Home » Experiential

IdeaFest Conference 2011 (Bagian Dua)

30 July 2011 3,757 views Tidak ada komentar

M.S.Hidayat, Peter F. Gontha, Sandiaga Uno, dan Andy F. Noya

IdeaFest Conference 2011 pun kembali berlanjut. Setelah istirahat makan siang, audiens pun dihibur dengan penampilan musik dari Bayu Risa yang sangat eklektik. Penampilan Bayu Risa ini mengantarkan kita pada sesi ketiga “The Rise of Creative Collaboration” yang menghadirkan Menteri Perindustrian M.S.Hidayat, Peter F. Gontha, Sandiaga Uno, dan dipandu oleh presenter handal Andy F. Noya. Diskusi ini dibuka dengan pemaparan dari M. S. Hidayat tentang bagaimana pemerintah mengembangkan industri kreatif. Beliau mengutarakan bahwa industri kreatif banyak dimotori oleh generasi muda dan masih menyimpan potensi yang sangat besar. Dalam kesempatan ini Pak Hidayat juga menyatakan bahwa venture capital bisa menjadi alternatif finansial industri kreatif.

Peter F. Goentha memeriahkan diskusi ini dengan menceritakan kisahnya membesarkan industri music jazz melalui penuturan yang jujur, cerdas, spontan, dan menghibur. Peter menjelaskan bagaimana kreativitas bisa dikembangkan menjadi komoditas. Ia juga menambahkan, “dibutuhkan konsistensi, persistensi dan persuasi untuk bisa menjual kreasi yang kita punya.”

Sandiaga Uno banyak menjelaskan tentang kendala yang sering dialami pekerja kreatif, “Bank sulit memberikan pinjaman ke industri kreatif karena kolateralnya intangible, akibatnya kebanyakan cuma sekedar jadi ide saja. Karena perbankan tidak didesain dan diregulasi untuk mendanai industri yang tidak memiliki kolateral dan track record.” Sandi juga menambahkan, “semakin kuat kelas menengah, semakin besar pula kebutuhan produk-produk untuk solusi dan entertainment. Karenanya, pelaku industri kreatif harus bisa melihat apa yang dibutuhkan 87 juta kelas menengah itu dalam 5 tahun ke depan.” Sandi pun menutup diskusi ini dengan berpesan, “untuk jadi entrepreneur jangan cuma berani sukses, tapi juga harus berani gagal!”

Setelah sesi ketiga berakhir pertunjukan menarik dari Jogja Broadway yang muncul dengan format unik yang memanfaatkan bahan dasar rumah tangga sebagai kostum menghibur audiens dengan pertunjukan mini theater yang tidak biasa. Akhirnya kita sampai pada sesi yang paling ditunggu-tunggu! Sesi “Long Love Idealism” yang menghadirkan Stefan Sagmeister yang sering dianggap “Tuhan” dalam dunia desain grafis.

Stefan Sagmeister

Sagmaister banyak menceritakan tentang proses pembuatan “The Happy Film” yang telah dilaluinya. Ia menyebutkan, “In order to create “The Happy Film”, I must be in a happy state of my life.” Sagmesiter menambahkan bahwa dalam proses kreatifnya ia selalu merasakan kebahagiaan, ia melakukan apa yang membuatnya bahagia, dan selalu mencatat apapun yang dilakukannya. Dalam kesempatan ini ia juga memutarkan video kesehariannya dan menunjukkan fakta-fakta unik seputar kehidupan yang ditemuinya.

Sagmeister banyak menawarkan cara baru dalam desain, tak hanya terpaku pada peralatan konvensional dan dalam ruang. Ia banyak mengubah cara pandang dengan menggunakan alam sebagai media. Sagmeister telah melalui sabbatical period dimana ia melakukan proses kreatif sendiri dan menggarap karya pribadi tanpa tuntutan industri. Menurutnya, “If you support pitching, you’re not creating work for audience but pitchers.” Sagmeister menambahkan bahwa “sometimes you just have to say NO to the client.” Akhirnya, Sagmeister menutup ceritanya dengan menyihir audiens IdeaFest 2011 dengan visualisasi pesan “Having Guts Always Works Out For Me.” IdeaFest Conference 2011 pun berhasil menyisakan kekaguman audiens yang tak terhingga pada kejeniusan Stefan Sagmeister yang luar biasa!

Artikel ini ditulis oleh: Firly Afwika (@afwika)
Firly Afwika adalah seorang digital strategist dan creative writer. Mendirikan Magnivate Touch tahun 2010, sebuah divisi konten dan social media di Magnivate. Sangat tertarik pada isu gender, social media dan online branding.

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge