Home » Online Branding

Pilih Pemengaruh atau yang Populer?

2 October 2010 8,998 views 21 komentar

Sudah lebih dari setahun ini kita suka melihat beberapa pengguna Twitter yang membantu mengenalkan program suatu brand. Sesekali di antara tweet-nya, suka ditemukan ajakan yang kalau ditelusuri, akan mengarah pada promosi suatu brand. Umumnya (meski tidak selalu) mereka juga adalah blogger, dengan tulisan bernada serupa bisa ditemukan pula di blognya.

Mereka umumnya dipilih karena dianggap punya pengaruh di ranah daring. Pengaruh dalam artian, apa yang mereka sampaikan, orang lain akan mendengarkannya. Semakin banyak orang lain yang mau mendengar, berarti orang itu punya tingkat pengaruh atau otoritas yang tinggi. Kalau di dunia Twitter, setiap tweet mereka pasti dibaca. Kalau orang yang pengaruhnya tinggi menuliskan sebuah tautan di tweet-nya, maka besar kemungkinannya follower-nya akan mengklik tautan tersebut. Para follower punya kecenderungan untuk percaya akan perkataan orang tersebut.

Seseorang yang dianggap berpengaruh di ranah daring tidak selalu seorang yang populer. Ada pengguna Twitter yang sudah terkenal di dunia nyata, saat masuk di Twitter, follower-nya langsung bejibun. Namun belum tentu juga perkataan orang itu digubris atau diperhatikan. Contoh paling ekstrim adalah @beyonce. Penyanyi Beyonce Knowles ini punya 800.000 lebih follower, tapi itu tidak membuatnya langsung menjadi seorang pemengaruh. Ia bahkan tidak pernah men-tweet sekalipun.

Di Indonesia, contoh yang paling terlihat belakangan ini adalah @tifsembiring. Menkominfo satu ini jelas populer. Siapa yang nggak tahu tentang dia? Follower-nya saja ada 92.000 lebih. Sayangnya, itu tidak langsung bisa membuat dirinya menjadi seorang pemengaruh. Kalau melihat respon di Twitter, banyak sekali yang tidak suka dengan tweet dan performanya sebagai Menkominfo. Berbeda dengan @beyonce, Menkominfo satu ini sebetulnya aktif berinteraksi dan berkomunikasi dengan warga Twittter lainnya. Upayanya ini sebenarnya bagus dan patut dihargai, meski ternyata hasilnya tidak membuatnya disukai banyak orang di Twitter.

Ukuran paling gampang seseorang dianggap populer adalah dari jumlah follower-nya. Bahkan beberapa akun brand pun saat ini (dengan bodohnya) menjadikan indikator jumlah follower sebagai bukti keberhasilan kampanye. Dengan bangganya bilang kalau akun miliknya punya 5.000 follower. Cek dulu, sebenarnya dari 5.000 follower itu ada berapa persen akun bot otomatis? Atau ada berapa persen adalah orang bule asal follow yang sebenarnya bukan targetnya? Di internet ini, ada loh beberapa penyedia “jasa” meraih follower sebanyak mungkin, yang tentunya hanya sebuah mesin bot belaka. Kalau sudah begini, untuk apa sih punya follower banyak tapi nggak pernah berinteraksi sedikitpun dengan kita?

Bisa saja ada seseorang yang hanya punya 1.000 follower, tapi orangnya enak dan terbuka diajak diskusi. Banyak dari tweet-nya yang bermanfaat untuk dibaca. Kalau ternyata ia sempat berbuat salah, dengan cepat ia memohon maaf dan mengoreksi kesalahannya. Ia melakukan serangkaian tindakan di Twitter, dengan tujuan agar para follower-nya percaya dengannya. Kepercayaan yang tentunya sulit dibangun. Namun sekalinya terbangun, akan menjadi kekuatan besar bagi dirinya.

Tentunya lebih asyik memang kalau ada orang yang punya tingkat pengaruh tinggi dan juga populer. Ia memang sudah terkenal lalu memang ia terlibat aktif ngobrol dengan follower-nya. Setiap perkataannya pun didengar oleh follower-nya, bahkan dengan otomatis follower-nya me-retweet pesan yang disampaikan karena setuju dengan pesannya.

Kesimpulannya, jumlah follower tidak lantas membuat seseorang punya otoritas. Artikel lain yang menarik tentang ini bisa pula Anda baca di Mashable (Influnce Versus Popularity).

Kredit foto: familymwr

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

21 komentar »

  • Tweets that mention Media Ide » Blog Archive » Pilih Pemengaruh atau yang Populer? -- Topsy.com :

    […] This post was mentioned on Twitter by Brian Arfi / Fauzan, Media Ide and Pitra, Links. Links said: Pilih Pemengaruh atau yang Populer? http://ff.im/-rrv7Q […]

  • ihsan :

    di manapun kita berada entah di sosial media atau dunia nyata, menurut saya yang paling penting adalah kebermanfaatan kita bagi orang lain. tak peduli betapa besar atau kecil, populer atau tidak populer, diakui atau tidak diakui, kebermanfaatan itulah sejatinya eksistensi manusia bersosial.

  • Belajar Ngeblog di B :

    Pembahasan yg menarik. Populer dan berpengaruh memang sangat dekat. Saya pilih berpengaruh. Gini aja, kepopulerannya tidak diukur dari berapa banyak pengikutnya, tapi dari seberapa berpengaruhnya dia 🙂

  • Taufik Al Mubarak :

    setuju bung, yang penting interaksinya, karena ini inti dari social networking. Saya sering lihat, kalau posting artis atau apalah yang mereka tulis selalu rame yang komen, termasuk rame pula yang jadi follower mereka, meski kadang2 tak ada sesuatu yang bisa kita manfaatkan dari twit mereka. salam kenal bung

  • hahn :

    sepertinya yang layak sebagai pemengaruh dan populer adalahh ndorokakung sama pitra 😆

    #kabur

  • Arham :

    Terinsipirasi dari Mashable ya mas Pit? atau dari Tempointeraktif yang kemarain?

    Saya kemarin sempat berpikir demikian juga.. populer vs pemengaruh. Sayangnya pemengaruh tidak bisa dihitung sementara populer bisa dibalut angka kuantitatif. Makanya saya bingung kok bisa bisa nya saya dipanggil sebagai opinion leader oleh Div Humas Polri… Yang ada malah takut, keingetan kasus politikana saya dulu

  • Pitra :

    @Arham: sebetulnya ini sudah saya diskusikan di Twitter sebelum tulisan Mashable muncul. Jadi pas banget di Mashable muncul, ya melengkapilah.

    Pemengaruh bisa diukur kuantitatif kok, cuma lebih libet. Kalau di Twitter bisa diukur dengan berapa banyak tweet dari user itu di-RT-kan, atau di-reply. Bodoh-bodohannya, kalau sampai semua tweet seorang user di-RT atau di-reply oleh orang lain, maka si orang lain itu 100% menjadi pemengaruh bagi dirinya.

  • mawi wijna :

    hal serupa juga terjadi pada blog,

    kualitas artikel blog tak berpengaruh pada jumlah komentar

  • DOWNLOAD SOFTWARE :

    SANGAT MANTAP

    BOLEH JGA NIEEEEEEEEEEEEEEEEEEE

  • pututik :

    untuk populer tapi kurang bersahabat dengan followernya tentu akan sangat mengecewakan penggemarnya.

  • Alderina :

    Gimana ya pit… kalau mau mengukur secara kualitatif tingkat pengaruh seseorang, pasti akan sulit. Karena tiap orang atau kelompok punya orang-orang yang mempengaruhi mereka. Nah, satu-satunya yang bisa dilihat secara langsung adalah jumlah followers.

    Tapi aku juga ngga setuju kalau jumlah followers menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui tingkat pengaruh seseorang ^^

  • Necky :

    bagi saya blogging adalah curahan isi hati seseorang yang ingin direalisasikan dalam bentuk tulisan. Banyak memang alasan orang2 untuk membuat blog, ada yang mejadikan ajang latihan menulis, bentuk curahan hati, skedar melepaskan uneg0uneg, bisniss, dll. Yang paling terpenting dalam ngeblogging adalah jujur terhadap diri sendiri pak…terus terang saya tidak menggunakan twitter karena lebih enak ngeblogging aja pak…

    bnayak sedikit jumlah followers bukan sebagai patokan kualiutas blog seseorang…..peace

  • maRio :

    followerku ga bnyak nie….

    bru buat twiter soalnya wkwkwk

  • Dr.acer :

    Terkait apakah bisa diukur dengan RT untuk pemengaruh, bagaimana dengan tweeps yang biasanya berstatus agak Alay 😀 … secara umumnya mereka banyak disebutkan lebih suka RT dibanding Reply.

    Oh, ia apa kah Dr. Acer cukup punya pengaruh ya ihik 😉

  • Waraney :

    Hai Pit,

    Telat baca nih. Hasil diskusi waktu itu benar-benar jadi tulisan, rupanya. Gue pernah baca artikel (lupa dimana), kalau social media network yang efektif itu cuma maksimal sampai 1000 Twitter followers/Facebook fans. Lebih dari itu, interaksi antar individu jadi terlalu satu arah, nggak efektif dan nggak seimbang.

    Tapi kalau memang suka jadi seleb/influencer, gak masalah lah ya.

    Gue cukup senang dengan komposisi follower/following gue sekarang. Good conversation and information. Masih berasa ngobrol sama teman lama/teman baru.

  • Pilih Pemengaruh atau yang Populer? | Marketeers :

    […] Tulisan asli bisa ditemukan di blog penulis: Pilih Pemengaruh atau yang Populer? […]

  • Toni @ navinot :

    Perlu dua-duanya. Persona Populer diperlukan untuk menyebar berita, sementara itu pemengaruh diperlukan untuk konversi. Komposisinya, satu populer yang lintas segmen dan beberapa pemengaruh yang eksklusif di tiap segmen.

  • Media Ide » Blog Archive » Jumlah Follower Bukanlah Segalanya :

    […] pernah disebutkan di tulisan dulu kala, bahwa seseorang yang populer tidak berarti adalah seorang influencer yang baik. Seorang pengguna […]

  • batik madura :

    manusia yg dapat dipercaya, sudah hampir punah dan yg populer blom tentu dapat dipercaya

  • ricano11 :

    wah…
    kalo saya perlu dua”nya…
    wkwkwkwk

  • ptc :

    Mimpi dibangun di atas batu yang dipinjam najis sebelum mereka dibuat!
    Mmm … keren nih, Saya Suka Mencari Google Artikel kutipan Suami … hahahaaha

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge