Home » Experiential

IdeaFest Conference 2011 (Bagian Satu)

29 July 2011 4,166 views 2 komentar

IdeaFest Conference 2011“Saatnya anak muda menunjukkan potensi kreatifnya!” Itulah pesan yang ingin disampaikan dalam IdeaFest Conference 2011 yang berlangsung di Cendrawasih Room, Jakarta Convention Center, 23 Juli 2011 lalu. Acara yang mengangkat tema “Pursue Your Creative Dream” ini menghadirkan deretan pembicara yang memiliki cerita dan pengalaman menarik seputar industri kreatif, seperti Glenn Fredly, Erwin Arnada, Andy S.Boediman, Dian Muljadi, Sarah Sechan, Peter F.Gontha, Sandiaga Uno, M.S. Hidayat, Andy F. Noya dan tentunya ikon desain yang paling ditunggu, Stefan Sagmeister.

Glenn Fredly

Setelah resmi dibuka oleh Bernhard Subiakto (Festival Director IdeaFest 2011), sesi pertama “Rock & Roll Idealism” diawali dengan cerita Glenn Fredly tentang perjuangannya bersama Green Music Foundation. “Jadilah terang di tempat yang gelap” idealisme inilah yang dibawa Glenn untuk membuat perubahan melalui musiknya.

Setelah 10 tahun berkarya, Glenn memutuskan untuk resmi menjadi artis yang merdeka di tahun 2011. Menurutnya, sudah seharusnya artis bisa menjadi label untuk dirinya sendiri. Keputusannya untuk menjadi independent artist justru membuka berbagai kesempatan untuk mengasah kreativitasnya. Sejak tahun 2006 Glenn mulai menyuarakan kepeduliannya tentang isu perubahan iklim, kemanusiaaan dan pilar kekuatan budaya. Semuanya dilakukan melalui diplomasi lewat musik, yang sering disebutnya dengan “Music for Change.” Glenn menjelaskan bagaimana talent bisa menjadi capital bagi seorang musisi yang jika terus dikembangkan bisa memberikan perubahan besar untuk lingkungan di sekitarnya.

Dalam misinya, Glenn bersama musisi lain yang tergabung dalam Green Music Foundation telah membantu penduduk Desa Ende, NTT yang sudah 15 tahun hidup tanpa listrik dan air bersih. Keberhasilan Glenn meningkatkan taraf kehidupan penduduk Desa Ende secara bertahap membuktikan bahwa “It is possible for musician to empower their society through music. Inilah kenapa musik harus bisa menjadi movement,” tutur Glenn.

Tahun 2009, bersama teman-temannya Glenn mendirikan “Rumah Pintar” pertamanya dari hasil bermusik. Rumah Pintar ini berisi buku dan musik pilihan untuk meningkatkan taraf pendidikan anak-anak di desa tertinggal. Selain “Rumah Pintar,” Glenn juga aktif terlibat dalam proyek kemanusiaan “Save Mentawai,” proyek musik Beta Maluku yang berhasil mengawinkan musik hip-hop dengan budaya lokal yang mengangkat keunikan bahasa daerah. Dari proyek Beta Maluku, Green Music Foundation berhasil menjual 2.000 kopi album dalam waktu 2 bulan. Tak hanya itu, Glenn juga menyuarakan kepeduliannya dengan mengumpulkan 1.000 gitar yang hasilnya akan dibagikan untuk anak-anak Indonesia.

Terinspirasi dari bisnis filantrofi, menurut Glenn, musisi bisa mendapatkan haknya dengan semestinya dan bisa membagikan hasilnya untuk kemanusiaan. Glenn menutup ceritanya siang itu dengan pernyataan, “ide kreatif itu tidak bisa dimonopoli tapi harus dibagikan seperti virus yang menular. Intinya adalah bagaimana membangun ide kreatif Itu menjadi sesuatu yang hidup dan bisa menghidupi.”

Erwin Arnada

Presenter kedua adalah Erwin Arnada yang baru menghidup udara segar setelah bebas dari Lapas Cipinang 24 Juni 2011 lalu. Erwin membuka presentasinya dengan menebarkan semangat bahwa potensi kreatif itu dimiliki oleh semua orang. Erwin menyatakan bahwa kreativitas itu tidak boleh hanya sampai pada gagasan atau ide, lebih jauh lagi ide itu harus ditransformasikan dalam dunia material yang formatif. Erwin juga menceritakan bagaimana sebuah karya bisa survive dan sustain yaitu dengan berevolusi. Ia memberi contoh band The Rolling Stone yang sudah 50 tahun berkarya dan bisa diterima dari generasi ke generasi karena mereka terus berevolusi. Erwin pun menegaskan bahwa evolusi adalah bagian penting dari sustainability! Di sinilah proses asimilasi menjadi penting, bagaimana kita bisa memanfaatkan nilai lama yang bisa digabungkan nilai baru yang bisa dikonfigurasikan.

Erwin juga menambahkan, “kita tidak akan bisa berkembang kalau kita tidak berani mengambil resiko! Free your mind adalah kata kunci dari setiap penciptaan.” Ketika mendekam dalam penjara selama 8 bulan, Erwin membuktikan bahwa perjalanan waktu tidak bisa mematikan kreativitas kita. Bagaimana tidak, dari dalam penjara Erwin bisa meluncurkan sebuah majalah bertajuk “What’s in Bali” berisi informasi tentang gaya hidup, hiburan, seni dan hobi, yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Rusia. Tak hanya itu, di balik jeruji besi, ia juga berhasil menyelesaikan dua buah buku serta kisah hidupnya yang terinspirasi dari kesehariannya di kamar sel nomer 212 akan difilmkan dengan judul “Rabbit versus Goliath.” Keberanian Erwin untuk terus berkarya membuktikan bahwa penjara pun tidak bisa mengurung pikiran dan imajinasi kreatifnya. Akhirnya Erwin berpesan, “Jangan pernah ada ketakutan dalam diri, karena pikiran kita sendirilah yang akan mematikan kreativitas kita.”

Dian Muljadi dan Sarah Sechan

Acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif tentang perempuan di era digital yang menghadirkan Dian Muljadi dan Sarah Sechan dan dipandu oleh Andi S. Boediman. Dalam diskusi ini mereka banyak membahas tentang transformasi kehidupan perempuan di era digital yang ditunjang oleh kemajuan teknologi dan fenomena jejaring sosial. Sarah Sechan menjelaskan bagaimana perempuan bisa memanfaatkan kemajuan teknologi dengan cara yang cerdas. “Perempuan kini dituntut untuk tahu banyak hal, mulai dari urusan rumah tangga, gaya hidup, dll. Digital helps me!”. Sarah pun menceritakan pengalamannya tentang besarnya pengaruh jejaring sosial Twitter untuk menggalang dana kemanusiaan, “Berkat jejaring sosial, saya berhasil mendapat bantuan 4 truk besar dan uang 30 juta untuk korban bencana di Merapi dan Mentawai.”

Sementara itu, Dian Muljadi banyak bercerita tentang bagaimana ia melihat blue ocean baru dalam transformasi media online yang membuatnya mendirikan portal lifestyle untuk perempuan: Fimela.com. Dian pun menyatakan, “perempuan sudah sangat nyaman dengan dunia digital. Buktinya, transaksi puluhan juta pun rutin terjadi di BBM grup”. Di akhir diskusi Andi S Boediman pun menyimpulkan bahwa content, community dan commerce adalah 3 kunci utama evolusi industri digital masa kini.

Cerita tentang pembicara-pembicara berikutnya akan dituliskan dalam artikel berikutnya.

Artikel ini ditulis oleh: Firly Afwika (@afwika)
Firly Afwika adalah seorang digital strategist dan creative writer. Mendirikan Magnivate Touch tahun 2010, sebuah divisi konten dan social media di Magnivate. Sangat tertarik pada isu gender, social media dan online branding.

2 komentar »

  • @ryduant :

    Keren gan..
    Tp yg paling ajib di sesinya andy f noya dkk serta stefan sagmeister tuh. Top markotop gaan

  • Kurnia Septa :

    Lagi ngetren itu portal perempuan fimela.
    Nantinya pasti akan ada banyak yg akan memanjakan perempuan di dunia digital 😀

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge