Home » Online Living

Peran Sebagai Seorang Netizen

12 January 2010 12,502 views 26 komentar

Kumpul-kumpul Power Lunch di Markplus kemarin memang benar-benar “power.” Banyak figur terkenal hadir di sini. Sebut saja Pandji, Igor Saykoji, Syahrani, Olga Lydia, duet pembawa acara Apa Kabar Indonesia tvOne, Piyu, dan tokoh-tokoh kreatif Andi S Boediman, Shinta Bubu, Nukman Luthfie, Ivan Lanin, Enda Nasution, hingga petinggi-petinggi asosiasi dan pemilik merk, plus Pak Tifatul Sembiring. Ruangan jadi penuh sesak. Diskusi pun berjalan menarik, dengan Pak Hermawan Kartajaya sebagai pengarahnya.

Inti dari diskusi ini berfokus pada 3 elemen New Wave:

  • Youth: leading the mind.
  • Women: managing the market.
  • Netizen: organizing the heart.

powerlunch01

Berikut ini sekedar tulisan bebas yang (bisa jadi) tidak lengkap, berdasarkan insight dari banyaknya peserta di sana. Kerangka pemikiran ini mungkin (bisa jadi) tidak persis sama dengan diskusi kemarin. Pengamatan setiap insight ini lebih dilihat dari kacamata diri sebagai seorang netizen (bukan youth atau women) yang juga pengamat social media.

Kalau diperhatikan kini semakin banyak pengguna internet di Indonesia yang berusia muda. Mereka masih dalam tahap mengenal internet. Belum terlalu kenal etika berperilaku di internet. Mereka juga tidak tahu bahaya yang menanti mereka di internet. Mereka dengan gampang mem-blast pesan melalui BBM, YM, Facebook, milis, tanpa mengkonfirmasi keaslian sumber berita. Hal-hal seperti ini yang juga dikhawatirkan para ibu dengan anak mereka. Si Ibu sendiri mungkin tidak terlalu paham akan dunia internet, apalagi bila si Ibu adalah seorang perempuan aktif yang bekerja pula, sehingga agak sulit mengawasi aktivitas si anak dengan internet.

Generasi muda ini memang punya semangat menggebu-gebu. Yang penting maju dulu, resiko itu nomor kedua. Mereka juga tidak melihat lagi perbedaan suku, ras, agama. Saat mereka terkoneksi di ranah daring, hal-hal seperti itu sudah tidak lagi penting. Mereka erat bersosialisasi. Saat ada isu tertentu, mereka spontan menyatakan pendapatnya. Ingat kasus Rana, seorang ABG di Twitter yang bilang kalau pengguna BlackBerry itu alay? Betapa cepatnya isu itu menjadi trending topic di Twitter, karena begitu banyaknya anak muda yang keberatan dengan hal itu, dan jumlah mereka sangat besar.

powerlunch02

Di ranah daring, ada beberapa orang yang dianggap sebagai panutan. Mereka menjadi pemengaruh (influencer/rainmaker/whizzer/catalyst/apapunlah namanya). Nggak jarang perkataan orang-orang ini diamini oleh netizen lainnya. Apa kata tulisan mereka di blog, pembacanya mudah setuju. Apa kata tweet mereka, para follower-nya mengiyakan dan melakukan ReTweet. Apa katanya di Kaskus, semua orang memberinya cendol.

Para pemengaruh ini dituntut memiliki tanggung jawab moral lebih, karena apapun perkataannya, sebagian besar orang akan mengikutinya. Tulisan atau perkataannya sudah menjadi “media” tersendiri. Para pemengaruh ini tentu saja punya “kekuatan” untuk menyetir opini. Hal ini yang sempat dikhawatikan HK dan tim tvOne. Contohnya, bagaimana seorang Susno Duadji yang sebelumnya dicemoohkan orang-orang kini malah didukung kesaksiannya di pengadilan. Ini satu contoh saja. Bukan tidak mungkin besok-besok ada seorang ugly marketer (pemasar yang njijiki, istilah dari HK) yang berhubungan dengan para pemengaruh ini untuk ikut menyetir opini negatif produk kompetitor di ranah daring.

Bayangkan saat para pemengaruh ini berucap opini, dan para netizen lainnya yang umumnya muda-muda dan baru kenal dengan internet langsung saja mengamininya, lalu menyebarkannya ke berbagai platform social media: Twitter, Facebook, Kaskus, blog, dll. Apalagi kecenderungan mereka yang mengikuti ini tidak pernah mengkonfirmasinya terlebih dahulu. Mereka cenderung untuk mengikuti kemana arus pembicaraan berlangsung, dan (bisa jadi) sekedar ikut-ikutan setuju saja dengan opini yang ramai bermunculan, tanpa punya alasan pribadi yang kuat.

powerlunch03

Meski bukan tidak mungkin hal seperti ugly marketer itu terjadi, tapi di ranah daring itu selalu ada yang namanya kearifan khalayak (wisdom of crowd). Saat seseorang beropini dan ada fakta salah di baliknya, sesama netizen (yang jejak di ranah daringnya kurang lebih sama) akan mengingatkan. Semakin banyak orang yang mengingatkan, semakin jelas bahwa benar ada kesalahan dalam opini tersebut, dan si pemengaruh bisa segera merevisi perkataannya. Namun sebaliknya, saat kearifan khalayak mengamini apa kata si pemengaruh, sudah dipastikan opini pemengaruh itu pun akan bergulir dengan hebatnya di kalangan netizen lainnya.

Yang juga jadi masukan untuk Pak Tifatul Sembiring terkait dengan ranah daring adalah ranah daring Indonesia ini sudah berjalan dengan dinamis tanpa munculnya peraturan hukum. Kalau memang perlu ada peraturan terkait hal-hal ini, sebaiknya Pemerintah berfokus pada hal yang makro dan luas (yang fleksibel hingga 2-3 tahun mendatang meski teknologinya berganti). Peraturan yang justru membesarkan pasar di internet, apalagi kini semakin banyak transaksi daring terjadi di Indonesia. Bukan peraturan yang membuat netizen takut di-Prita-kan.

Sebenarnya cakupan bahasan kemarin di Power Lunch jauh lebih luas daripada ini. Namun biarlah teman-teman lainnya ikut melengkapi dengan versi pemikirannya masing-masing. Harapannya sih, acara seperti ini, dengan menghadirkan figur-figur serupa bisa lebih sering diadakan oleh Markplus, dengan durasi waktu yang lebih panjang.

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

26 komentar »

  • antobilang :

    keren ya blogger jaman sekarang, duduk semeja dengan menteri, juga marketer hebat. entah bagi mereka, apakah duduk semeja dg blogger itu prestasi atau tuntutan?

    *mlipir*

  • Stephen Langitan :

    Bagi kalangan blogger KoBOI (komunitas Blogger Otomotif Indonesia) boleh dibilang dah akrab dgn direksi/management ATPM motor di Indonesia. Saling berkesinambungan.

  • didut :

    banyak juga yang dateng yak 🙂

  • Ari Juliano :

    Dengan begitu derasnya informasi, saya percaya dg kearifan publik. Meski info begitu mudahnya tersebar, tdk akan semua info direspon oleh publik.

    Setiap orang punya peluang utk jadi influencer di dunia yg sdh begitu transparan ini. Ingat saja pepatah lama: Siapa menebar angin, maka akan menuai badai. Siapa yang menebar angin kebaikan, maka akan menuai badai kebaikan 🙂

  • Setyagus Sucipto :

    @antobilang : Kalo kata pak HK sebuah perubahan dari horisontal ke vertikal.

    Pitra pulpen elo ketinggalan kemarin *komen nggak penting pagi ini*

  • Muji Sasmito :

    Seandainya acara-acara seperti ini tak hanya di Jakarta.

  • Pandu Truhandito :

    mungkin ini karena detilnya tidak lengkap dijabarkan di entry ini, tapi kalau alasan fenomena ceplas-ceplos dan kemudian dengan gampang diikuti para pembaca / penyimak adalah hanya karena 1. muda 2. baru kenal, saya tidak setuju.

    Baru kenal dan being young bukanlah faktor yang necessary maupun sufficient untuk fenomena tersebut terjadi. Di mata saya permasalahannya lebih ke arah:

    1. budaya indonesia (dan timur) yang cenderung kolektif dan konformis
    2. pola kognitif orang indonesia yang cenderung malas cross-check

    muda atau tua, baru kenal atau sudah lama kenal, kalau kedua faktor di atas masih lekat dengan “mental” orang indonesia, saya rasa fenomena ini tidak akan hilang.

    Dan saya setuju dengan point Ari Juliano untuk mempercayai wisdom of the crowd untuk memoderasi dunia maya dengan sendirinya (self-organization). Problem ini sudah terjadi sejak internet ada dan makin prominent ketika web 2.0 masuk tapi so far, secara global, dunia internet masih bisa mengurus dirinya sendiri.

    Kemudian (mungkin ini juga dibahas di pertemuan kemarin) bagaimana dengan corollary dari fenomena ini sendiri? Sure, memang fenomena ini sendiri bukanlah sesuatu yang baik, tetapi point bagus yang immediately proven dengan adanya fenomena ini adalah mudahnya akses public figur yang “dirasa” memiliki otoritas ke dalam lingkungan pengikutnya. Ini adalah point yang saya rasa perlu diangkat juga dan perlu dijelaskan dan dijabarkan lebih lanjut untuk membuka mata pihak-pihak yang skeptis akan kekuatan sosial media (dan internet media secara keseluruhan). Tentunya perlu panduan dan arahan agar bisa dieksploitasi dengan sebagaimana mustinya dan tidak mengarah menjadi ugly marketer.

  • andrias ekoyuono :

    sayang sekali saya kemarin gak bisa ikut, maklum kuli 😀

  • si Rusa Bawean :

    hebat ya ada acara kek gini
    ide bagus u/ menyikapi hal2 buruk yg ditimbulkan kemajuan teknologi komunikasi

  • Ben :

    Baiklah. Jadi, menu makan siangnya apa? *lirik judul acara*

  • Edo :

    Keren mas, terimakasih tulisannya.. 🙂 semoga di lain waktu kita bisa discuss lagi. klo bisa next time jadi double power:) silahkan di input tulisan ini ke http://www.the-marketeers.com mas..

    terimakasih,

    -Edo-

  • ArafurU :

    nice posting, coba kalo forum power lunch terbuka untuk umum …

  • Ivan Lanin :

    Wow, “pemengaruh”. Keren!

  • bang FIKO :

    Kalo acara seperti itu dibuat di daerah, Pak Menteri mau datang gak ya?

  • Blog Ijo :

    yang punya ini artis juga..
    wakakakakak…

  • bakulrujak :

    pak mentri iklas gak ya dateng kemaren itu ?
    hi hi hi..

  • yudistywn :

    Kalo untuk youth yg menurut mas penulis dalam tahap mengenal internet, mungkin ada benarnya namun sekarang kelompok muda ini juga mengenal internet sejak dini. Jadi kalo dikatakan kelompok muda ini maju duluan resiko belakangan kurang tepat juga. Untuk beberapa hal memang youth cenderung untuk mengamini tanpa mengcross check seperti kata mas pandhu. Hanya untuk ikut nimbrung / terlihat eksis menganini sesuatu yang dilontarkan oleh seseorang.

  • pandegkyen :

    kyen neh acaranya, coba un tuk umum ya, pasti lebih sesak dan padat neh

  • UntungNyata!com | Budhi K. Wardhana :

    wah hebat…hebat… sekarang para blogger sudah menunjukkan perannya…

  • Arham blogpreneur :

    Monolog nya ngak ikutan di post pit 😉

    anyway.. mungkin ngak yah pak HK berpikir tuk Webinar …?

  • -tikabanget- :

    Pitra gak ngajak akuuuu..

  • venus :

    ndak ada fotoku. cih!! :))

  • Tweets that mention Media Ide » Blog Archive » Peran Sebagai Seorang Netizen -- Topsy.com :

    […] This post was mentioned on Twitter by Fikri Rasyid. Fikri Rasyid said: @anakcerdas yang saya maksud itu gambar yang ada disini: http://bit.ly/atTCRk di publish disini: http://bit.ly/a5o4QH […]

  • Pemuda, perempuan, dan warga internet « nan tak (kalah) penting :

    […] #1: Tulisan Ollie menjabarkan lebih banyak jalannya diskusi dalam acara ini. Pitra dan Andi S Budiman juga punya sudut pandang lain yang menarik untuk disimak. -6.235545 […]

  • adatuh.com :

    Jangan lupa ikutan di jejaring sosial Netizen Indonesia

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge