagaimana kalau buat twitter paid, free from ad? gak mau juga kan?

  • Aria Rajasa :

    Semuanya tergantung ke cara penyampaiannya si, kalo terkesan sampah, terlalu hard selling dan tidak menambah value ya pasti mengganggu

  • lindaleenk :

    *aku tadi koment kok ga muncul ya?*

    asal ga ngeflood ditimeline sih mungkin gpp ya..

    dulu pernah sih mpe terlalu ngeflood dan mengganggu,akhirnya ijin ketemen untuk di unfollow dulu (–") sampai kuis2 itu slesei

  • chicha :

    Dudududu… Iya deh, ga akan sering2 main hashtag lagi, biar ga di unfollow @anakcerdas. Hehe…

  • Pitra :

    Untuk semua, hihihi, blog ini memang parah. Semua komentar terjerat spam. Tapi semua pasti akan diselamatkan kok. Salahkan Akismet ya!

    @edy: CMIIW ya sepertinya keberhasilan hashtag ya dilihat dari jumlah tweet yang menyebutkannya. Semakin hashtag itu menyebar dan smeakin banyak dalam sehari, ya berarti makin sukses. Pertanyaan lanjutannya, apakah setelah user tahu dan ikutan hashtag itu, ia lalu bisa mengasosiasikannya dengan brand yang berkampanye? Hehe, buktinya elo aja baru tahu tentang #50persen kemarin kan?

    @sumarketer: Kalau iklan ini memang disediakan oleh Twitter untuk revenue Twitter sendiri, argumen yang dirimu sebutkan memang betul apa adanya. Namun kalau kampanye hashtag yang gw sebutkan di atas kan tidak memberikan revenue ke Twitter.

    @Chicha: jadi hashtag #pitrabanget gak jadi dibuat?

  • Pandu Truhandito :

    Nice photo! Hahaah

    Kalau soal hashtag, saya sendiri tidak masalah. Brand yang pintar adalah yang mengajukan "promosi" lewat hashtag yang sifatnya natural / general tapi masih berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan dari kampanya tersebut. Contohnya #50persen dan #bukasemangatbaru. Hashtag seperti itu tidak mengganggu saya secara pribadi, malah ingin cari tahu sebenarnya ada apa.

    asal pencalonan hashtag dibuat memang untuk dipakai (tidak aneh2 dan tidak terlalu panjang, tidak susah diparsing kata2nya, intinya enak dibaca (I'm guilty as charged), pengguna twitter jg bisa menikmatinya kok.

  • Pandu Truhandito :

    Tambahan lagi pit:

    @edy: Pertanyaan lanjutannya, apakah setelah user tahu dan ikutan hashtag itu, ia lalu bisa mengasosiasikannya dengan brand yang berkampanye? Hehe, buktinya elo aja baru tahu tentang #50persen kemarin kan?

    Menurut gue mindsetnya lebih mirip sama konsep freemium. Semua orang bebas memakainya. Dan karena (diharapkan) ada banyak sekali yang memakai #hashtag tsb, walaupun %tase orang yang bisa mengasosiasikan brand dgn hashtag tsb relatif jauh lebih kecil, nominalnya sendiri sudah sangat besar.

    jadi conversion %nya mungkin kecil (walaupun mungkin ada bbrp #hashtag yang %nya besar), tapi kalau jumlah penggunanya besar, jumlah converted penggunanya juga akan tambah besar.

    @sumarketer: Kalau iklan ini memang disediakan oleh Twitter untuk revenue Twitter sendiri, argumen yang dirimu sebutkan memang betul apa adanya. Namun kalau kampanye hashtag yang gw sebutkan di atas kan tidak memberikan revenue ke Twitter.

    Ide bagus tuh. Secara twitter masih kurang stabil untuk monetization, mungkin mereka bisa charging small fees buat campaign commercial yang menggunakan #

  • Silly :

    Makanya sebetulnya socmed itu khan media untuk bersosialisasi, jadi mesti pinter-pinter menungkapkan apapun hanya dalam 140 karakter, tanpa terkesan maksa atau menjual. Males aja khan kalo kayak gitu. Kelebihannya, kita jadi dapt banyak kesempatan untuk ikutan kuis yang berhadiah, itung2 mengadu peruntungan, siapa tahu menang… iya khan? Asal, sekali lagi, harus selalu dipikirin, ada banyak tman yang follow kita yang mungkin saja akan terganggu kalau kita trlalu banyak nge-tweet hastag saking kebeletnya pengen ikutan kuis. Gue juga pernah kok, hihihi, tapi skarang dah lebih mengurangi, kecuali untuk hastag yg berhubungan dengan kegiatan sosial kemanusiaan, spt #BloodForLife, #IndonesiaUnite… that's really not connected to any other brand. Just for humanity.

  • Arham Blogpreneur :

    Aku sadar lho. cuman dari pada liat tweeps pada 'nyampah' di timeline ya ikutan 'nyampah' aja .

    Seneng sih enggak tapi kesel juga 'ngak'. Sebenernya bagus juga daripada jualan mulu tapi ya lama lama bete ajah kalo polanya sama semua

  • si Rusa :

    kalo hashtag dari brand aq oh ikutan

    🙂

  • Dewa Bantal :

    Aku si gak ada masalah ya, asal tweetnya memang lucu / bermutu / menghibur.

    Soalnya aku juga kebiasaan baca super cepat kalo di tweet. Bangun tidur pasti numpuk 300 new tweets, gak mungkin kan dibaca semua? Pasti scanning doang, dan kalo menarik pasti nyantol langsung hehehe…

    Kalo masalah kena spam gila, following 500 orang juga tanpa banjir hashtag sudah kubilang normal flood nya luar biasa xD

  • fairyteeth :

    selama kata2 nya gak dipaksa nyambungin sama hesteg nya sih gak papa… lagian lucu juga kok..

    kecuali ada yg nekad banget pengen menang lomba, terus semua twit nya dia nyambung atau gak nyambung, di imbuhin hesteg, nah itu baru rasanya mau di unfollow 😐

  • Amy :

    Nice photo! Hahaah

    Kalau soal hashtag, saya sendiri tidak masalah. Brand yang pintar adalah yang mengajukan "promosi" lewat hashtag yang sifatnya natural / general tapi masih berkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan dari kampanya tersebut. Contohnya #50persen dan #bukasemangatbaru. Hashtag seperti itu tidak mengganggu saya secara pribadi, malah ingin cari tahu sebenarnya ada apa.

    asal pencalonan hashtag dibuat memang untuk dipakai (tidak aneh2 dan tidak terlalu panjang, tidak susah diparsing kata2nya, intinya enak dibaca (I'm guilty as charged), pengguna twitter jg bisa menikmatinya kok.

  • fahmi! :

    aku termasuk yg terganggu dg banjiran #hashtag kontes2 itu. terlalu banyak noise, mengaburkan signal.

  • Media Ide » Blog Archive » Saat Kampanye Brand di Twitter Mulai Terasa Mengganggu :

    […] diminta berkreasi dengan menambahkan @hanyaoreo di BELAKANG tweet. Ini tak berbeda dengan kampanye hashtag. Pengguna Twitter “terpaksa” melihat aksi kontes yang dilakukan oleh pengguna yang […]

  • Lost in Marketing » Blog Archive » Bagaimana Menciptakan “Buzz” Dalam Hitungan Hari? :

    […] pertanyaan dan dijawab oleh followers dengan mention. Selain trivia, account ini juga ikut menambah banjir # (hastag) yang sudah banyak dilakukan oleh merk-merk lain. Ada satu kesalahan di hari pertama yang cukup […]

  • Planet Orange :

    Maaf OOT

    Cuma mo ngasih tahu kl kami baru saja rilis wp-hashtag, plugin ini khusus utk wordpres dan cara kerjanya sama dengan hashtag twiiter…

    Terima kasih ya sob…

  • Media Ide » Blog Archive » Kreativitas Kampanye di Twitter :

    […] saja. Dari membuat kuis tweet berhadiah dengan menempelkan hashtag di akhir tweet, hingga kontes mengganggu. Meski sebenarnya ada pula yang menarik seperti yang dilakukan @soyjoyID. Suatu prestasi tersendiri […]

  • Banjir Kata-Kata Kasar di Twitter :

    […] lebih lanjut, ada baiknya saya ngaku dulu kalau judul artikel ini dapet ide dari @pitra di tulisan Banjir Hashtag Di Twitter. *sungkem* Udah pengen nulis tentang kata-kata kasar sih, tapi judulnya masih bingung, eh ada […]

  • Putra :

    sudajh seminggu ini kalau nge-twitpake hashtag, twit sy tdk muncul di hastag tsb, padahal biasanya muncul. Bagaiman ay utk memulihkannya agar kl sy nge twit pake hastag, hastag sy tsb bisa muncul ketika kita atau org lain search hastag tsb?Padahal twitter sy tdk dikunci lho,thx.

  • Hashtag di Twitter | Marketeers :

    […] Tulisan ini juga bisa dibaca di blog penulis: Banjir Hashtag di Twitter […]

  • Toko Pancing Online :

    Sejauh ini twitter ku hanya aku pakai untuk berburu $$$ hehehe
    Toko Pancing Online baru saja menulis..MiniMagazine Theme Released

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge