Home » Experiential, FreSh

Ngobrolin Brand, Agency, Buzzer, dan Quiz Hunter

27 September 2011 6,443 views 13 komentar

Obrolan seru FreSh di perhelatan Social Media Festival hari pertama waktu itu membahas fenomena kampanye brand di social media. Acara dibuka lebih dulu oleh Pandu Padmanegara yang bercerita tentang Facebook Groups social media Strategist Club, yang berisikan orang-orang dari beragam latar belakang, yang mau berbagi ilmu demi pemanfaaatan social media yang positif di Indonesia. Belum gabung? Silakan kunjungi tautan ini untuk melihat isinya.

Selanjutnya ngobrol-ngobrol FreSh pun dimulai. Yang hadir kala itu: Joshua Gunawan (@joshuagunawan) dari Aqua Danone, Alderina (@alderina) yang sering berurusan dengan proyek social media di tempat kerjanya, Muhadkly Acho (@muhadkly) yang menanjak popularitasnya di Twitter, dan Henda Eka Putra (@hendraekaputr4) yang sering ikut kontes di Twitter dan Facebook dan sering menang.

Joshua sempat cerita kalau kampanye di social media memang dibutuhkan kalau brand ingin ngobrol dengan konsumennya. Kala brand ingin berinteraksi langsung dengan konsumennya. Untuk itu brand harus bisa menyajikan dirinya melalui sebuah personifikasi di akun social media.

Joshua berkata kalau objektif kampanye hanya untuk eksposur, sebenarnya promosi brand di televisi, radio, majalah, dan media konvensional lain sudah cukup. Jelas terbukti karena penetrasinya yang nasional. Hanya saja, social media membawa sesuatu yang berbeda dibandingkan media-media tersebut. Social media itu dua arah sehingga brand bisa bertanya dan mendapat masukan langsung dari konsumennya.

Alderina menambahkan tanpa brand masuk di social media, brand-pun akan tetap dibicarakan. Kalau yang dibahas di ranah daring itu positif sih tidak masalah, namun kalau negatif? Salah satu alasan kenapa brand perlu hadir di social media adalah agar bisa menyeimbangkan komentar-komentar negatif itu dengan pengetahuan dan manfaat positif yang memang sejatinya bisa diberikan oleh brand.

Alderina juga berbagi cerita tentang profesi baru yang kini ia geluti. Kala kuliah dulu tidak ada yang terbayang kalau akan ada profesi baru di dunia ini dimana ia bisa menggunakan Twitter dan Facebook sebebas mungkin (karena memang menjadi tuntutan pekerjaan). Kenyataannya memang usia social media masih muda. Semua individu yang terlibat di dalamnya selalu masih harus terus belajar dan mencoba berkeksperimen langsung. Tidak ada hal yang salah dan benar. Kesempatan baru masih terus terbuka, dan semua orang masih bisa ikut belajar dan mencoba memanfaatkannya.

Hal serupa diceritakan oleh Acho. Ia belajar melalui tweet apa yang sebaiknya ia sampaikan kepada follower-nya. Kekuatan tweet adalah di kontennya. Acho memilih jalur humor dalam penyampaian tweetnya, karena ia melihat konten itulah yang dibutuhkan pengguna Twitter. Orang sudah pusing menghadapi kehidupan sehari-hari. Untuk banyak orang, Twitter menjadi alternatif konten hiburan. Terhadap merekalah, Acho menyampaikan pesan-pesan dalam tweetnya.

Konten tweet yang menarik lebih akan terasa maksimal kalau dikirimkan pada waktu yang tepat. Acho misalnya, jarang menulis tweet pada jam kerja. Biasanya ia mulai aktif saat makan siang dan saat masa pulang kantor. Seperti televisi, Twitter punya “prime time“-nya sendiri. Pastikan tweet kita tersampaikan pada masa banyak follower kita menyimaknya, supaya interaksi yang muncul pun bisa maksimal.

Putra, sebagai salah satu dari komunitas pemburu kuis ikut berbagi cerita. Ia sudah berpuluh-puluh kali mendapat hadiah dari kontes yang diadakan di Twitter dan Facebook. Entah sudah berapa banyak gadgetvdan voucher yang ia terima. Ia bahkan pernah mendapatkan hadiah kesempatan berjalan-jalan pula bersama dengan keluarganya. Semua itu ia dapatkan karena ia intens dan bekerja sama dengan komunitasnya. Bahkan, mereka punya BBM groups tempat mereka berbagi informasi tentang kuis dan strategi untuk memenangkan kuis tersebut.

Putra juga memberi masukan kepada brand dan admin yang memegang akunnya di social media. Ia juga adalah konsumen brand. Sebagai konsumen yang ia pegang adalah janji langsung dari produsen. Dalam konteksnya di social media, yang ia pegang adalah janji yang diberikan oleh akun brand, termasuk salah satunya adalah kejelasan proses pelaksanaan kontes.

Acho juga menceritakan pengalamannya menjadi seorang buzzer. Ia harus mengolah pesan yang disampaikan oleh brand dan agency-nya dan menuturkannya dalam bahasa yang ia biasa gunakan. Terkadang memang tidak semua kampanye brand memiliki karakteristik yang sesuai dengan Acho. Misalnya, ia pernah diminta untuk membantu buzz yang mengandung pesan kesehatan, padahal Acho sendiri adalah perokok. Namun akhirnya dicapai kesepakatan kalau fungsi buzzer yang Acho lakukan hanyalah untuk mempromosikan situs (dan bukan pesan kesehatan). Kata Acho, buzz itu bisa dilakukan untuk 2 tujuan: menyampaikan pesan brand dan/atau sekedar untuk membantu meningkatkan traffic ke situs brand.

Joshua juga bercerita bahwa buzzer itu hanya sebagian kegiatan kampanye saja. Tidak melulu dibutuhkan buzzer dalam kampanye social media, karena ujung-ujungnya kembali pada objektif kampanye itu sendiri. Bisa saja promosi melalui banner di portal-portal lebih efektif dibanding menggunakan buzzer kalau memang objektifnya adalah mengejar leads untuk datang mengunjungi website.

Acara ngobrol-ngobrol FreSh ini berlangsung selama satu jam, sebelum akhirnya FreSh lanjut ke sesi berikutnya, yakni presentasi dari Angkie Yudistia (@angkieyudistia). Angkie pernah menjadi salah satu finalis abang none Jakarta yang kini sedang berkampanye membangun kesadaran agar masyarakat tidak gampang mengejek-ejek fisik seseorang, misalnya: menyebut seseoang itu autis, cacat mental, dsb. Angkie sendiri sejak kecil mengalami gangguan pendengaran. Di sesi ini, Angkie mengundang beberapa audiens untuk ikut dalam sebuah simulasi, agar mereka ikut merasakan bagaimana menjadi seorang difabel.

Perhelatan FreSh ini pun berakhir pukul 21:00 dan ditutup dengan foto bersama. Terima kasih untuk partisipan yang sudah hadir, serta seluruh panitia Social Media Festival yang membuat acara FreSh bulan ini menjadi lebih meriah.

Foto lebih banyak bisa dilihat di tautan ini.

Artikel ini sebelumnya sudah pernah dipublikasikan di blog FreSh.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

13 komentar »

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge