Home » Online Living

QR Code, Masih Relevankah?

24 August 2011 15,743 views 10 komentar

Tahu kan QR Code? Itu loh, gambar coret-coret (umumnya) berwarna hitam putih, dengan 3 dari 4 sudutnya punya bentuk kotak. Bentuknya terlihat seperti kode lah. Kasat mata nggak bisa diartikan apa-apa, karena membutuhkan aplikasi tambahan yang terinstal di ponsel untuk bisa mengartikannya. Di Indonesia, beberapa brand mulai menggunakan QR Code ini untuk materi promosi mereka, bahkan Pocari Sweat pernah menjadikan kode ini sebagai elemen desain promosi kampanye Ionopolis di billboard-nya. Kompas cetak juga pernah mencatumkan QR Code ini di beberapa artikel utama di halaman depan.

Sebenarnya bentuk acak dari QR Code ini mewakili sebuah rangkaian teks. Semakin panjang teksnya, semakin penuh dan padat kodenya (dan semakin sulit dibaca oleh aplikasi yang tertanam di ponsel kita). Umumnya isi QR Code belakangan ini hanya berupa URL (alamat situs), yang setelah terbaca oleh aplikasi ponsel, akan mengarahkan kita ke suatu situs. Sebetulnya nggak ada bedanya kalau kita mengetik manual di peramban ponsel kita.

Beberapa bulan lalu sempat pengalaman memasang QR Code ini di sebuah materi promosi cetak salah satu brand. Ketika QR Code ini dibaca aplikasi mobile, maka pengguna akan diarahkan ke sebuah halaman situs mobile. Pengguna bisa mendapatkan poin tambahan yang bisa diakumulasikan dengan poin aktivitas pengguna di situs promosi utamanya. Efektifkah cara seperti ini? Jujur saja, nggak sama sekali. Kenyataannya sangat sedikit yang mengunjungi halaman situs mobile tersebut.

Mau tahu kenapa promosi dengan QR Code kurang bisa dibilang berhasil di Indonesia?

  1. Pengguna harus mengunduh dulu aplikasi tambahan. Aplikasi untuk membaca QR Code bukan bawaan langsung dari ponsel. Anda harus mengunduhnya terlebih dahulu. Untuk konsumen yang bukan tech savvy tentu ini aktivitas yang bikin malas. Apalagi ponsel yang digunakan mayoritas Indonesia adalah featured phone dengan kapabilitas terbatas. Belum tentu ponsel ini memiliki aplikasi pendukung untuk membaca QR Code.
  2. QR Code umumnya hanya menggantikan URL. Kenyataannya lebih mudah mengingat URL situs (asalkan memang enak untuk diingat) daripada harus bersusah payah mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi pembaca QR Code, dan mengarahkannya ke poster yang menyajikan URL.
  3. Tidak semua lokasi di Indonesia punya jaringan mobile yang memadai. Kalau penggunaan QR Code dipasang di poster yang tidak ada jaringan 3G, maka sia-sialah fungsi QR Code itu.
  4. Masih jauh lebih efektif mengunakan SMS daripada QR Code. Seandainya di poster disajikan 2 cara mendapatkan materi promo: memotret QR Code dan mengetik SMS ke nomor tertentu. Pastilah lebih banyak yang memilih alternatif menggunakan SMS (karena sudah terbiasa). Dari sisi promosi pun, brand malah bisa mendapatkan nomor ponsel pengirim SMS. Hal serupa tak bisa didapatkan saat pengguna memotret QR Code.
  5. Sudah ada 2 brand di Indonesia yang pernah memasang QR Code di billboard-nya, dan ada pula 1 brand yang memasang QR Code sebagai bagian dari materi iklan yang dipasang di punggung bus. Untuk Anda yang sedang berada di mobil dan melihat billboard dan bus itu, seberapa cepatkah Anda mengambil ponsel lalu memotret QR Code tersebut, sementara mobil-mobil lain antri di belakang Anda?

Sekedar info, tampilan QR Code tidak melulu harus hitam putih. Desain QR Code masih bisa dimainkan, karena masih memiliki toleransi presisi sekitar 30%. Cek artikel Mashable ini yang mengumpulkan 15 desain QR Code menarik, atau desainer fesyen Yiying Lu yang mengadaptasi QR Code sebagai bagian dari desain ilustrasinya.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

10 komentar »

  • sibair :

    ohh ada juga QR code yang seperti gambar terahir ya… pocari waktu itu emang kreatif bgt waktu bikin quiz ionopolis. Seenggaknya kita jadi tau fungsi qr code yang diperlukan buat sebuah game..
    sibair baru saja menulis..Selamat Hari Burung

  • Kurnia Septa :

    baru tahu saya fungsinya qr code itu.
    di beberapa halaman web atau blog juga ada, ternyata itu fungfin dan manfaatnya 🙂
    Kurnia Septa baru saja menulis..Mudahnya Menggali Ide Menulis dari Sebuah Photo

  • bukik :

    Waktu Kompas mengeluarkan QR code, aku pernah mencoba memotretnya, tapi gagal hehehe
    BB yang bisa add PIN dengan scan QR code juga ternyata jarang yang makai

    Kecuali dikembangkan aspek kepraktisan dan keunikan, QR code tidak akan terpakai di Indonesia
    bukik baru saja menulis..Bercerita, Kemampuan Abad ke-21 (Bagian 3 Habis)

  • Ssriyono Suke :

    blah blah disuruh scan QR Code pada bus yang sedang jalan untuk mengetahui sebuah iklan, aw aw aw … maafkan saya…

  • Rafting :

    Jadi artikel kita bisa diconvert jadi QR Code ya??
    Gimana caranya pak? Ada softwarenya ga utk di PC?

    Thanks before 🙂

  • Pitra Satvika (penulis) :

    @bukik: makanya di kompas sekarang pun sudah ditiadakan tuh QR Code 🙂
    dulu saya coba foto pakai hape cupu saya pun gagal, karena QR Code-nya terlalu kecil sehingga nggak tertangkap oleh kamera hape cupu saya.

    @ssriyono: eh mas-nya yang buat kah?

    @rafting: bukan artikelnya, tapi URL-nya. Kalau untuk generate online QR Code langsung ada kok, coba buka: http://qrcode.kaywa.com/

  • Ssriyono Suke :

    Bukan mas, maksudnya, maapkan saya, saya tidak akan melakukannya, apalagi tuh bus posisinya qr code juga tinggi gitu bakal kesulitan buat scan, sejauh pengetahuan aku, mungkin iklan yang pake qr code yang cukup menarik buat scan ya cuman victoria secret ad, ada poster poster yang seperti foto wanita cantik bugil, bagian dadanya diputihin plus qr code, nah begitu dia di scan muncul tuh foto model yang pake bra victoria secret ahaaaa….

  • Pitra Satvika (penulis) :

    @ssriyono: hmm.. lucu juga tuh kalau ada print ad kayak gitu.. hihihi.. 😀

  • Titis Kaifa :

    Kalo diliat sih, manfaatnya banyak. Cuman tinggal nunggu infrastruktur dan hal lain yang mendukung aja untuk bisa terrealisasi dengan baik di Indonesia.

    Thanks infonya. Salam kenal, kang 🙂
    Titis Kaifa baru saja menulis..Membuat Sendiri Personas Firefox

  • GarduKangJoyo™ :

    Sepertinya memang belum bisa maksimal diterapkan di Indonesia. Lha wong teknologi lama semacam MMS aja susah diterima.

    Yang dianggap praktis”-nya Indonesia masih beda sama “praktis”-nya luar negeri.
    GarduKangJoyo™ baru saja menulis..Saya Kecanduan Bersepeda…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge