Home » Online Branding

Dentsu Digital dan Aplikasi iButterfly

1 April 2012 4,210 views 7 komentar

Sudah pernah mencoba aplikasi iButterfly Indonesia belum? Aplikasi mobile ini bisa diunduh oleh pengguna iOS dan Android. Permainannya berupa game menangkap dan mengoleksi kupu-kupu. Koleksi yang lengkap nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah tertentu. Yang membuatnya unik, aplikasi ini justru dikembangkan oleh advertising agency, dan bukan oleh developer independen. Kesempatan kali ini Media Ide mewawancara Mbak Paramitha Indri Hapsari (Mitha) dari Dentsu Digital yang bertanggung jawab tentang pelaksanaan program ini.

(Wawancara dituliskan apa adanya seperti aslinya, kecuali koreksi yang bersifat editorial)

Hai Mitha, apa sih sebenarnya aplikasi iButterfly?

iButterfly adalah aplikasi 3 platform smartphone, yaitu Blackberry, Android, dan iPhone, menggunakan teknologi augmented reality. Kita dapat menangkap (catch), mengoleksi (collect), berbagi (share) dan redeem. Aplikasi ini dirancang untuk menjembatani produsen yang ingin mengaktivasi produknya dengan cara yang unik, dan bagi pengguna agar mulai mengeksplorasi smartphone-nya dengan cara yang berbeda dan memiliki value.

Sebenarnya iButterfly ini kreasi dan milik siapakah?

Inovasi iButterfly ini sebelumnya dikembangkan oleh Dentsu Inc. Tokyo dan telah diluncurkan di Jepang tahun 2010. Tapi kontennya tidak komersial, dan lebih digunakan untuk mempromosikan keunikan kultur di setiap provinsi di Jepang. Tahun 2011,  aplikasi dikembangkan oleh Dentsu Media Palette Hongkong bersama Cherrypicks sebagai developer-nya. Aplikasi ini kemudian dikembangkan lebih komersil untuk aktivasi brand. Dari situlah iButterfly kemudian dibawa ke Singapura, Malaysia, dan akhirnya sekarang di Indonesia.

Sudah berapa banyak brand yang terlibat dalam aktivasi iButterfly ini, dan apa sih yang membuat mereka tertarik ikutan?

Brand lokal yang sudah tertarik menggunakan aplikasi ini antara lain Unilever (Buavita, Dove dan akan hadir Cornetto), Gatsby, Telkomsel, dan beberapa brand lain sudah menunjukkan ketertarikan menggunakan platform ini. Yang menarik mungkin platform dan cara komunikasi yang baru, dikemas dalam paket yang lebih menyenangkan.

Saat ini ada berapa banyak pengguna aktifnya? Terkait dengan brand, adakah KPI yang diminta brand terkait dengan aplikasi ini?

Hingga akhir bulan lalu, total download mencapai 31,776. Pengguna yang tercatat sampai saat ini (i) iOS:  3,597 (ii) Android: 10,409 (iii) BlackBerry: 17,770. Untuk KPI mungkin bukan dlihat dari jumlah pengguna, tapi lebih kepada berapa banyak kupu-kupu yang ditangkap dan ditukarkan dengan promosi terkait dari brand.

Kenapa menyasar pengguna iPhone, Android dan BlackBerry)? Bukankah pasar mereka lebih kecil daripada pengguna featured phone?

Pada awalnya iButterfly memang hanya didesain untuk menyasar pengguna smartphone (Jepang dan Hongkong). Khusus di Indonesia, melihat besarnya pasar BlackBerry maka diputuskan untuk mengembangkan pula seri BlackBerry. Namun memang, user experience tidak sama seperti versi iOS dan Android karena keterbatasan teknologi handset. Ini juga berlaku untuk featured phone yang secara teknologi agak sulit untuk diutak-atik lagi.

Menurut Mitha, apa yang akhirnya membuat orang tertarik untuk men-download dan memainkan aplikasi tersebut?

Sejauh ini sih kebanyakan orang tertarik karena unsur gaming-nya, karena masih jarang yang berbasis AR dan kontennya lokal. Selain itu juga karena promosi dari brand yang menjadi motivasi bagi pengguna untuk mengumpulkan kupu-kupu.

Akankah ada pengembangan lanjutan dari aplikasi iButterfly ini?

iButterfly masih dalam tahap perkembangan dan uji coba, tentunya ini akan terus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas smartphone. Misalnya saat ini sedang ditambahkan fitur Twitter Connect dan BlackBerry Connect. Di masa datang unsur gaming juga akan lebih ditonjolkan untuk memancing interaksi dengan user (sistem achievement award). Kami juga sedang dalam tahap diskusi dengan beberapa partner untuk pengembangan secara teknis.

Terima kasih Mitha! Ditunggu pengembangan selanjutnya dari produk iButterfly ya!

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • budiono :

    entahlah, tapi menurutku semakin banyak aplikasi, maka semakin tidak efektif jika tujuannya terkait pemasaran
    budiono baru saja menulis..3 Draft Artikel Batal Terbit!

  • Brama Danuwinata :

    Di Indonesia harusnya semakin banyak aplikasi seperti ini, karena kalau kita bandingkan dengan beberapa negara tetangga, untuk teknologi dan jumlah aplikasi smartphone seperti ini jumlah di Indonesia masih tertinggal cukup jauh. 🙂

  • Hendra Gunawan :

    Saya seorang pengguna dari aplikasi ini, saya suka dengan penawaran yang diberikan. Saya sudah pakai di akhir 2011. Awalnya aplikasi ini tidak kompatible dengan HH saya (Galaxy Young CDMA) saya harus mencari file .apk-nya. Untuk butterfly yang Telkomsel di acara Java Jazz kemaren saya agak kecewa, butterfly gadget-nya tidak dilepas sesuai waktu yang ditentukan.

  • Kurnia Septa :

    Nanti kalau sudah punya samrtphone coba deh diunduh 🙁
    Kurnia Septa baru saja menulis..Apresiasi Musisi dan Nikmati Musiknya di MelOn

  • ucicha nadia :

    klo kebanyakan gk efektif nih persaingan kan ketat kebanyakan pake PC software klo model ipad or ipod lom meluas di indonesia
    ucicha nadia baru saja menulis..SEO – Displaying Clickbank Ads Can Be Good SEO

  • Dentsu Digital dan Aplikasi iButterfly | New Wave Marketing - Marketeers :

    […] Tulisan ini juga bisa dibaca di blog penulis. […]

  • danny :

    menarik,
    marketing ga harus selalu menjadi sesuatu yang membuat jengah..

    dengan segala keleluasaan dan keterbatasan para urban, aplikasi macam begini memang menyegarkan.. kreatif!
    danny baru saja menulis..”..’cause i can’t make you love me if you…

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge