Home » Online Communities

Mempromosikan Film di Social Media

1 December 2010 5,897 views 2 komentar

Kalau diperhatikan ya, gaya promosi film layar lebar belakangan ini semakin bergeser. Kalau dulu saat film Indonesia bangkit kembali, promosi terheboh ya melalui banyak billboard. Semakin banyak poster film terpampang di billboard semakin besar pula ekposurnya. Alternatif lainnya memang melalui resensi film di koran dan majalah. Pola ini masih berlaku sebenarnya hingga sekarang, tapi sudah tidak lagi menjanjikan film itu akan kebanjiran penonton. Orang hanya ingat akan film saat berpapasan dengan billboard, atau membaca sekilas ulasannya. Namun berikutnya sudah lupa begitu saja. Tidak ada kondisi yang mengingatkan penonton terus-menerus akan film itu.

Salah satu promosi film low budget high impact yang bikin kagum adalah Rumah Dara. Situs promosinya sih tidak terlalu heboh. Banyak pula film layar lebar lain yang melakukan promosi dengan cara serupa. Yang heboh adalah aktivitasnya di Twitter, Kaskus, dan Koprol. Di Koprol, dulu pengguna diminta untuk membuat 20 ulasan tempat makan sambil menyebutkan @rumahdara. Tiga orang pertama yang melakukan ulasan lengkap akan mendapatkan tiket nonton gratis.

Sementara itu di Kaskus, forum komunitas terbesar di Indonesia, Rumah Dara memasang banner dan menyelenggarakan kuis dengan hadiah 100 tiket untuk 100 kaskuser yang beruntung. Pertanyaan dikirimkan melalui pesan pribadi ke salah satu admin Kaskus untuk penilaian.

Seperti di Koprol, Rumah Dara secara bertahap mengadakan kontes pula di Twitter. Tiket dibagikan kepada mereka yang menjawab tercepat soal-soal yang diberikan. Karena aktivitasnya ini, dengan cepat akun ini memiliki lebih dari 3.200 follower. Melalui akun ini pula disampaikan info-info seputar Rumah Dara dan para bintangnya.

Hari pertama penayangannya di bioskop tidak ditujukan untuk media dan orang-orang penting perfilman. Hari pertamanya justru ditujukan untuk para pengguna social media di atas. Setelah acara selesai, para penggemar bisa ngobrol dan minta tanda tangan langsung dengan artis-artis utamanya.

Selanjutnya tanpa ada promosi lebih lanjut, percakapan seputar film Rumah Dara berlangsung dengan sendirinya di Twitter, Kaskus, dan Koprol. Beberapa blogger ikut pula mengulasnya. Buzz tentang film ini pun bergulir kencang, membuat orang lain jadi ikut penasaran untuk menonton. Akun Twitter Rumah Dara masih secara aktif memberikan pancingan agar follower-nya tetap punya bahan untuk dijadikan obrolan.

Film Rumah Dara memang diakui bagus, horornya benar-benar mencekam. Produk yang bagus dengan buzz yang terus berlangsung bisa membuat film ini bertahan lama di banyak bioskop di Indonesia.

Kasus lainnya adalah film Sang Pencerah. Film ini berkualitas bagus. Terlepas dari beberapa kritikan yang muncul, umumnya para netizen memuji film ini. Produknya bagus, dan jelas memberikan nilai jual. Sayangnya buzz-nya di social media hanya berlangsung pendek dan sporadis. Yang aktif melakukan promosi film ini hanya produsernya seorang. Lama-lama tentu habislah energi untuk membalasnya.

Di Twitter banyak yang membahas kontroversi sejarah yang diceritakan di film Sang Pencerah. Seandainya saja krisis ini bisa lebih dielaborasi dan diangkat, tentu orang-orang akan semakin penasaran. Kalau semakin banyak yang penasaran, semakin banyak pula yang akhirnya akan tertarik menonton film ini.

Memang kalau bicara film sekarang, nggak akan mungkin lepas dari social media. Kalau dulu selepas penayangan film layar lebar, kita mencari resensinya di koran atau majalah. Kalau ternyata ulasannya bagus, kita baru tertarik untuk menonton. Lucunya, kita percaya saja pada kata satu orang wartawan yang meliputnya.

Sekarang, referensi perfilman kita dari social media. Kita mencari tahu apakah film ini bagus atau jelek dari teman-teman kita di Facebook, Twitter, mailing list, forum, dll. Kita mencari pendapat banyak orang. Saat banyak orang membicarakannya, kita pun tergerak untuk ikut menonton, karena kita nggak mau ketinggalan tren.

Selain Ruma Dara dan Sang Pencerah, mungkin rekan-rekan punya referensi film Indonesia lain yang sempat bergaung luas di social media?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

2 komentar »

  • kurniasepta :

    filmnya miyabi gak dibahas?

  • iptek UMY :

    aku blm liat filmnya…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge