Home » Creative Works

Perempuan dan Cerita Iklan

29 November 2010 6,996 views 4 komentar

Kalau diperhatikan ya, sejak beberapa tahun belakangan ini, cukup banyak brand yang ditargetkan untuk perempuan yang membangun penceritaan dalam komunikasinya. Cerita yang membangun emosional audiensnya. Cerita yang dekat dengan pengalaman audiens, atau cerita yang menjadi angan-angan audiensnya.

Masih ingat nggak film pendek Lux yang dibuat tahun 2006? Waktu itu ada 4 film berdurasi masing-masing 10 menit yang bertema tentang kekuatan perempuan. Film-film ini adalah Big Day (Tamara Bleszynski), Bukan Kesempatan Yang Terlewat (Dian Sastrowardoyo),  The Matchmaker (Mariana Renata), dan Maya, Raya, Daya (Luna Maya).  Semua film ini digarap indah, dan pesan yang diangkat menyentuh perempuan Indonesia, kalau mereka punya kekuatan untuk menghadapi beragam masalah, yang sekaligus inline dengan pesan Lux sendiri, “beauty is the power.”

Atau pernah ingat TVC berseri Pond’s? Total ada 5 episod berseri berjudul 7 Days to Love. Audiens menunggu-nunggu kelanjutan episod berikutnya, tak berbeda dengan rasa penasaran yang dibangun saat menonton sinetron berseri. Drama berseri yang sinetron banget ini sebenarnya adaptasi dari Thailand, tapi tetap saja pesannya bisa kena dengan perempuan Indonesia. Di cerita ini ada anxiety perempuan yang khas, kekhawatiran ditinggal pasangannya. Tentunya cerita berakhir dengan happy ending, dengan si karakter perempuan berhasil mendapatkan kembali laki-laki yang disukainya. Tentunya dukungan Pond’s Flawless White yang memutihkan wajah selama 7 hari ikut membantu keberhasilan si perempuan.

Contoh menarik lainnya adalah film pendek Pantene dari Thailand yang benar-benar mengharukan. Film pendek ini bercerita tentang seorang perempuan muda yang bisu dan tuli, yang belajar bermain biola, menghadapi beragam tantangan. Latar musik klasik Canon in D Major karya Pachelbel ikut berperan membangun emosi dalam film. Tagline “you can shine” Pantene benar-benar bisa divisualkan dengan baik dan menyentuh hati.

Cerita yang dibangun Dove juga tak kalah menarik. Hingga saat ini persepsi kita terhadap kecantikan adalah stereotip yang dibentuk oleh industri periklanan dan hiburan. Melalui film pendeknya, Dove menunjukkan kalau kecantikan itu hanyalah rekayasa industri saja. Kecantikan bisa didefinisikan bermacam-macam. Kampanye Dove ini bertujuan untuk membuat banyak perempuan merasa cantik setiap harinya dengan memperluas pandangan stereotip kecantikan. Dalam setiap kampanyenya, Dove menggunakan perempuan sehari-hari, beragam usia, bentuk, dan ukuran. Yang jelas mereka semua bukan model profesional. Simak saja 2 dari banyak film pendeknya: Evolution dan Beauty Pressure.

Mungkin masih banyak lagi kampanye serupa yang membangun emosional melalui cerita. Semuanya tentu dibangun berdasarkan insight target produk itu sendiri. Penyampaian cerita pun haruslah menyentuh hati, sehingga pesan tertanam tanpa sadar di benak audiensnya. Mungkin teman-teman punya contoh lainnya?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

4 komentar »

  • Kampanye Hari AIDS Sedunia | Berita Indonesia Terbaru - Tweetfun.net :

    […] Media Ide » Blog Archive » Perempuan dan Cerita Iklan […]

  • sibair :

    ah klo masalah lux saya tetep suka sama tante luna mas pit… 😀

  • Perempuan dan Cerita Iklan | Marketeers :

    […] ini juga bisa dibaca di blog penulis: Perempuan dan Cerita Iklan VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0.0/10 (0 votes cast)VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0 (from 0 votes)Related […]

  • kurniasepta :

    wanita memang menjadi ajang beriklan yang paling sempurna.

    dan wanita banyak kebutuhannya.

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge