Home » Experiential

Offline Digital Engagement

18 June 2012 5,172 views 7 komentar

Interaksi manusia dengan digital tidak melulu harus terjadi di ranah maya. Social media memang menjadi salah satu kanal menarik yang dieksplorasi brand sejak 2 tahun belakangan ini. Namun kanal itu bukan satu-satunya brand bisa bereksplorasi digital. Masih ada ranah mobile (yang belakangan ini semakin tren) dan juga ranah offline, tempat biasanya brand melakukan engagement melaui kampanye below the line (BTL). Bahasan tulisan kali ini lebih ke engagement yang dilakukan offline.

Kalau engagement melalui social media biasanya diukur dengan, misalnya, banyaknya partisipan pengguna Facebook yang ikut menggunakan aplikasi, atau banyaknya pengguna Twitter yang terlibat dalam kontes, maka engagement di BTL pun tak beda jauh. Biasanya yang dihitung target konsumen yang di-engage oleh staf atau SPG di lapangan. Brand akan mencari cara supaya tingkat engagement-nya tinggi, misalnya dengan menggunakan medium interaktif yang menghibur untuk membantu mendekatkan konsumen dengan brand.

Biasanya ada semacam prasyarat sebelum konsumen bisa menggunakan medium interaktif itu. Ada yang harus membeli produk brand dahulu dengan nilai minimal tertentu. Ada yang harus diminta untuk mengisi kuesioner terlebih dahulu. Meski agak jarang dilakukan, namun bisa saja brand meminta konsumen untuk menuliskan tweet dengan format tertentu terlebih dahulu. Yang pasti dilakukan adalah mencatat database konsumen yang berhasil ter-engage.

Kriteria umum medium interaktif untuk engagement BTL tentu harus eye-catching (sehingga konsumen penasaran untuk mencoba), memiliki mekanisme permainan sederhana (nggak pakai berpikir lama untuk mengetahui cara bermain), dan bisa dimainkan dengan cepat (tak lebih dari 2 menit). Bentuk engagement interaktifnya pun bisa beragam, dari yang murni permainan virtual (dimainkan melalui device), atau kombinasi fisik badan dan digital. Salah satu yang tren sekarang adalah permainan interaktif yang berkonsep augmented reality (realitas tertambah), dimana pemain bisa melihat dunia fisik dan dunia virtual tergabung dalam satu tampilan kamera.

Engagement digital di BTL itu sudah ada lama, hanya medium interaktifnya yang terus berubah. Kalau dulu konsumen (dan brand) sudah puas berinteraksi melihat informasi produk atau bermain game melalui medium touch screen. Kalau kini penyampaiannya berubah menggunakan aplikasi di dalam iPad. Beberapa aplikasi bahkan menuntut konsumen untuk login menggunakan Facebook, sebelum ia bisa bermain.

Seiring dengan berkembangnya teknologi, medium interaktifpun harus ikut berubah. Kalau bisa sih menampilkan sesuatu yang out of the box, yang tak mungkin dinikmati konsumen di rumahnya sendiri. Aplikasi interaktif dengan memanfaatkan motion sensorkini semakin kerap dipakai. Dari teknologi awal yang men-track gerakan wajah melalui webcam, hingga yang kompleks men-track gerakan seluruh anggota badan menggunakan sensor Kinect. Dari permainan augmented reality yang hanya membaca pola hitam putih, hingga yang paling kompleks kini yang bisa membaca pola gambar. Dari medium transparan holografik yang bisa diinteraksikan hingga kini berkembangnya teknologi video mapping yang semakin kompleks.

Untuk beberapa brand yang sering melakukan engagement digital di BTL, mereka nggak ingin aplikasi yang sama diulang lagi pada tahun berikutnya. Pengembang aplikasi dituntut untuk terus inovasi dengan teknologi dan kreativitas terbaru. Tahun kemarin misalnya, augmented reality dan video mapping tren dipakai banyak brand. Tahun depan belum tentu brand yang sama ingin menggunakan teknlogi yang sama. Semakin canggih, semakin keren, semakin menarik perhatian (biasanya konsekuensinya semakin mahal) akan selalu diminta brand kepada vendor teknologi untuk membangun engagement digital yang jauh lebih kreatif dan belum pernah ada.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

  • Kurnia Septa :

    yg bisa dilihat langsung dan disentuh itu lebih asyik πŸ˜€
    Kurnia Septa baru saja menulis..Upacara Yudisium yang Kedua

  • Jonathan David :

    Mungkin next stepnya adalah… Apakah engagement digital BTL bisa diconvert langsung ke sales, dan tidak hanya sebatas branding saja. πŸ˜€

  • abdurohim :

    thank’s for your information…

  • Deny Eko Yuwono :

    Gambarnya bener-bener ajaib! kok bisa ya?!

  • Deny Eko Yuwono :

    Ajaib benerrr

  • lulu :

    nice…emang perlu ni…di dunia digital ni

  • unikgaul.com :

    artikel blognya sangat menarik gan, senang baca baca di sini. πŸ™‚

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge