Home » Online Living

Anak dan Interaktivitas Multimedia

27 April 2010 8,480 views 15 komentar

Di rumah ini ada seorang keponakan yang usianya belum menginjak 3 tahun. Yang membuatnya berbeda dengan kita saat usia sama dulu kala, si keponakan sejak kecil sudah familiar dengan dunia digital. Awanya ia hobi menonton lagu-lagu anak di VCD. Yang membuatnya suka dengan VCD bukan lagunya, tapi interaksi yang bisa ia lakukan dengannya, seperti menekan tombol Play, Next, Previous. Sederhana sih, tapi mencoba-coba semua tombol di remote ternyata menyenangkan baginya.

Setelah lagu-lagu anak, VCD atau DVD edukasi besutan Elex Media membuatnya cepat familiar dengan abjad A-Z (huruf kecil dan besar), angka, serta lagu. Kalau ditanya karakter apa yang ia suka, ia pasti menjawabnya Pipi Panda. Karakter ini memang menjadi tokoh utama dalam beberapa seri VCD, DVD, dan CD edukasi terbitan Elex Media. Padahal ya, kalau di mata orang dewasa, gambarnya tidak spesial, animasi Flash-nya pun tidak terlalu heboh. Namun rupanya di mata seorang balita, meski sederhana, karakter ini bisa membantunya belajar banyak.

Selanjutnya interaksi multimedia menyentuh si keponakan melalui perangkat ponsel dan BlackBerry milik ayahnya. Dari sekedar berinteraksi mencari-cari foto dan video rekaman dirinya, hingga bermain sebuah aplikasi menarik berjudul Baby-Go, aplikasi yang membuat si keponakan cepat menghapal abjad dalam Bahasa Inggris.

anak dan interaktivitas multimedia

Yang membuat si keponakan semakin tertarik dengan interaktivitas adalah saat ia mulai mengenal komputer. Dari sekedar memencet tombol On, hingga akhirnya mengenal Microsoft Word. Melalui Microsoft Word ini ia mulai terbiasa mengenal huruf. Dimulai dengan belajar mengetik namanya sendiri, dan perlahan-lahan dikenalkan dengan beberapa kata baru. Yang membuatnya lebih fun, adalah dengan memanfaatkan fitur WordArt. Saat awal ia kenal komputer (sekitar usia 2 tahun pas), ia masih membutuhkan bantuan orang lain untuk menggerakan mouse, karena motoriknya belum terbiasa. Si keponakan cuma menyuruh mouse-nya digerakkan ke sana dan ke sini. Siapapun yang menemaninya cuma mengikuti apa perintahnya. Selanjutnya saat mengetik, si keponakan yang melakukannya sendiri.

Sekarang si keponakan sudah terbiasa memegang mouse dan menggerakkannya, sehingga semua aktivitas di depan layar ia lakukan sendiri. Ia juga sudah familiar dengan YouTube dan mencari lagu-lagu kesukaannya di sana. Dimulai dari menyalakan komputer, menekan ikon IE, lalu mengetikkan (benar, mengetik!) salah satu lagu favoritnya “twinkle twinkle little star” atau “london bridge is falling down” di kotak pencari Google di atas kanan. Daftar rekomendasi pencarian akan muncul, lalu si keponakan memilih tautan yang ia inginkan.

Baru sadar pula sejak si keponakan terbiasa klak klik sana sini di YouTube. Ternyata YouTube sangat kaya dengan konten edukasi menarik untuk anak. Coba cari saja lagu-lagu dengan kata kunci “nursery rhymes” akan muncul ratusan lagu anak-anak berbahasa Inggris, baik dengan lirik ataupun versi karaokenya. Atau gunakan kata kunci “alphabeth” untuk mencari lagu-lagu yang mengajak anak belajar tentang alfabet (dalam beragam bahasa). Visualnya pun menarik untuk anak. Seperti saat ia sebelumnya menikmati interaktivitas menggunakan remote untuk DVD, si keponakan bisa menikmati interaktivitas di YouTube karena ia bisa memilih video sesuka hatinya. Hal yang membuatnya tertarik adalah keleluasaan untuk berjelajah dan menemukan hal-hal yang dianggapnya baru. Tentu saja ini harus dalam pengawasan, agar aksi jelajah klak kliknya tidak keluar dari koridor tontonan untuk anak.

Karena di rumah, kakeknya pecinta fotografi dan sering mengolah gambar dengan Photoshop, hobi terbarunya adalah mengerecoki si kakek dengan “bermain” Photoshop pula. Asal coret sana sini dengan brush dan gradient. Di sini sekaligus ia dikenalkan dengan beragam jenis warna dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Hobi coret-coret dengan warna yang dulu beberapa bulan lalu dilakukan di atas kertas gambar, kini berpindah ke kanvas di komputer.

Memang sih kesukaan seorang balita bisa jadi berbeda satu dengan lainnya. Nggak semua bisa dipaksakan akan kesukaan serupa. Kebetulan saja, si keponakan tinggal di rumah yang ayahnya, pamannya, dan kakeknya sangat familiar dengan teknologi. Sekarang, tugas kita yang di rumah untuk selalu mengarahkan dan membatasi agar ia pun tidak terlalu lama menatap layar komputer (karena hal ini yang menjadi favoritnya), tapi juga tetap melakukan interaksi yang bersifat fisik dan sosial.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

15 komentar »

  • nikenmakki :

    om pitra jagain ponakannya ya..agak gede dikit bisa jadi lebih pinter dr pitra jangan-jangan nih :))

  • rusabawean :

    keknya sama dengan keponakanku. bedanya keponakanku sudah SD kelas 4

    🙂

    benar sekali

    memang mereka perlu diarahkan

    agak tidak salah jalan

  • mawi wijna :

    jadi itu rutinitas Punta di rumah 😀

  • Dampak Kemajuan Teknologi | AMYunus Blog :

    […] Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi saat ini semakin mudah. Yang mana dahulu, penggunaan GPS hanya dimiliki oleh orang kaya. Namun sekarang sudah dapat dimiliki oleh orang-orang yang memiliki telepon seluler dengan merek tertentu. Dampak positif dari penggunaan teknologi ini juga diterangkan oleh artikel yang pernah saya baca di Media-Ide [baca artikel tersebut] […]

  • jarwadi :

    Iya sih anak memang cepat fasih berinteraksi dengan gadget multimedia, coba kita kenalkan mereka game di ponsel atau pc

    Tantangannya adalah bagaimana interaksi multi media itu bisa dibiasakan sebagai media belajar ;D

  • Billy Koesoemadinata :

    hihi.. adik gue juga dari umur 8 taunan udah punya e-mail

    hebring2 nih.. padahal dulu gue punya e-mail baru pas jelang SMA

  • belajar clickbank :

    hehhee…emang banayk sih anak-anak sekarang seperti itu,..udah pintar-pintar semua,..jaman saya dlu mana ada..

  • Arham blogpreneur :

    SAya ok jadi terpikir presentasi ignite kemarin yah. taglinenya "Orang tau stupid atau anak durhaka"…Mau ngak mau ortu harus nyebur ke media internet kalo ngak yah… yah… ngak lulus UN rasanya wajar

  • AnggaRifandi :

    mau gak mau teknologi pasti menyetuh semua kalangan, bahkan balita sekalipun. tugas kita adalah menjadi pembimbing yang bijaksana

  • Nuniek Tirta :

    wah, harus beliin pc dulu nih buat anak, biar nggak takeover laptop mommynya yg lg kerja, hehehe…

  • Deche :

    Biar lebih lengkap, harusnya beli ipad juga… biar tersentuh teknologi all the time. 😛

  • Yodhia @ Blog Strate :

    Digital native, begitu sebutannya.

  • nengratna :

    oom pitra, aku pernah denger dari dokter katanya anak kecil harus jauh2 dari komputer krn radiasinya. tapi jaman sekarang kan sedari kecil harus kenal dan harus pandai otak-atik komputer. jadi gimana ya? dilematis

  • Pitra :

    @nengratna: hihi kan ada yang namanya monitor LCD. Via notebook juga nggak apa-apa, karena radiasinya minim. Tentu saja pembatasan waktu penggunaan juga perlu diperhatikan. Dan siapkan banyak air minum di dekat ia bermain komputer, supaya ia tidak dehidrasi tanpa ia sadari.

  • ikilobo :

    dari masih bayi mainannya multimedia..

    perkembangan otaknya bagus..fisiknya?bagus juga mungkin

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge