Home » Online Living

Aksi Sosial di Ranah Daring

18 November 2010 4,583 views 8 komentar

P&GSelalu saja ditemukan cara pemanfaatan social media untuk beragam jenis fungsi. Fungsi yang awalnya sekedar untuk pertemanan dan berbagi informasi bisa diadaptasi untuk fungsi lain. Aksi kepedulian sosial adalah salah satunya. Bencana alam yang terjadi di negeri ini nggak pernah luput dari perhatian para pengguna Twitter dan Facebook. Social media ini dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai upaya penggalangan dana.

Seperti kasus bencana alam yang terjadi di Wasior, Mentawai, dan Merapi. Saat terjadinya bencana, semua orang aktif berbagi informasi, meneruskan berita kejadian dari orang-orang yang berada di lokasi, hingga meneruskan informasi penyaluran dana melalui pihak-pihak terkait.

Contohnya @jalinmerapi, yang berada di garis depan Merapi. Melalui akun Twitter-nya, netizen bisa membaca cepat daftar kebutuhan barang, sehingga para penyumbang bisa dengan cepat tahu kebutuhan apa saja yang paling mendesak. @palangmerah dan @actforhumanity yang ikut mengkoordinir relawan di lapangan, juga membuka kesempatan kepada para netizen untuk mengirimkan bantuan melalui dana ke rekening bencana alam yang mereka kelola. Belakangan ini ada pula @poslangsat yang berdomisi di Jakarta, yang mengkoordinir penyaluran sumbangan di Jakarta, untuk lalu diteruskan dibawa ke Jogja.

Komunikasi yang bergerak cepat di Twitter dan Facebook ini bergerak sangat cepat, bahkan jauh lebih cepat daripada respon Pemerintah Pusat terhadap korban bencana. Perasaan care para netizen tidak hilang. Justru malah semakin kuat, setelah membaca tweet laporan dari orang yang berada di lapangan langsung.

Bentuk kepedulian sosial sebetulnya tidak hanya terjadi saat darurat bencana alam. Ada cara lain – yang meski sebetulnya agak aneh – mulai banyak dilakukan di Amerika Serikat. Para netizen menunjukkan kepeduliannya melalui aksi virtual di social media. Misalnya, dengan melakukan likes di Facebook, menulis tweet dengan tagar tertentu, hingga dengan checkin dan shout di Foursquare. Setiap likes/tweet/checkin akan dikonversi menjadi sejumlah dollar yang lalu akan disumbangkan oleh sebuah yayasan/perusahaan ke sebuah program.

Netizen tidak menyumbang dari dananya langsung. Netizen hanya melakukan aktivitas yang mendorong pihak lain (alias sponsor) untuk menyumbang. Mirip dengan cara yang dilakukan brand yang menyampaikan pesan kalau sebagian keuntungannya akan disumbangkan untuk kemanusiaan. Bentuk care yang rancu ketulusannya, karena ada nama yayasan/perusahaan yang mendomplengkan namanya di atas kegiatan kemanusiaan.

Salah satu contohnya yang menawarkan widget untuk dipasang di blog. P&G akan mengkonversi setiap klik yang terjadi di widget menjadi sumbangan air bersih sehari penuh. Tujuan kampanye ini memang untuk kepentingan sosial, namun P&G ikut pula mendapat keuntungan di sini. Widget dengan logo P&G terpasang di banyak blog secara gratis. Brand P&G ikut tersebar luas.

Bentuk kepedulian sosial yang “aneh” ini mendapat perhatian dari praktisi dan penulis Malcolm Goldwell. Muncul pula istilah slacktivism, yang kurang lebih artinya: tindakan partisipasi melalui serangkaian aktivitas tak berguna – yang merupakan alternatif gampang – daripada sesungguhnya melakukan tindakan yang benar-benar menyelesaikan masalah. Menyumbang dana atau materi disederhanakan menjadi aksi klik semata. Palang Merah di Amerika Serikat misalnya, punya lebih dari 200.000 follower di Twitter dan likes di Facebook, namun kenyataannya sumbangan yang berasal dari daring hanya 3,6% dari total sumbangan yang diterima pada tahun 2009.

Bersyukurlah kita, sebagai netizen di Indonesia. Dengan keterbatasan model pendanaan di ranah daring, kita malah bisa melakukan donasi lebih nyata dan cepat dibandingkan mereka yang di negara maju. Meski pernah ada beberapa brand lokal, seperti Coca-Cola Indonesia dan Magnum Wall’s yang pernah menyumbang berdasarkan jumlah tagar, ternyata masih banyak netizen yang lebih tertarik berkontribusi lebih nyata dengan menyumbang langsung. Mudah-mudahan saja ya perilaku slacktivism ini tidak terlalu menjalar ke negeri ini. Negeri ini lebih butuh bantuan nyata daripada sekedar mengklik-klik saja di social media.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

8 komentar »

  • Kampung Perawan :

    Saya bangga menjadi netizen Indonesia

  • maRio :

    wah ternyata ada udang dibalik rempeyek 😀

  • r10 :

    kalo melakukannnya berdasarkan jumlah tweet dan like berarti ga ikhlas dong, masa jumlah sumbangan berdasarkan jumlah tweet/like0

  • Rusa :

    Rusa menymbang dg doa aja yaaa 🙂

  • kurniasepta :

    akal2akal marketing. Niatnya bukan beramal dari promosi atau beramal berharap imbalan. Gak ikhlas :p

  • The Brandals Beropini Dengan Tema Sosial | Alde Blog :

    […] Media Ide » Blog Archive » Aksi Sosial di Ranah Daring […]

  • Media Ide » Blog Archive » Shoebox Project: Berbagi Manfaat Bagi Orang Lain :

    […] Dunia Twitter tidak hanya untuk mencari teman baru, tidak hanya untuk menemukan pengetahuan baru, tidak hanya untuk mendengarkan isu politik negara, namun dunia Twitter bisa pula dipakai untuk berbagi aktivitas kegiatan sosial. Semua orang pasti tahu bagaimana Twitter bisa dimanfaatkan penghuninya sebagai medium pengkoordinasian sumbangan saat bencana Merapi dan Mentawai. […]

  • Shoebox Project: Berbagi Manfaat Bagi Orang Lain | Lisa Sugeha :

    […] Dunia Twitter tidak hanya untuk mencari teman baru, tidak hanya untuk menemukan pengetahuan baru, tidak hanya untuk mendengarkan isu politik negara, namun dunia Twitter bisa pula dipakai untuk berbagi aktivitas kegiatan sosial. Semua orang pasti tahu bagaimana Twitter bisa dimanfaatkan penghuninya sebagai medium pengkoordinasian sumbangan saat bencana Merapi dan Mentawai. […]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge