Home » Online Living

Kontes Daring dan Para Pemburunya

11 April 2011 6,741 views 12 komentar

Sudah dua tahun lebih banyak brand lokal yang memanfaatkan kanal daring untuk melakukan engagement dengan konsumen. Cara yang paling sering dilakukan adalah dengan menyelenggarakan kuis atau kontes yang spesifik hanya untuk target mereka di ranah daring. Bentuk kreasinya tentu bermacam-macam, disesuaikan dengan tema kampanye, dengan mekanisme permainannya masing-masing.

Kalau dulu kuis di radio selalu diikuti oleh banyak penggemar setia. Saking seringnya menunggu kuis, hingga yang menang umumnya adalah orang yang itu-itu lagi. Kini di ranah daring, perilaku para pemburu kuis juga sudah terlihat. Beberapa nama yang sama terlihat muncul di setiap kontes, tanpa peduli apakah si pemain punya ikatan emosional dengan brand tersebut. Tujuan mereka ya cuma satu: mendapatkan hadiah, tak peduli siapakah brand yang menyelenggarakannya.

Cara mendapatkan hadiah pun bermacam-macam. Ada yang sangat kasar, dengan mempelajari sistem lalu mencoba meng-hack-nya. Ada yang bermain lebih bersih dengan berusaha mengakali mekanisme permainan. Ia tidak melakukan kecurangan, tapi ia lebih mencari titik kelemahan mekanisme ini di sebelah mana.

Kontes banyak brand di Facebook dan Twitter bisa ditemukan setiap hari. Kalau dulu, mungkin kita berpikir enak bikin kontes di social media, karena penyelenggaraannya bisa lebih terukur. Kalau dalam kontes menggunakan sistem point, maka peserta bisa melihat point itu secara transparan. Kenyataannya sekarang, setiap penyelenggaraan kontes seperti ini kita harus mengantisipasi kecurangan yang mungkin dilakukan beberapa peserta. Beberapa kasus yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

  • Kontes popularitas, yang mengandalkan jumlah likes Facebook. Dulu penyelenggara kontes pasti berpikir kalau menggunakan akun Facebook sebagai identitas pemain akan mengurangi kecurangan yang terjadi. Asumsinya, setiap orang punya akun Facebook uniknya masing-masing. Kenyataannya, sekarang sudah sangat banyak akun palsu di Facebook. Sangat mudah untuk seseorang untuk membuat akun Facebook baru, untuk membantu meningkatkan jumlah likes. Bahkan ada beberapa pelaku yang melakukan jual beli likes secara terbuka. Mereka menerima jasa berbayar untuk setiap jempol likes yang mereka berikan kepada para peserta kontes.
  • Kontes popularitas, yang mengandalkan vote peserta. Biasanya setiap vote dilihat dari alamat email unik yang dikirimkan. Ini pun semakin sulit dipercaya, karena dengan mudahnya peserta kontes membuat email palsu. Kalaupun ia malas melakukan registrasi email baru, ia bisa memanfaatkan fasilitas email yang menyediakan alamat sementara. Registrasinya jauh lebih mudah. Meski alamat email ini bersifat sementara saja, namun mencukupi untuk kepentingan kontes.
  • Menghitung point berdasarkan jumlah invitation. Mengingat pengguna bisa punya banyak email atau akun Facebook, maka kejadian serupa di atas bisa terjadi pula pada perhitungan jumlah invitation.
  • Kontes banyak-banyakan mention atau RT di Twitter. Antisipasi yang perlu dilakukan tak berbeda dengan di atas. Meski dibatasi peraturan kalau dalam satu hari hanya berlaku satu mention dari satu pengguna Twitter, peserta bisa membuat ratusan akun Twitter baru untuk mengakalinya.

Kalau sudah tahu hambatannya, sekarang sebagai penyelenggara kontes, tinggal memikirkan solusinya. Haha, nggak susah dan nggak gampang juga sih jawabnya. Nanti saja ya dilanjutkan di tulisan berikutnya!

Kredit foto: Zior_

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

12 komentar »

  • Adham Somantrie :

    kalo kuantitatif sudah semakin sulit dipercaya, ya mesti dicoba secara kualitatif. walopun terkadang menjadi agak subjektif.
    Adham Somantrie baru saja menulis..Xerox Phaser 3124 on Mac OS X

  • Billy Koesoemadinata :

    baru tau susahnya bikin kuis di dunia maya itu, setelah bikin kuis sendiri..

    dan, ketauan jelas siapa yang jadi pemburu, dan bukan..

    ternyata rese juga ya mereka.. mulai dari banyak2in input, sampe nanya2 kalo dapet hadiah belom dikirim juga..

  • cK :

    bisa sih dicegah kalau bikin kontes mendapat poin dengan membeli produk, tapi ribet dan gak semua orang mau beli produknya. apalagi kalo produknya mahal.

  • waterbomm :

    terus cara yang gimana yang gak mengundang pesertanya untuk berbuat curang seperti yang disebutkan diatas? mungkin om pit punya solusi ๐Ÿ˜€

  • umenumen :

    Hahahaha….gimana, Bil, setelah “lihat” sendiri? :))

    Ya begitulah gue… :p
    umenumen baru saja menulis..Jangan Abaikan Firasat

  • sibair :

    Hihihi emang banyak yang kayak gitu ya.. sangking pengen banget dapet hadiah sampe harus banyak bikin account palsu..

    Nah, klo lomba banyak2an mention terus ngasih tau temen-temen biar mention lewat DM termasuk curang juga gak mas, pit?

  • Arham :

    untuk kontes popularitas bisa diperjual belikan loh vote nya…kemarin baca dimana gtuh …hihiihi

  • Media Ide » Blog Archive » Kontes Daring dan Antisipasinya :

    […] tulisan sebelumnya telah disebutkan ada banyak cara para peserta kontes mengakali permainan. Tentunya sebagai […]

  • kurniasepta :

    pengen kontes yg benar2 berdasarkan penjurian, biar bisa terlihat kwalitasnya ๐Ÿ˜€
    kurniasepta baru saja menulis..Mengenal Blitar Lewat Blitar Djadoel

  • Rusa :

    kontes review buat blogger sepertinya pilihan terbaik u/ brand ๐Ÿ˜€

  • webpages :

    bisa sih dicegah kalau bikin kontes mendapat poin dengan membeli produk, tapi ribet dan gak semua orang mau beli produknya. apalagi kalo produknya mahal.

  • Kiki :

    Minta tolong ya teman-teman yang suka ikut kuis berhadiah di media sosial untuk isi dan sharing link di bawah ini, untuk bahan skripsi…
    https://docs.google.com/forms/d/1SaeirSoMaPTMClmYz6lGG8vDs1qnivxME8fcQKIu2MQ/viewform
    tolong ya..
    terima kasih banyak bantuannya… =)

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge