Home » Online Branding

Mengamati Brand di Twitter

10 March 2011 4,607 views 9 komentar

Sejak setahun belakangan ini, jelas terlihat semakin banyak brand Indonesia terjun ke ranah Twitter. Dari brand kelas besar dengan pengelolaan social media yang profesional, hingga brand kelas rumahan yang akunnya dikelola pribadi oleh pemiliknya. Sampai saat ini terhitung (bisa salah bisa benar ya), ada sekitar 100-an brand lokal aktif di Twitter. Sebenarnya apa saja sih yang mereka lakukan di Twitter?

Menangani Keluhan (dan Pujian)

Ini bisa jadi tugas paling berat sebuah brand di Twitter. Mereka menanggapi semua pertanyaan yang muncul seputar produk atau layanan mereka. Saat brand mulai berani menunjukkan dirinya di Twitter, bersiaplah menerima respon keluhan dari warga Twitter. Orang akan lebih banyak ingat dan mencari perwakilan brand di Twitter saat ia menghadapi sebuah masalah. Ia bisa berbicara panjang lebar, terkadang kala emosi, menggunakan huruf kapital, saat ia menunjukkan kekesalannya terhadap suatu brand. Brand perlu merespon dengan hati-hati setiap keluhan pelanggan. Jangan sampai krisis yang sudah terjadi, lalu melebar luas ke seluruh penjuru Twitter.

Beriklan

Tujuan brand masuk Twitter nggak mungkin kalau nggak beriklan. Tinggal caranya saja yang berbeda dengan media tradisional. Informasi iklan bisa bersifat hard sell, terutama ditujukan untuk para follower yang memang sudah menjadi pelanggannya. Biasanya bersifat terbatas dan hanya bisa didapat saat pengguna mengikuti linimasa brand tersebut. Misalnya: info diskon khusus untuk follower. Namun ada pula yang sangat soft sell, yang lebih banyak bicara ke topik yang satu tema dengan karakteristik brand-nya. Misalnya: brand air minum yang banyak bicara tentang sehatnya minum air putih.

Ngobrol

Brand yang kaku di Twitter pastinya akan sepi follower. Pengguna tahu akun brand dipegang oleh manusia, dan pastinya akan lebih senang kalau pengguna bisa ngobrol dengan manusia dibandingkan dengan mesin. Obrolan dalam artian saling interaksi, tanya jawab, memberikan sapaan, ajakan, dengan kata-kata yang sesuai karakteristik brand-nya. Biasanya yang paling sering dan paling relevan dalam mengajak ngobrol adalah brand radio. Twitter menjadi perpanjangan obrolan yang saat itu berlangsung live di radio. Pendengar acara di radio yang kesulitan menelepon bisa memanfaatkan Twitter untuk ikut berinteraksi.

Berbagi Informasi

Ada pula yang tidak ngobrol, tapi akun brand ini tetap punya banyak follower. Biasanya karena akun brand ini membagikan informasi menarik yang dibutuhkan para follower-nya. Situs portal memberikan tautan terhadap berita dan aktivitas komunitas yang menarik di portalnya. Biasanya informasi di Twitter dibumbui dengan kalimat yang mengundang penasaran, sehingga follower pun nggak tahan kalau nggak mengklik tautan yang diberikan.

Kontes

Nggak jarang ada akun brand yang hanya hidup selama 2-3 bulan. Brand hanya memanfaatkan Twitter untuk kepentingan pendeknya semata, seperti promosi kegiatan event. Biasanya akun hanya dipakai untuk memantau kontes yang diselenggarakan di Twitter. Keberadaan hadiah saat ini masih menjadi jaminan utama bagi brand utuk mendapatkan follower baru. Meski sayangnya kebanyakan yang melakukan ini hanya berpikir jangka pendek. Setelah masa kontes usai, akun Twitter yang dikelola brand pun ikut mati, tanpa aktivitas. Padahal aktivitas di social media adalah kegiatan yang seharusnya berjalan terus-menerus sepanjang masa, bukan hanya periode pendek.

Liputan

Untuk beberapa brand yang sering menyelenggarakan event, akun Twitter sering dipakai untuk menyajikan reportase langsung kegiatan. Twitter dipakai untuk menyebarkan informasi yang terjadi selama acara untuk mereka yang tidak sempat datang ke lokasi.

Tanya Jawab

Belakangan ini kegiatan tanya jawab Twitter terlihat semakin banyak. Ada pula brand yang ikut serta menyelenggarakan kegiatan ini di Twitter. Rangkaian pertanyaan dan jawaban terjadi antara akun brand dan individu yang dijadikan referensi diskusi tanya jawab.

 

Mungkin masih banyak lagi sih ya aktivitas brand yang belum tersinggung di atas. Mungkin teman-teman punya pemikiran yang bisa ditambahkan?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

9 komentar »

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge