Home » Online Communities

Memutuskan Menjadi Seorang Buzzer

4 April 2011 9,610 views 34 komentar

Dulu masa blog masuk masa popularitas, bisa terhitung dengan jari siapa saja yang terlihat sebagai influencer utamanya. Waktu itu brand meminta bantuan para blogger untuk menuliskan artikel dengan memuat informasi brand sebagai bagian dari tulisannya. Sekarang di eranya Twitter merajalela, peran individu yang menjadi influencer/buzzer/rainmaker/catalyst/apapun namanya melebar. Bisa dibilang, banyak kesempatan menjadi seorang buzzer di ranah Twitter. Tidak harus menjadi selebriti yang punya puluhan ribu hingga jutaan follower, seorang individu yang tidak kita kenal sebelumnya asalkan punya karakteristik tweet yang khas dan punya follower yang loyal, bisa menjadi seorang buzzer.

Tidak ada rumus pasti bagaimana menjadi seorang buzzer yang baik. Tidak ada sekolahnya, tidak ada kuliahnya, dan yang jelas tidak ada aturan main bakunya. Namun saat seorang buzzer terikat kontrak kerja sama dengan sebuah brand, maka tentu ada kewajiban yang harus ia lakukan. Menginformasikan program kampanye sebuah brand tanpa si buzzer harus kehilangan karakter aslinya di ranah Twitter. Antara susah dan mudah. Antara memberikan benefit bagi diri sendiri dan tidak kehilangan follower yang susah payah diraihnya.

Mungkin beberapa pertimbangan berikut perlu dipikirkan sebelum seorang pengguna Twitter sebelum memutuskan menjadi seorang buzzer:

  • Tidak semua brand cocok dengan diri kita. Bisa jadi ada brand yang mendekati kita karena kita punya jumlah follower yang luar biasa banyak. Cek dulu, karakteristik follower kita seperti apa sih. Biasanya kita menulis tweet seperti apa yang sering di-RT oleh mereka? Lalu apa sih yang biasa kita tweet sehari-hari? Kalau biasanya kita menulis tweet tentang sesuatu yang fun di mata remaja, pastinya kurang nyambung dong kalau akhirnya kita menjadi buzzer sebuah brand sabun cuci.
  • Kemaslah tweet dalam bahasa yang sesuai karakter kita. Jangan hilangkan itu agar follower kita pun tetap menikmati tweet yang kita buat, meski itu bersifat soft selling terhadap sebuah brand. Kalau kita pandai meramu kata-kata setiap harinya atau pandai menggombal, misalnya, maka susunlah pesan yang ingin disampaikan brand dalam kata-kata tersebut.
  • Jangan terima brief apa adanya dari brand atau agency yang mewakilinya. Kita lebih mengenal karakter follower kita daripada mereka. Beranikan diri untuk mengajukan usulan penyampaikan pesan tweet yang kita anggap lebih elegan dan lebih mudah diterima oleh follower kita.
  • Terkadang ada brand yang meminta kita menuliskan tweet pada jam tertentu dengan jumlah 3 tweet per hari, misalnya. Kesepakatan dengan brand memang hanya mewajibkan kita menulis 3 tweet per hari, tapi coba kita tanyakan ke diri sendiri, apakah hanya dengan 3 tweet per hari, suatu pesan yang bersifat soft selling bisa tertanam di benak follower kita? Sebagai buzzer kita punya andil menyukseskan kampanye brand. Kalau menurut kita, kesuksesan pesan lebih bisa dicapai kalau tweet harus disampaikan dalam jumlah lebih banyak, namun dengan cara yang sangat halus, ya kenapa tidak kita tawarkan solusi itu ke brand?
  • Saat menjadi seorang buzzer, kita membangun percakapan dengan follower kita. Kita membangun teaser, cerita, dan puncak penyampaian pesan, yang menjadi kesatuan utuh. Pesan sebuah brand tidak bisa disamakan dengan iklan baris sebuah situs berita, yang sekedar menyelipkan tweet sponsor di antara setiap tweet percakapan kita.
  • Sebagai seorang buzzer, kita juga menjadi semacam brand ambassador. Artinya, kita perlu kenal dengan produk brand itu. Kita pernah merasakannya, atau ingin sekali mencobanya. Kalau kita pernah mencobanya, tentu akan mudah kita membagikan pengalaman ini kepada orang lain. Kita bisa berbagi cerita mengapa produk brand ini bisa bermanfaat bagi follower kita. Kalau memang produk brand ini belum pernah kita coba, setidaknya kita bisa mengajak follower kita untuk sama-sama berbagi imajinasi seandainya produk itu kita pegang.
  • Inti menjadi seorang buzzer adalah menjadi pencerita. Jangan bercerita dengan subjek diri kita sendiri. Jangan pamer foto kita mencoba sebuah produk dengan kita yang menjadi fokus utamanya. Kita tentu ingin follower kita merasakan apa yang kita rasakan. Jadi, berikanlah sebuah cerita yang memang menarik untuk orang lain.
  • Seorang buzzer yang sukses pasti sering kebanjiran pesanan dari banyak brand. Kita perlu membatasi diri juga, jangan sampai separuh dari isi tweet kita adalah pesan produk. Follower pun lama-lama akan muak. Aturlah kemampuan diri sendiri (dan lihat kadar kemuakan follower) dan berani berkata tidak, kalau memang itu akan membuat karakter diri kita hilang karenanya.

Pengalaman diri sebagai seorang buzzer memang belum banyak sih, namun mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan untuk rekan-rekan kalau seandainya nanti ada pihak brand atau agency yang mewakilinya mendekati Anda.

Kredit foto: net_efekt

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

34 komentar »

  • Triunt :

    mantab nih tips2nya mas.
    Sedang mempelajari juga, siapa tahu kedepannya punya kesempatan jadi buzzer πŸ™‚

  • giewahyudi :

    Dapat tambahan ilmu disini setelah belajar jadi rainmaker (baca : pawang hujan) dari Ndoro beberapa hari yang lalu..
    giewahyudi baru saja menulis..Drama Rossi dan Stoner di Jerez

  • algagla :

    Setuju banget ! Nice post πŸ™‚

  • Didik Wicaksono :

    Wah, artikel ini bisa jadi masukan juga buat Brand untuk mendekati influencer/buzzer πŸ™‚

  • akhy :

    tanya, gimana pemilik brand bisa tau kalo calon buzzer-nya berpotensi kalo gak dari jumlah follower?

  • Pitra :

    @akhy: nah untuk itu, baca posting yang dulu ini ya: http://media-ide.bajingloncat.com/2011/02/02/jumlah-follower-bukanlah-segalanya/

  • Aziz Hadi :

    Info yang menarik.. siapa tahu bisa jadi Buzzer juga..

    terima kasih

  • nanath :

    Nice inpo kk.
    *mandi madu biar di jadiin buzzer*

  • akhy :

    nice article.. *ngesot ke posting sebelah*

  • hamid :

    *manggut manggut* *lanjut baca*

  • waterbomm :

    iyah, jadi bingung… brand apa yang nyantol ke orang yang suka ngetwit tentang mantan itu ya… *eh*

  • Rusa :

    masih blom pernah disunting brand u/ jadi tukang koar2nya
    mungkin krn follower Rusa gak sebanyak kak pitra kali ya πŸ™‚

  • seragam sekolah :

    keren neh postingannya.. buat pembelajarab buat semua pengguna twitter
    seragam sekolah baru saja menulis..Comment on Harga by grosirseragamsekolah

  • Billy Koesoemadinata :

    ini pernah jadi #kultwit bukan ya? *liat2 fav tweets*

  • sibair :

    waw baru tau istilah buzzer/rainmaker/catalyst πŸ˜€

  • susisetya :

    wah jadi kepengen jadi buzzer nich, asyik postingannya thanl’s jadi tahu tips tipsnya..
    susisetya baru saja menulis..obat alami gangguan vitalitas

  • -tikabanget- :

    kakak pitra hebat..
    aku mau diajari jadi buzzer, kak..
    aku masih nyubi niiih…
    -tikabanget- baru saja menulis..On Ground Activation ituh 01

  • Chic :

    “Tidak ada rumus pasti bagaimana menjadi seorang buzzer yang baik.”

    errr tidak ada rumus pasti juga kenapa seseorang didekati agency untuk menjadi seorang buzzer karena jumlah follower bukan lah jaminan.
    kalo gitu, ini profesi yang tidak jelas!

    ah kakak Pitra berubah :'(
    Chic baru saja menulis..Kreasi dari Stik Ice Cream

  • BLOG Personal @kurniasepta :

    Mash menikmati ngetwet sbgai hiburan saja. Belum kepikiran ke sana. Follower jg msh sedikit. Yg saya tahu, di akun twitter yg berprofesi buzzer dan brhasil adlh ndorokakung

  • yoesz :

    Memang harus beda yaa, selamat memutuskan dan semoga berhasil! πŸ˜€
    yoesz baru saja menulis..Komputer Saya Terkena Malware

  • ajengkol :

    Wah masih menikmati tweet sebagai ajang temenan aja πŸ™‚
    ajengkol baru saja menulis..Sex in the City

  • hajarabis :

    nice..
    sempatkan juga mengunjungi website kami di http://www.hajarabis.com
    sukses selalu!!

  • Media Ide » Blog Archive » Saat Selebriti Menghilang… :

    […] runtutan tweet kan bisa ditulis dengan cara yang jauh lebih menarik. Mungkin Sandra Dewi perlu baca tips ini lebih dulu. Hasilnya, untuk seorang selebriti dengan 360.000 follower, ia cuma bisa menghasilkan tidak lebih […]

  • sewa mobil di surabaya :

    makasih buat infonya

  • Belajar Forex :

    info yang bagus

  • rumah dijual :

    tips yang bagus,,,
    rumah dijual baru saja menulis..Dijual Apartemen Meditrania Palace Kemayoran

  • Obat Anti Rokok :

    sangat bermanfaat! buzzer sehat tentunya..
    terus berbagi!
    Obat Anti Rokok baru saja menulis..Kebakaran Gunung Sumbing Diduga karena Puntung Rokok

  • Silvia :

    Halo mas Pitra, saya mau pola interaksi buzzer-follower buat skripsi saya, kira-kira hal apa yang menarik buat diteliti, saya minta sarannya. kalo efek ke brand sendiri measurable apa tidak?

  • Pitra Satvika (penulis) :

    @silvia, mungkin bisa baca postingan ini: http://media-ide.bajingloncat.com/2011/09/27/ngobrolin-brand-agency-buzzer-dan-quiz-hunter/

    Itu rekap obrolan antara brand, buzzer, agency, dan quiz hunter saat Social Media Festival dulu.

    Yang bisa dijadikan ukuran paling seberapa banyak pesan brand ter-mention akibat percakapan yang dilakukan oleh buzzer dengan followernya.
    Atau kalau si buzzer mencantumkan link ke website brand, seberapa besar leads ke website yang masuk dari percakapan yang dilakukan si buzzer.

  • The-Netwerk :

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik dan menambah pengetahuan .
    makasih infonya yya gan .

  • Silvia :

    Mas Pitra maaf saya banyak nanya, hehe mungkin kalo berkenan mas pitra nanti bisa jadi responden sebagai praktisi agency, di skripsi saya nanti ada depth interview sama buzzer mungkin, apakah ada kode etik dari agency untuk buzzer mereka harus menyembunyikan identitas sehingga saya tidak diperkenankan untuk menyebutkan nama dalam penelitian?

  • Pitra Satvika (penulis) :

    @Silvia:
    Kalau itu kayaknya bisa ditanyakan ke buzzer-nya. Ada yang terbuka, ada yang nggak mau menyebutkan kalau dirinya buzzer. Hihi, soalnya aneh kalau dia malah mengaku jadi buzzer (berbayar), karena niatnya kan sebetulnya menjadi salah satu orang yang mendukung brand dengan “tulus”. πŸ™‚

  • TanyaJogja :

    menginspirasi emang.. tetep kudu tambah wawasan

  • layakbaca :

    makasih pengalamannya , salam kenal .. saya mau belajar jadi seorang buzzer dan artikel in sangat membantu saya..
    layakbaca baru saja menulis..Inilah 5 Mitos Tentang Kesehatan Tulang yang Harus di Ketahui

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge