Home » Online Branding

Sudah Perlukah Disclaimer Saat Berpromosi Daring?

5 July 2012 3,796 views 14 komentar

Beberapa tahun belakangan ini netizen yang aktif di ranah daring banyak yang penah mendapatkan kesempatan menulis/berpendapat tentang suatu brand. Biasanya memang diminta oleh brand tersebut dengan imbalan benefit tertentu. Benefit tidak melulu dalam bentuk uang, tapi bisa pula dalam bentuk barang atau jalan-jalan atau apapun. Nggak ada yang salah sih dengan itu. Bagus malah, karena brand dan netizen bisa semakin dekat. Tentunya akan lebih baik, kalau isi tulisannya jujur ya.

Sementara itu di Twitter sudah lebih dari setahun ini banyak pengguna Twitter yang memiliki follower banyak, mendapatkan kesempatan untuk menjadi buzzer bagi brand. Ada buzzer yang frontal menyebutkan pesan iklannya dalam isi tweet. Ada pula buzzer yang memilih menuliskan tweet dengan cara yang halus, supaya pesannya itu tidak terasa sebagai iklan. Praktik ini memang awalnya menarik karena memancing keingintahuan orang melalui percakapan natural. Namun semakin lama orang pun semakin tahu dan bisa membedakan tweet mana yang bersifat promosi mana yang tidak.

Ada yang tidak keberatan dengan promosi semacam itu di Twitter. Mungkin pikirnya, ya cuma sekali-sekali nggak apa-apa juga lah. Ada yang sebal melihat akun yang mereka follow sering berpromosi. Apalagi yang diawali dengan percakapan natural yang ternyata mengarah pada promosi sebuah brand. Mungkin ia merasa tertipu? Ada yang sengaja me-mute hashtag tertentu ketika pada saat yang bersamaan, banyak buzzer menulis tweet serupa.

Promosi melalui buzzer bukanlah hal baru. Di Amerika sana sudah lama dilakukan. Aturan main di sana lebih ketat, brand harus menjelaskan kalau buzzer yang mereka pakai harus menyatakan kalau isi tweet itu adalah iklan. Cara umum yang dilakukan adalah dengan menambahkan hashtag #ad di akhir tweet yang ditulis oleh buzzer. Akhir Juni kemarin, Nike mendapat teguran karena buzzer yang mereka pakai, Wayne Rooney dan Jack Wilshere, tidak menuliskan disclaimer kalau tweetnya adalah iklan.

Bagaimana dengan di Indonesia? Kalau bicara peraturan sih memang tidak ada, jadi sebetulnya tidak ada yang mengikat. Namun alangkah lebih baiknya kalau buzzer di Indonesia menyatakan disclaimer serupa. Toh tujuannya baik juga, supaya follower bisa lebih jelas membedakan tweet mana yang promosi dan tweet mana yang murni dari dirinya sendiri. Beberapa buzzer lokal sudah mulai menggunakannya, meski memang belum banyak.

Hal yang sama berlaku dengan tulisan di blog. Apalagi sekarang lagi gencar-gencarnya kampanye calon gubernur DKI. Beberapa individu dengan jelas menyatakan dukungannya terhadap calon tertentu. Akan sulit bagi pembaca untuk menilai apakah pernyataan seorang individu di blognya ini murni opini jujur pribadinya, ataukah pesanan calon gubernur yang berkampanye?

Sekedar contoh saja. Ada tulisan Pandji dan Adhitya Mulya yang bercerita tentang dukungannya terhadap calon nomor 5. Mereka berdua secara ekplisit menyebutkan kalau mereka tidak dibayar untuk itu. Pendapat yang mereka utarakan murni adalah pendapat mereka pribadi. Lalu cek juga tulisan Erdian AjiΒ dan jflow yang mendukung calon nomor 1. Sayangnya mereka tidak menuliskan disclaimer terhadap tulisan ini, jadi agak bingung bagi pembaca untuk menilai opini mereka.

Nah, kalau menurut Anda sendiri, seberapa perlukah disclaimer Anda tuliskan terhadap brand atau perusahaan atau tokoh yang Anda bahas dalam tulisan Anda?

Kredit foto: loop_oh

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

14 komentar »

  • wiku :

    harus!

  • Firman Nugraha :

    Iyak, disclaimer penting itu. Selama ini saya pake tanda * aja kalo ada tweet promosi, pake hesteg #ad asik juga kayaknya hihi. Pertanyaanya, apakah brand di Indonesia mau tweet buzzer2nya pake ada disclaimer? #ihik

  • Zam :

    menurutku sih perlu. apalagi kalo udah mengarah ke bisnis, aturan juga penyangkalan. πŸ˜€

  • Coleman :

    Saya setuju dengan pendapatnya “Zam” disclaimer memang diperlukan, yang menunjukkan kwalitas sebuah blog.

  • Aditya Eka P :

    Perlu, mas. Seperti yang dilakukan Pandji, selalu mencantumkan #spon diakhir untuk mengetahui kalau itu ada Tweet berbayar.
    Aditya Eka P baru saja menulis..Melihat Sisi Baik POLISI Dari Sebuah Gambar

  • Richi Dellan :

    Antara setuju dan tidak pak.
    Setuju kalau yg iklan orang lain.
    Tdk setuju kalao yg iklan saya.
    Hehe.

    Di TV aja, ga pernah saya nemuin tulisan `INI IKLAN Ya..”

  • Brama Danuwinata :

    Menurutku sih tidak perlu kalau di twitter, karena agak aneh dan dipaksakan kalau menggunakan #ad. Basic twitter adalah conversation, jadi akan aneh kalau kita membuat suatu campaign dengan hashtag iklan. Mungkin kalau ingin benar-benar mengikuti aturan ya pakai promoted tweet atau hashtag.
    Namun satu hal yang perlu digarisbawahi adalah jangan sampai para buzzer menyesatkan atau membohongi publik. πŸ™‚
    Kalau misalnya blog menurut saya sebaiknya dicantumkan, karena medianya berbeda dengan twitter. Seperti tag advertorial atau inforial di majalah / koran.
    Brama Danuwinata baru saja menulis..Hands-on Samsung Galaxy S3

  • Kurnia Septa :

    sudah perlu πŸ˜€
    Kurnia Septa baru saja menulis..Gowes ke Bendungan Serut

  • agus :

    wah ajakan yang sangat bagus dan mendidik. supaya semuanya bisa menjadi lebih teratur.
    Salam kenal yah semuanya.

  • jchristie :

    saya pikir kejujuran kita menyampaikan sesuatu lewat blog atau akun apa saja adalah sangat penting. setiap individu memiliki tanggungjawab masing2. pertanyaan sederhana, apa jadinya bila kita sudah tidak dipercayai orang?

  • sandy :

    perlu banget gan

  • sandyaga :

    perlu banget menurut ane

  • teknik komputer :

    iya keliatannya penting dech gan…

  • teknik komputer :

    iya gan perlu….
    teknik komputer baru saja menulis..Ebook Download

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge