Home » Online Living

Twitter – Antara Teori dan Realita

15 April 2011 13,569 views 19 komentar

Tulisan hari ini yang fun saja. Tentunya Anda sudah banyak mendengar “aturan” tak tertulis di Twitter. Banyak yang telah berbagi cerita tentang itu (hihihi termasuk di blog ini). Namun sesungguhnya “aturan” hanyalah panduan. Kenyataan realitanya bisa jadi berbeda sama sekali. Apakah Anda juga merasakan hal serupa?

Teori

Realita

Lebih baik punya follower sedikit. Yang penting mereka selalu merespon dan berinteraksi dengan kita. Aaah, jumlah follower saya kok naiknya pelan banget??
Sebenarnya tidak nyaman kalau sampai di-RT oleh artis. Kita jadi sulit memilah mana tweet yang ditujukan ke kita, dan mana yang sekedar mention. Kapan lagi ya tweet saya di-RT artis? Lumayan banget buat nambah jumlah follower.
Semua pengguna kedudukannya horisontal di Twitter. *menunggu mention dari si selebriti yang tak kunjung tiba*
Jangan gunakan RT untuk reply. Hmm… baiklah RT @saya Jangan gunakan RT untuk reply.
Twitter hanya untuk mengobrol singkat. Tidak cocok untuk bercerita panjang lebar. Gunakanlah blog untuk itu. Masalahnya, yang baca blog saya semakin sedikit. Semua pindah ke Twitter.
Hindari fitur twitlonger. 140 karakter sudah sangat efektif kok untuk mengirimkan pesan. Jadi saya harus bikin kuliah tweet bersambung?
Nickname Twitter kita harus mencerminkan brand yang akan kita bangun. Saya telat masuk Twitter, semua nickname yang identik dengan saya sudah diambil semua.
Bangunlah personal brand, dengan berbagi informasi dan tautan yang relevan dengan karakteristik diri kita. Kalau isi tweet-nya serius, siapa juga yang mau follow saya ya?
Kita bisa melihat persepsi pengguna Twitter terhadap kita, dengan melihat kita dimasukkan dalam list mana saja. Kok yang me-list saya masih nol ya?
Gunakan akun Twitter terpisah untuk pribadi dan untuk berjualan. Aduh, bangun dari awal lagi? Mulai dari 0 follower lagi?
Kalau tweet kita memang menarik, suatu waktu pasti akan ada yang membaca lalu tertarik untuk mem-follow kita lebih lanjut. Nggak perlu memaksa minta follow back. Iyaa, tapi kapaaan?
Twitter kurang cocok dijadikan platform untuk pertemanan. Gunakan Facebook untuk itu. Dasar sombong! Teman sendiri kok nggak mau follow saya.

Hihihi, ada masukan lagi?

Kredit foto: Matthias Töpfer

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

19 komentar »

  • sibair :

    Setuju sama yg terahir mas pit! sampe-sampe temen yang dulu sering ketemu di Surabaya waktu pindah ke jakarta malah jadi songong… tiba-tiba unfollow aja.. hahaha Tapi emang tweet saya gak menarik sih 😀 #eaaa

  • jarwadi :

    iya nih bang pitra, kenapa follower saya ngga nambah nambah 😀

  • arief maulana :

    kapan yah followerku nambah 🙁

  • Bung Iwan :

    jangan menggunakan RT untuk reply?
    hmmm… ada kerugiannya. kadang yang di-reply suka hilang ingatan dia reply kata2 yg mana. Jadi saya tetep pilih RT.
    gunakan akun pribadi dan akun jualan terpisah. itu sudah saya lakukan. hehehe.

  • kurniasepta :

    Teori itu kan yg buat manusia, jadi tori dibuat juga tidak harus dilaksanakan, prakteknya dimanapun lebih sulit. Menuruti perasaan saja. 😆
    kurniasepta baru saja menulis..Kabar Baru Blogdetik- Aggregator dan Button Suka

  • Rusa :

    aku jadi males kalo ada yg kenal dekat tiba2 follow
    takut ntar ditanya, koq gak follback? #eaaa

  • yoesz :

    semoga dengan membaca teori dan realita ini, follower saya nambah *loh 8D
    yoesz baru saja menulis..Komputer Saya Terkena Malware

  • As_3d :

    Mhmmm….
    saya kapan di polbek?
    As_3d baru saja menulis..Pria bernama Otto

  • @goenrock :

    @Bung Iwan: situ follow orang gila ya? Kok suka ilang ingatan. *lari*
    Ada yg namanya link “in-reply-to” lho. Jadi kalau reply pake “Reply/Reply all” bisa di-view as conversation -> http://twitpic.com/1fhmx0
    @goenrock baru saja menulis..Video Parodi Foursquare oleh @id4sq

  • Taufiq :

    Satujuh dan menanggapi @Bung Iwan dan @goenrock. saya malah lebih bingung dengan RT, nyambung kemana2, malah susah juga liat conversationnya,
    lah pake reply lebih gampang liat conversationnya.
    secara bahasa juga bener “Reply” buat mbalas dan RT untuk “Retweet” 🙂
    #CMIIW

  • Bustanil :

    ahhahaa,, menarik juga.
    silahkan follow @Bustanil dan akan saya follback, tks

  • devieriana :

    Ada pengalaman kurang mengenakkan ketika mengingatkan seorang teman yang selalu membalas tweet dengan RT. Responnya adalah : dikata-katain yang saya terlalu sok tahu, sok ini, sok itu.. bla, bla, bla..

    Respon saya : bengong.. :p

  • adhi :

    wah twitter bisa jadi serius jg yah,,,dibawa enjoy aja hahahhaha

  • Indoberita.tk: Portal Berita Indonesia :

    Sangat bagus dan inspiratif
    Indoberita.tk: Portal Berita Indonesia baru saja menulis..Dikubur 40 Hari- Iksan Pulang ke Rumah

  • IG Jepara: Lembaga Operasional Jepara Indikasi Geografis Produk :

    Artikelnya menarik untuk disimak
    IG Jepara: Lembaga Operasional Jepara Indikasi Geografis Produk baru saja menulis..Pengajuan Perlindungan Indikasi Geografis

  • Multibrand :

    Tulisan yang menarik tentang teori dan realitas Twitter.
    Multibrand baru saja menulis..Terrorist at the Jakarta Lawyers Club

  • The-netwerk :

    nice..
    sempatkan juga mengunjungi website kami http://www.the-netwerk.com
    sukses selalu!

  • inmytree :

    realita di Indonesia emang beda ama di negara asalnya 🙂 akunnya Guy Kawasaki, Mashable, HubSpot, DanZallera tuh isi serius semua, tp followernya banyak…tidak berlaku di Indonesia 😀 (kecuali akun media tentunya)

  • Alderina :

    Untunglah aku ngga kaya gitu…

    Aku yang kiri… #sombong #inipamer #hoohpamer
    Alderina baru saja menulis..Jalan-Jalan ke Bogor

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge