Home » Experiential

IDBYTE Conference 2011

15 July 2011 3,453 views 3 komentar

IDBYTE Conference diselenggarakan hari Kamis, 14 Juli 2011 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, setelah sebelumnya selama 3 hari diadakan workshop. Pembicara yang hadir di IDBYTE Conference ini sangat beragam, dari perwakilan Facebook, Google, LinkedIn, eBay, hingga pembicara lokal dari Kaskus dan Mig33.

Setelah acara dibuka resmi, yang berbagi cerita pertama kali adalah Javier Olivan dari Facebook. Javier sedikit bercerita tentang perkembangan Facebook dari awal berdiri hingga kini. Ia berbagi cerita tentang fitur Facebook Photos, yang langsung jadi primadona bagi para penggunanya. Fungsinya sederhana, hanya galeri foto. Yang membedakannya dengan fitur serupa di situs berbagi foto adalah kuatnya faktor social graph di Facebook.

Javier juga bercerita kalau Facebook selalu ingin bisa semakin banyak diakses oleh banyak orang dengan mudah. Pada tahun 2008 Facebook melakukan lokalisasi bahasa, dengan mengajak para anggotanya untuk ikut berkontribusi, termasuk bahasa Indonesia, yang banyak dibantu oleh pengguna Facebook dari Indonesia yang saat itu memang belum banyak.

Saat ini sudah ada 750 juta pengguna Facebook. Akses ke Facebook pun tidak dibatasi via web, tapi juga bisa melalui ponsel, temasuk ponsel klasik (feature phone), dengan mengakses situs Facebook versi mobile. Untuk smart phone, Facebook juga sudah menyiapkan aplikasi untuk beragam OS. Facebook for every phone, prinsipnya.

Untuk brand, Facebook mengingatkan kalau mereka bisa membangun fans melalui Facebook Page, dan bukan Facebook Profile. Javier mengingatkan jumlah fans jangan menjadi pertimbangan utama. Lebih penting membangun engagement via komunikasi dengan fans. Hal yang juga bisa membantu promosi Facebook Page adalah melalui sponsored stories, format iklan teks yang dimunculkan dalam bentuk rekomendasi dari seorang teman kita yang melakukan like terhadap sebuah Facebook Page. Sponsored stories ini akan membantu penyebaran informasi dari pengguna yang sudah me-like Facebook Page ke teman-temannya. Value yang diberikan melalui sponsored stories ini adalah kekuatan word of mouth dari Facebook.

Presentasi kedua dibawakan oleh Oliver Hua, COO eBay Greater China, SEA, and Japan. Katanya sejak 5 tahun terakhir, 21% pertumbuhan ekonomi negara berkembang merupakan kontribusi dari internet. Kalau ditotal, ada $8 trilyun transaksi ecommerce di internet (B2B dan B2C) sejak 5 tahun terakhir. Hua bercerita kalau penetrasi konsumen untuk berbelanja tersebut disebabkan oleh 4 tren: mobile, digital, local (misalnya aplikasi untuk mengecek komparasi harga barang secara lokal sekitar daerah itu), dan social (seperti konsep yang dilakukan Groupon, membeli dalam jumlah bulk, supaya konsumen mendapat keuntungan lebih).

Menurut Hua, Indonesia punya potensi besar di bidang ecommerce, karena penggunaan social media yang tinggi, penetrasi mobile yang tinggi, dan ecommerce saat ini masih berada di tahap awal, sehingga peluangnya masih sangat besar. Yang dibutuhkan di Indonesia adalah tempat para pembeli dan penjual bertransaksi ecommerce. Beberapa peman ecommerce di Indonesia antara lain: plasa.com, dealkeren.com, multiply.com, dan tokobagus.com.

Hua bercerita tentang strategi eBay yang dilakukan di Indonesia. eBay ingin memfasilitasi transaksi perdagangan lintas negara, sehingga para pebisnis di Indonesia bisa menjual langsung produk mereka ke lebih dari 95,7 juta pembeli di seluruh dunia. Pasar yang menjadi kunci ekspor: Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Jerman. Hingga saat ini sudah ada 21 retail dari Indonesia yang berjualan di eBay sejak 2011. Ada 50% volume transaksi penjualan di eBay Indonesia dilakukan untuk para pembeli di Amerika Serikat dan Eopa.

Setelah makan siang presentasi IDBYTE Conference dibawakan oleh Michelle Guthrie, JAPAC Director, Strategic Business Development Google. Indonesia saat ini memiliki pertumbuhan pengguna internet yang terbesar dan tercepat di Asia Tenggara (sebesar 16,7%), diikuti oleh Filipina (13,7%), Thailand (13,1%), Vietnam (10%), Malaysia, lalu Singapura. Katanya juga, kini sebanyak 77% konsumen global melihat video online.

Penggunaan mobile yang meningkat pesat berpengaruh terhadap peningkatan penggunaan internet mobile di Indonesia. Saat ini ada 211 juta pengguna mobile di Indonesia (dengan penetrasi 91%). Terdapat 180 juta lebih pengguna internet mobile selama 5 tahun terakhir. Sebanyak 17% masyarakat urban di Indonesia punya smart phone. Intensitas penggunaan internet pun tinggi, dengan 633 halaman per bulan per orang. Percaya atau nggak, sebanyak 71% konsumen Indonesia menggunakan internet setiap harinya, menghabiskan 35 jam untuk online per minggu, atau 6,1 hari per minggu, atau 5,7 jam per hari.

Michelle juga berbagi cerita kalau kini sebanyak 4.2 milyar search terjadi setiap harinya di seluruh dunia. Pencarian (search) di Indonesia paling banyak untuk topik otomotif (misal: Honda), diikuti dengan FMCG (misal: Oriflame, Carrefour, KFC), dan hiburan (misal: YouTube, musik, video). Mengikuti di bawahnya topik penerbangan (misal: Lion Air, Garuda Indonesia), komputer (misal: Acer), gadget (misal: Nokia, BlackBerry), dan perbankan (misal: KlikBCA, Bank Mandiri).

Selanjutnya Andy Zain yang presentasi. Andy bercerita kalau kini Indonesia punya 168 juta pengguna mobile, dan 30 juta pengguna internet. Kalau dihitung banyak-banyakan sedunia, populasi penduduk Indonesia nomor 5 sedunia, populasi pengguna mobile nomor 6 sedunia, tapi ternyata nomor 16 untuk populasi pengguna internet. Indonesia bahkan juga menjadi pengguna Opera Mini terbesar di dunia. Penguna internet pwling banyak 16-19 tahun. Diduga akhir 2011 akan ada 251 juta koneksi. Menurutnya, Indonesia is not a trend follower, but is a trend creator, karena pengguna internet Indonesia selalu saja menciptakan hype baru, dengan misalnya: menciptakan trending topic sesering mungkin.

Andy Zain menyampaikan data dari Nielsen, tahun 2010 kemarin belanja advertising total sebanyak 60 trilyun rupiah, dan akan tumbuh lebih dari 20% per tahunnya. Namun, angka yang dipakai untuk belanja advertising di ranah digital hanya lebih dari 2%.

Hal yang unik dari pengguna mobile di Indonesia adalah adanya 2 segmen target yang bertolak belakang. Satu segmen adalah white collar yang tinggal di daerah urban dan berpendidikan tinggi, serta punya akses ke PC dan mobile. Segmen kedua adalah para pekerja umum yang hidup di koa-kota satelit dan di daerah kampung. Mereka tidak punya akses ke PC, namun aktif menggunakan mobile. Andy berbagi cerita kalau segmen kedua inilah pengguna mayoritas mobile di Indonesia. Kalau mau membuat aplikasi yang berguna dan dipakai banyak orang di Indonesia, cobalah menyasar segmen kedua ini.

Andy juga berbagi cerita menarik tentang industri musik yang kini sebenarnya hidup dari mobile. Berbeda dengan negara lain yang pendapatan musiknya datang melalui iTunes, kala di Indonesia sebanyak 70-80% pendapatan industri musik masuk melalui RBT, dengan nilai total 1,7 trilyun rupiah. Pendapatan lainnya yang terlihat sangat kecil adalah dari penjualan CD/kaset 0,2 trilyun rupiah, dan konser 0,1 trilyun rupiah. Untuk komparasinya, estimasi pembajakan CD mencapai 1 trilyun rupiah (jauh lebih besar daripada pendapatan penjualan legal).

Presentasi selanjutnya adalah dari Gerald Ang, Head of Digital, Asia at Research In Motion yang banyak bercerita tentang keberadaan komunitas BlackBerry di Indonesia, dilanjukan dengan presentasi Ken Dean Lawadinata, Chief Executive Officer, KASKUS Networks yang berbagi cerita tentang sistem pembayaran yang terjadi di Kaskus. Maaf nggak mencatat banyak pada dua sesi ini karena banyak mengobrol dan menjalin networking.

Presentasi IDBYTE Conference ditutup oleh Clifford Rosenberg, Managing Director, LinkedIn Australia dan New Zealand. Clifford sedikit berbagi tentang evolusi internet. Sejak 1995 internet telah berevolusi, dengan munculnya portal sebagai gateway internet. Portal ini menjadi gerbang utama pengguna untuk mencari informasi di internet.

Selanjutnya muncul Google yang membuat pencarian di internet menjadi lebih mudah. Lalu muncul social network yang memperkuat perkembangan komunitas maya di ranah digital. Karakter LinkedIn berbeda dengan Facebook dan Twitter, terkait dngan konteks percakapannya. Pada dasarnya, semakin banyak pengguna social network ingin membedakan jejaring profesional dan personalnya. Facebook dan Twitter sangat cocok untuk komunikasi yang bersifat publik (melalui update status, bermain game, dan berbagi foto). LinkedIn lebih dipakai untuk membangun identitas, koneksi, dan insight yang terkait dengan dunia profesional. LinkedIn menjadi tempat para profesional mudah ditemukan saat ada yang mencarinya via Google. Clifford selanjutnya lebih banyak bercerita tentang bagaimana membangun profil LinkedIn yang bercitra profesional.

Acara IDBYE Conference pun akhirnya ditutup sejenak, sebelum malamnya kegiatan penganugerahan Bubu Awards dimulai.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

3 komentar »

  • kimciti :

    join to kimciti

  • bidaya :

    keren….nyesel gak ikut

  • Printing :

    Keren banget tw,,, πŸ™‚

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge