Home » Online Branding

Promosi di YouTube

27 September 2012 3,474 views 7 komentar

Sejak mulai resmi YouTube ada di Indonesia, banyak brand mulai memanfaatkannya untuk kebutuhan promosi (padahal isunya harga placement-nya luar biasa tinggi). Beberapa brand raksasa muncul dengan brand channel masing-masing di YouTube. Iklan pun juga bermunculan di portal video tersebut. Ada yang menampilkannya di masthead (banner raksasa di atas halaman), ada yang menampilkannya dalam bentuk preroll (muncul di awal kita menonton video), ada pula yang disebut dengan trueview (mirip dengan AdWords, muncul di samping kanan). Macam-macam jenis banner lainnya bisa dicek di sini.

Berdasarkan obrolan di groups Facebook Social Media Strategist seorang teman agency yang pernah memasang di sana, berbagi cerita kalau saat ini banner di masthead yang paling banyak mendapat impresi (ya jelas lah ya, kan munculnya selalu di halaman pertama saat kita membuka YouTube). Untuk CTR (click through rate) di masthead ini bisa sekitar 0,3-0,5. Lumayan tinggi sebetulnya. Mungkin kalau kreatif di dalam banner itu menarik (seperti dalam bentuk game atau rich media format lainnya), CTR akan bisa lebih tinggi lagi.

Format banner preroll ini yang kini mengganggu kenyamanan pengguna YouTube. Kalau kita mengunjungi video yang diunggah oleh partner konten YouTube, kita akan suka menemukan iklan dulu sebelum kita bisa menonton video yang diinginkan. Dalam 5 detik pertama, kita punya kesempatan untuk men-skip-nya. Saat kita melakukan proses skip ini, katanya brand tidak akan ditarik bayaran. Namun jujur saja sih, meski kita punya kemampuan untuk menekan tombol skip, kenyamanan menonton sudah sempat terganggu. Seakan pengalaman kita menonton acara televisi yang dipotong iklan terulang kembali.

Promosi menggunakan mekanisme resmi dari YouTube nggak murah. Harganya bisa berkali-kali lipat daripada memasang banner di portal berita lokal. Untuk brand yang uang sakunya nggak besar, agak sulit untuk bisa melakukan placement di YouTube. Sulit bukan berarti nggak mungkin kan?

YouTube itu surga konten video. Video yang memang menarik akan dengan cepat beredar luas, ke Facebook, Twitter, Google+, Pinterest, dan entah ke mana lagi. Setiap orang yang melihat video bisa memasukkannya sebagai favorit, melakukan like atau dislike. Video yang bernuansa positif akan cepat tersebar, dan mendapat banyak like, sementara video yang bernada memojokkan suatu pihak siap-siap menerima banyak dislike.

Sekarang mulai banyak juga pemain lokal yang memproduksi serangkaian webseries di YouTube. Biasanya berupa show pendek atau film pendek. Beberapa webseries dibuat dengan sangat niat, namun ada juga yang dibuat dengan kualitas visual terbatas. Yang berkualitas visual terbatas tidak berarti jelek loh. Nggak sedikit yang punya gaya penceritaan yang menarik, meski kualitas visualnya biasa-biasa saja. Audiens sudah tahu kok kalau YouTube itu gudangnya konten video amatir, dan menerimanya.

Nah, apakah webseries ini bisa dilirik oleh brand? Tentunya bisa, hanya saja sebagai produk, webseries ini harus punya basis penonton yang loyal terlebih dahulu. Semakin tinggi viewers-nya, semakin besar kemungkinannya brand untuk tertarik bekerja sama. Tentunya, asalkan konten webseries tersebut masih inline dengan karakter brand ya. Apalagi brand tentu mencari medium alternatif promosi yang relatif lebih murah tapi bisa lebih kena ke target pasarnya.

Kredit foto: John Pannell.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

7 komentar »

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge