Home » Online Living

Kebiasaan Membaca Baru?

7 July 2010 7,010 views 27 komentar

Sejak dulu kita terbiasa membaca buku, majalah, dan koran dalam format fisik. Artinya buku/majalah/koran kita pegang di tangan kita, membuka lembarannya satu persatu, menikmatinya sambil tiduran di sofa sembari minum kopi di pagi hari. Aktivitas membaca biasa dilakukan dengan santai. Bisa jadi itulah alasan belum ada media digital yang benar-benar bisa menggantikannya.

Di Indonesia media yang paling sering mencoba mengesplorasi cara membaca di era digital adalah Kompas. Mengikuti Detik.com, Kompas.com merambah portal dengan pendekatan berbeda. Kalau Detik.com singkat-singkat tapi sering, kalau Kompas.com mencoba menggarap tulisan lebih dalam, meski frekuensi pemberitaannya tidak sesering Detik.com. Wajah baru portal Kompas.com pun bisa dibilang menarik (setidaknya komparasi dengan portal berita sejenis di Indonesia ya). Namun tetap saja, membaca di komputer sangatlah berbeda dengan membaca koran atau majalah. Kita harus membuka notebook, menaruhnya di meja (atau memangkunya dengan berat), dan mengklik-klik. Naluriah kita dalam membaca buku tidak bisa diterapkan sepenuhnya di sini.

Bertebarannya banyak PDF ebook juga ternyata tidak membuat orang senang membaca di depan layar komputer. Ada memang yang akhirnya terbiasa men-scroll dengan mouse-nya membaca PDF halaman demi halaman di layar komputer. Namun ada yang lebih suka mencetaknya menjadi sebuah buku dulu sebelum dibaca seperti buku pada umumnya. Boros kertas sih, tapi kalau memang dengan cara itu orang bisa menikmati buku, ya mau bilang apa?

Lalu ada lagi format epaper, seperti yang dikeluarkan Kompas, yang bahkan sampai muncul 2 versi mengikuti perkembangan teknologi. Untuk yang berada di luar negeri, versi epaper memang enak. Kita bisa menikmati versi cetak persis apa adanya namun melalui media berbeda. Seperti PDF ebook, kenikmatan membaca sesungguhnya memang belum bisa dirasakan.

Pada saat acara Social Media Day minggu lalu, seorang teman sempat membawa sebuah iPad. Yang menarik adalah saat ia mendemokan majalah Wired versi iPad. Sekedar info, Wired memang bekerja sama dengan Adobe merilis majalah cetaknya dalam format iPad. Bedanya? Banyak. Ada 2 layout, vertikal dan horisontal, tergantung iPad diputar ke mana. Setiap halamannya bisa “dibalik” dengan jari ke kiri dan ke kanan. Bahkan ada yang bisa digeser ke atas dan ke bawah. Multimedia memang menjadi andalan, karena hampir setiap gambar bisa diinteraksikan, menjadi slideshow, membesar mengecil, hingga berganti menjadi video. Salah satu kelebihan format iPad adalah aksesibilitas dalam membaca. Dengan gerakan jari, ukuran font bisa langsung diperbesar dan diperkecil.

“Majalah” Wired versi iPad ini juga menawarkan fitur lebih bagi pengiklan. Tidak melulu berupa gambar datar, tapi seperti elemen multimedia lainnya, terbuka untuk segala macam bentuk interaksi. Sayangnya demi kenikmatan ini, pengguna harus mengunduh file aplikasi di iTunes Store sebesar 500 MB, dengan harga US $4.99. Terlalu mahal untuk sebuah majalah digital.

Kompas juga tidak mau kalah. Sejak 1 Juli 2010 kemarin, Kompas pun mengeluarkan edisi iPad. Aplikasi harian ini bisa diunduh gratis di iTunes Store. Versi ini katanya adalah versi Editor’s Choice, yang berisikan artikel harian pilihan dari versi cetak. Dibuat dengan layout baru dan bisa dibaca dalam versi horisontal dan vertikal pula. Katanya, untuk pembuatannya Kompas menggunakan perangkat lunak yang sama dengan yang digunakan untuk membuat aplikasi majalah Time dan Sports Illustrated versi iPad. Selain itu, Kompas juga membuat versi epaper yang sudah dioptimasi untuk dibaca melalui iPad.

Dua hari sebelum Social Media Day, juragan Detik.com, Pak Budiono Darsono sempat berbagi cerita tentang perkembangan media. Beliau bilang, keberadaan teknologi iPad (dan pastinya “iPad” tiruan yang akan menyusul dari Cina) banyak membuka mata para juragan media cetak. Waktu dulu, saat media berbondong-bondong lari ke online, mereka mau nggak mau harus ikut eksis di online. Cuma ini menjadi masalah baru karena pengguna tidak bisa dikutip biaya untuk membaca berita. Ujung-ujungnya mereka harus mencari kue iklan baru demi mempertahankan keberadaan media versi online-nya.

Katanya pula, saat para juragan media cetak mencoba iPad, mereka langsung melek dan tahu cara memonetisasinya. Pertama, karena format iPad sama persis dengan majalah. Kontennya sama, dari sisi editorial pun tidak pusing harus membuat 2 artikel (demi media yang berbeda), dan yang paling penting, tidak banyak mengubah kebiasaan membaca majalah atau koran cetak. Kedua, konten multimedia yang awalnya hanya ada di online kini juga bisa diterapkan serupa di versi iPad. Ketiga, sudah ada iTunes Store yang membantu proses distribusinya. Mereka tidak perlu pusing lagi menyiapkan infrastruktur untuk itu. Media cukup berkonsentrasi dalam penyajian konten.

Memang yang masih menjadi kendala mungkin adalah harga iPad itu sendiri. Namun yakin deh, saat “iPad” versi Cina masuk, dan (pastinya) akan disusul pula oleh situs mirip iTunes Store, distribusi dan harga device tidak akan menjadi masalah lagi. Lihat saja kini betapa ponsel Cina mirip BlackBerry justru lebih mendominasi pasar ponsel daripada merk BlackBerry itu sendiri.

Nah, kalau menurut kalian sendiri bagaimana? Terlepas dari harga device-nya yang kini masih mahal, apakah keberadaan iPad akan mengubah pola kita dalam mengkonsumsi media cetak?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

27 komentar »

  • Tweets that mention Media Ide » Blog Archive » Kebiasaan Membaca Baru? -- Topsy.com :

    […] This post was mentioned on Twitter by Pitra. Pitra said: new post: Kebiasaan Membaca Baru? – thx @ramyaprajna @budionodarsono dan @etaslim atas infonya 😀 http://bit.ly/97dLNV […]

  • Lindaleenk :

    Wa,musti nabung demi ipad

    suka kesel kalau baca media online ada splash iklan2 yg besar suka ngganggu

    kalau format iklan epaper di ipad sm seperti yg cetak,kan ga perlu keganggu sm iklan2 flash lg :p

  • Kristian :

    Pitra,

    Bener banget nehhh… Aku ketagihan baca pake iPad, karena lebih natural dibanding layar komputer biasa. Boleh dibilang, inilah format yang membuat saya berpikir bahwa solusi elektronik akhirnya mengungguli solusi konvensional. 😀

  • Zeddy :

    Khusus untuk di Indonesia, concern saya satu: masalah bandwidth, baik dari segi kecepatan maupun harga.

    Hal ini yg menghambat programmer seperti saya untuk mensajikan Rich Internet Applications di Indonesia. ePaper Kompas versi Silverlight support penggantian image iklan menjadi iklan multimedia (video atau mini-game).

    Namun jika banyak yg complain krn ePaper v2 membutuhkan rata-rata 700KB per page, bagaimana nanti jika beban download ditambah dgn buffering video iklan?

    Apalagi jika browsing dgn 3G, user sangat "conscious" dgn kemana mereka harus browsing untuk menghabiskan kuota nya.

    Btw ini saya menulis comment ini via iPad dari RSCM..dan saya tidak terbayang harus berapa lama menunggu jika akan mengunduh Wired edisi baru.

    Saya sudah punya Wired edisi iPad yg pertama, dan saya mengunduhnya via WiFi di rumah, namun tetap terasa lama.

    Saya tidak punya masalah dgn harganya krn sudah terbiasa belanja dgn kartu kredit, namun merasa malas jika setelah membayar harus menunggu lama agar semua content terunduh.

    Sebagai programmer, saya lebih prefer solusi on-demand: hanya unduh halaman atau artikel yg saya tertarik untuk membacanya.

    Salam,

    Zeddy.

  • Haikalajadeh :

    haikalajadeh.blogspot.com Blogwalking seminggu sekali ya..sama2 bookmark

    haikalajadeh.blogspot.com Blogwalking twice a week.. we same bookmark 🙂

  • aan :

    sekarang memang jaman sudah sangat canggih.. hampir semua bacaan terbaru bisa dibaca melalui internet..

    justru yang saya salut sampai sekarang adalah tukang loper koran 😀

  • wahyuseptiarki :

    Sepertinya iPad semakin lama semakin wajib untuk dimiliki. *nabung* 😀

  • bangaip :

    mas Pitra,

    Persis! saat pertama adik ipar saya mendemonstrasikan majalah Wired versi iPad, saya terkesan.

    Saya wartawan di media cetak, majalah. Dan setiap "lembar" Wired versi iPad membuat saya ciut. Betapa luas dan dalam format media ini bisa dieksplorasi. Canggih. Mantap 🙂

    Tapi jika pertanyaannya, apakah iPad akan mengubah pola publik mengonsumsi media cetak? Hm, I don't think so. Yes, itu akan berpengaruh. Pasti. Tapi kalau mengubah secara utuh mungkin tidak.

    Atau boleh juga dibilang belum. Lalu, kapan saatnya? Butuh waktu yang lamaaa… proses panjaaang.

    Dan saya, sebagai praktisi media, tidak pernah berpikir bahwa media internet/online berlawanan head to head dengan media cetak. Menurut saya dua bentuk media itu ada di "kamar" yang berbeda. Seperti pernah saya muat dalam blog saya: people aren't giving up swimming, just because they also enjoy surfing :))

    Media internet/online akan terus berkembang. Jelas. Pertumbuhannya akan mempengaruhi banyak aspek kehidupan manusia. Termasuk media massa. Namun, media cetak juga akan berkembang. Menyesuaikan diri dan mendalami lagi peran dan karakteristiknya. I'm pretty sure about this ;p

    Dan semua bentuk media massa ini akan terus saling melengkapi.

    Selain itu, kalau kita bicara dalam konteks Indonesia; digital savvy consumers masih belum merata. Persoalan yang perlu dijawab dulu adalah, kesadaran dan pengetahuan menggunakan teknologi secara optimal. Pendidikan mutlak rasanya.

    Belajar dari industri musik, ketika masyarakat Indonesia belum siap (mass-awareness dan pengetahuan) dengan format digital (CD/file), format kaset dipotong dan mengalami kiamat. Pembentukan opini menunjuk pada: "hari gini masih kaset?"

    Then now… pembajakan jadi persoalan yang rumit penyelesaiannya. Single-hit distribution jadi model paten, sehingga mempengaruhi kedalaman kualitas musisi Indonesia, karena minimnya "tuntutan" merangkai album musik yang lengkap, kaya, dan "bercerita".

    Yes its change… instantly. Unfortunate.

    Kembali ke soal media cetak dan iPad. Apakah teknologi akan mempengaruhi media cetak? Iya.

    Apakah mengubah pola mengonsumsi media cetak? Tidak.

    Media cetak akan menyesuaikan diri dengan keberadaan teknologi. Tapi mengonsumsi media cetak dan multimedia adalah dua hal berbeda.

    Karena: swimming is quite different with surfing 🙂

    Salam.

  • ikilobo :

    hehehe, mantap bener…

    tapi mata bakal cape juga aganya..

    nice post…

    i like it

  • Sri mulyati :

    Kalo saya lebih enak baca2 berita dan artikel secara Online di ponsel nokia e51 pakei Opera Mini,lebih simpel…

  • Sriyono Suke :

    Doh, harus beli iped nih… kalo nggak kalah gaul nih… 😀

  • Andre Siregar :

    Ya, keberadaan iPad akan mengubah pola kita dalam mengkonsumsi media cetak. Realitanya sekarang semakin banyak orang terbiasa menggunakan teknologi dan semakin terbiasa pula mengkonsumsi informasi dan media dalam bentuk elektronik. Bahkan tanpa iPad pun, konsumsi media cetak sudah menurun karena banyak konten yang tersedia di internet yang bisa dikonsumsi secara gratis dan didapat langsung dari rumah tanpa harus pergi ke toko.

    Sebelum iPad, kendalanya hanya di user experience dalam mengkonsumsi konten tersebut: Tidak enak membaca buku di layar kecil; kalau mau baca buku lewat komputer harus duduk di depan layar monitor, dll. Tapi dengan adanya alat seperti iPad, kendala itu hilang.

  • san :

    zaman udah semakin modern,,

    smuanya serba digital,,mantabbb..

  • mawi wijna :

    iPad menurut saya hanya solusi di tengah masyarakat yang padat akses komunikasi dan informasi. Media cetak tetap akan berjaya di pelosok negara kita, seperti pemukiman lereng gunung dan pulau-pulau kecil. Dapatkah iPad merayap ke wilayah-wilayah itu?

  • Icha :

    Kalo aku sih lebih melihat pada kebutuhan kita pada informasi, media apapun yang digunakan itu mah suka-suka pembacax….

    secanggih apapun media dan fasilitas yang ada klo g bisa pakenya mah aq rasa percuma….

  • ndrew :

    yoyoiii..

    iPad bakalan merambah dunia..

  • fajar :

    nice posting, i like it

  • Keisya :

    Duh seandainya tidak ada efek radiasi-nya pasti belajar menjadilebih baik…

  • nengratna :

    saya akan banyak berdo'a supaya dapat ipad. termasuk ipad dari 12 tahunnya detik. (hahaha)

    oia, kenapa sih kindle enggak lebih dilirik sama masyarakat? bukannya setau saya layarnya itu nggak kayak layar digital biasa ya? hemmm… jadi nggak banyak cahaya dan kalo baca lama2 enggak bikin mata terlalu tegang. cocok kan buat org2 yg hobi membaca? hemm.. jawabannya mesti krn ipad lbh banyak yg pake.

  • ranggaw0636 :

    tetap saja lebih enak baca di atas kertas, tidak perlu takut kehabisan baterai

  • doris :

    sekarang memang jaman sudah sangat canggih.. hampir semua bacaan terbaru bisa dibaca melalui internet..

  • Kojeje :

    Yayoiii… Enakan baca di buku

    kalo disitu, sakit mata 🙂

  • iskar :

    ya ya yaaa…

    iPad emang hebet….

    Namun juga semua amat tergantung dgn koneksi jika iPad buat hanya mau dijadikan sarana bergaya yang memang mencolok banget dibawa2nya.

    Semoga makin meningkat kualitas layanan penyedia jasa internet di Indonesia. Sehingga tidak mubazir kita beli teknologi yg ada di gadget mahal yang kita beli….

    (Jadi inget ada yg beli Smartphone muahal tapi cuma dipake telpon, sms kamera ama Bluetooth doangan xixixi)

  • fajarfaqih :

    yang menjadi masalah saat ini adalah daya beli masyarakat Indonesia, sehingga untuk memonetasinya akan sedikit sulit dan kurang lancar, berbeda dengan di AS dan Eropa.

  • Caliser :

    Saya salah satu penikmat solusi mobile digital,walaupun masih bisa dibilang ekonomis,karena penggunaan opera mini via ponsel bahkan utk membaca dan memposting tulisan di web ini.

    Semua kembali kepada kemampuan dan kebutuhan konsumen,seperti fakta bahwa indonesia pengguna dan browsing page terbanyak untuk opera mini

  • Kebiasaan Membaca Baru? | Marketeers :

    […] ini juga bisa dibaca di blog penulis: Kebiasaan Membaca Baru? VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0.0/10 (0 votes cast)VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0 (from 0 votes)Related […]

  • Media Ide » Blog Archive » Melihat Pemanfaatan Teknologi untuk Komunikasi Brand Tahun 2010 :

    […] yang di tahun 2010 ini langsung dengan cepat diadaptasi oleh Kompas, yang menerbitkan aplikasi Kompas Editor’s Choice setiap harinya untuk […]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge