Home » Experiential

Saat Obama Memberi “Kuliah” di Universitas Indonesia

10 November 2010 6,206 views 15 komentar

Jadi ceritanya penulis blog ini dapat undangan tiket menyaksikan kuliah umum yang disampaikan POTUS (President of the United States) Barack Obama di Balairung Universitas Indonesia. Syaratnya, harus bangun pagi-pagi sekali, karena paling telat pukul 5:15 harus sudah berada di Parkir Timur Senayan, untuk bersama-sama dengan belasan bus besar menuju Depok. Baiklah, untuk yang satu hal ini, bolehlah.

Sembari menahan lapar dan haus (karena belum sarapan), rombongan sampai di Depok, dan menjalankan pemeriksaan beruntut. Diawali dengan pengecekan pertama saat bus lewat di antara mobil merangkap mesin pemindai raksasa. Dilanjutkan dengan antrian masuk ke balairung dan pengecekan per individu. Rombongan yang tergabung dalam undangan dari Kedutaan Amerika Serikat ini yang pertama kali mengisi balairung. Menunggu hampir 2 jam sampai akhirnya balairung penuh terisi oleh para pejabat, alumni pejabat, tokoh budaya, pebisnis, sukarelawan, dosen, mahasiswa, dll. Hingga akhirnya Obama menyampaikan kuliah umumnya. Sebenarnya tidak murni kuliah sih. Lebih tepat kalau disebut dengan pidato bercerita.

Mengenai konten pidatonya nggak akan dibahas di sini. Silakan baca saja ulasan yang sudah banyak tertoreh di Kompas, Guardian, blognya Ndoro Kakung, hingga transkrip pidatonya bisa dibaca pula di sini.

Yang lebih akan dibahas di sini adalah figur Obama yang sangat terasa karismatik saat berpidato. Intisari konten pidato yang berhubungan dengan tema edukasi, ekonomi, budaya, politik sebetulnya tidak terlalu spesial. Nggak berbeda dengan konten pidato politisi pada umumnya. Namun di sini, Obama bisa membawakannya dengan luar biasa. Mengaitkannya dengan latar belakang masa lalunya di Indonesia, sedikit-sedikit berbahasa Indonesia, mengaitkannya dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, sehingga menciptakan konteks yang membumi, yang bisa dipahami dan diterima oleh pendengarnya. Pidato serupa bila dibacakan oleh seorang George Bush misalnya, tidak akan memberikan efek serupa. Yang mungkin ada, nanti malah ada salah satu pengunjung yang melempar sepatu ke George Bush 🙂

Obama juga orator yang unggul. Melalui permainan intonasi, jeda saat pengunjung bertepuk tangan, hingga tetap tersenyum selama berpidato. Mungkin tidak banyak yang tahu, sebetulnya ada dua teleprompter di depan panggungnya. Bagusnya, ia tidak terlalu banyak menunjukkan gestur tubuh membaca teleprompter tersebut. Artinya, Obama benar-benar menguasai topik yang ia ungkapkan.

Kalau kata orang pemasaran sih, Obama ini sudah menjadi sebuah brand. Ia punya karakter spesifik. Bila mendengarnya berorasi, orang akan langsung ingat dengan Obama. Ia bisa menyampaikan harapan bahwa segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Ia bisa membuat orang lain untuk percaya akan dirinya. Ia bahkan bisa membuat masyarakat Indonesia, yang notabene bukan rakyatnya sendiri, percaya bahwa masih ada harapan akan demokrasi yang lebih baik di negeri ini. Hal-hal seperti ini yang luput dari karakteristik pemimpin kita, membangun karakteristik pemimpin sebagai sebuah brand yang disukai, diingat, dan didukung oleh rakyatnya.

Namun perlu diingat orasi tidaklah sama dengan eksekusi. Orasi hebat tanpa eksekusi nyata sama saja dengan memberi janji tanpa bukti. Apa yang diutarakan Obama di dalam “kuliah”-nya tadi adalah janji, yang masih perlu dilihat aksi nyatanya. Orasi dan membangun kepercayaan memang penting, karena orang akan punya harapan. Namun tentunya orang akan lebih senang kalau harapannya bisa berbuah menjadi nyata.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

15 komentar »

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge