Home » Online Branding

Tentang Brand Journalism

5 December 2011 4,271 views 7 komentar

Istilah brand journalism ini sebenarnya baru tahu tadi pagi. Beneran tadi pagi, gara-gara Ndoro Kakung bikin rangkaian tweet tentang ini. Berikut ini cuplikan tweetnya:

Di Twitter-nya, Ndoro Kakung menjelaskan 2 contoh brand journalism. Salah satunya adalah video berikut ini yang menjelaskan tentang upaya “penyehatan” kembali penyu yang terkena limpahan bocoran oli.

Tebak, siapakah brand di balik pembuatan video ini? Ternyata adalah FedEx yang muncul hanya sekitaran 15 detik di dalam video, sebagai jasa kurir yang mengangkut telur-telur penyu. Promosi FedEx ini terjalin sangat subtle tanpa orang menyadarinya karena merupakan bagian dari cerita.

Contoh lain yang diutarakan Ndoro Kakung adalah yang dilakukan Nissan. Carlos Ghosn, chief executive Nissan mengajak beberapa cameramen untuk melakukan kunjungan pabrik. Kru yang diajak ini bukanlah jurnalis, melainkan karyawannya sendiri yang merupakan bagian dari tim “newsroom” Nissan. Tim ini membuat konten yang berhubungan dengan brand Nissan dan industrinya dan mendistribusikannya ke beragam kanal komunikasi, salah satunya website Nissan sendiri dan YouTube.

Konten eksklusif ini dibuat sendiri oleh brand dan biasanya menampilkan elemen-elemen yang tak bisa dijumpai di tempat lain. Anggap saja ini sebagai pengganti press release tradisional. Kalau memang brand punya cerita keren dan menarik untuk disampaikan, ya kenapa tidak disebarluaskan? Kini semakin banyak portal otomotif bermunculan. Nissan menyediakan kontennya untuk diagregasi oleh portal otomotif itu.

Dengan cara yang dilakukan seperti Nissan, brand akan diuntungkan saat nanti meluncurkan seri produk mobil terbarunya. Misal, beragam teaser video bisa brand buat terlebih dahulu, dengan menampilkan cuplikan tentang mobil tersebut, lalu merilisnya online. Hype bisa dibangun terlebih dahulu, sebelum akhirnya brand merilis resmi mobilnya.

Kalau kata Kyle Monson di blognya Brian Solis, brand journalism itu adalah kombinasi dari kejujuran, narasi cerita, dan partisipasi audiens. Targetnya adalah audiens yang paling savvy dan pintar, yakni para influencer. Katanya, mereka ini nggak mudah dibodohi, nggak suka konten yang jelek, dan mereka tidak peduli dengan advertising tradisional. Sangat sulit berhubungan dengan para influencer, tapi brand bisa melakukannya dengan bertindak nyata, tidak berpura-pura, menyampaikan informasi yang sesuai kebutuhan mereka, dan memang ada relevansi antara yang disampaikan brand di online dan di offline.

Brand jelas butuh konten. Kalau nggak punya konten ya berarti nggak eksis. Nggak mungkin juga dong website perusahaan isinya itu itu melulu. Konten brand ini akan lebih baik jika tidak dipakai untuk sekedar menjual atau mengangkat reputasi brand. Akan lebih baik kalau brand bisa memberikan konten yang punya value berita. Kalau punya value, niscaya orang akan lebih lama memperbincangkannya. FedEx dan Nissan sudah mencontohkannya di atas. Nah, adakah yang hendak memulainya di Indonesia?

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • Bukik :

    Kalau brand yang tampil di video TED.com itu apakah termasuk brand jurnalism?
    Brand jurnalism memang ide menari, high concept, high touch. Menyentuh rasional, menyentuh emosi.
    Berharap ada yang mengawali di Indonesia
    Tapi sangat mungkin ini akan jadi trend ke depannya
    entah kapan
    Bukik baru saja menulis..Bukik Bertanya : Kado Sekotak Coklat @Inijie

  • Iman Brotoseno :

    Buat pemilik brand di Indonesia. Masih susah buat tipikal kampanye visual seperti ini di Indonesia. Saya mengambil contoh kebiasaan pemilik produk beriklan di cara konvensional. Cara di TV. Sebisa mungkin brand, atau product exposure selalu diminta terlihat sebanyak mungkin. Bagi mereka tipikal hard sale marteting masih jadi acuan, kalau sudah melibatkan elemen audio visual
    Iman Brotoseno baru saja menulis..Catatan tentang menyebarkan semangat positif

  • Kurnia Septa :

    Setelah populer citizen jornalism sekarang ganti brand journalism
    Jualan tidak lagi teriak-teriak, tapi bisik-bisik 🙂
    Kurnia Septa baru saja menulis..Membuat Daftar Isi Blog Berdasarkan Arsip

  • Billy Koesoemadinata :

    jadi, brand journalism ini sebenernya lebih ke membuat release berita, dengan konsep promosi dan komunikasi tapi tidak menjurus pada iklan (advertising) secara gamblang?
    *bahasanya mumet*

    anyway, siapapun yang mengerjakan brand journalism itu, tentunya pernah menjadi jurnalis yang handal, tak hanya jago dalam membuat copywriting. (IMHO)
    Billy Koesoemadinata baru saja menulis..Nonton Bola Gratis: LA Galaxy vs. Indonesia Selections

  • hajarabis :

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    postingan yang menarik
    nice gan .

  • Salesman Jogjakarta :

    Rasanya masih banyak yang harus dipelajari dari Brand Brand itu saya yakin suatu saat di Indonesia akan segera di mulai..tunggu saja.
    Salesman Jogjakarta baru saja menulis..Bloggerpun Perlu Disiplin

  • Media Ide Blog Archive Tentang Brand Journalism - Forum Indonesia :

    […] Kalau memang brand punya cerita keren dan menarik untuk disampaikan, ya kenapa tidak disebarluaskan? Kini semakin banyak portal otomotif bermunculan. Baca Selengkapnya: http://media-ide.bajingloncat.com/2011/12/05/tentang-brand-journalism/ […]

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge