Home » Online Branding

Setiap Netizen Punya Karakternya Masing-masing

13 November 2010 22,796 views 6 komentar

Di tulisan terdahulu, sempat diceritakan kalau Barack Obama punya karakteristik tertentu. Karakter yang khas, yang akhirnya membentuk dirinya sebagai sebuah brand. Sebenarnya tidak harus menjadi seorang Obama untuk bisa punya karakteristik kuat. Sebagai seseorang yang aktif di ranah daring, apa yang kita lakukan sehari-hari sebetulnya secara tidak langsung membentuk karakteristik kita. Setiap tulisan blog kita, setiap status update kita, setiap cuap kita di Twitter membentuk persepsi tentang diri kita di mata orang lain. Kita membentuk brand diri kita sendiri melalui setiap aktivitas kita.

Pertimbangkanlah untuk mengelola brand kita sendiri. Tentukan personal brand apa yang hendak kita ciptakan untuk diri kita. Serius, fun, suka bercanda, suka horor, romantis, dll. Tentunya jangan lari terlalu jauh dari karakteristik diri kita sebenarnya ya. Kalau memang aslinya bukan seorang yang romantis, jangan lalu memaksakan diri menjadi seorang romantis juga di ranah daring. Yang seharusnya dikelola adalah jati diri kita sebenarnya. Jangan membohongi diri dengan karakter palsu, karena lama-lama akan ketahuan oleh teman-teman virtual kita.

Lalu bagaimana kita tahu, karakter kita ini seperti apa? Lalu apakah karakter itu tepat dengan yang jati diri kita sebenarnya? Paling gampangnya begini. Sampiri beberapa teman di ranah daring yang belum pernah kita jumpai secara fisik, lalu ajukan pertanyaan berikut:

  • Apa sih yang Anda ingat pertama kali saat melihat nickname saya muncul di timeline Twitter Anda?
  • Menurut Anda, setelah membaca blog saya, bisakah Anda menduga sifat dan keahlian saya?
  • Setelah lihat beragam aktivitas saya di Facebook, apa persepsi Anda tentang saya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas cuma contoh. Bisa saja divariasikan dengan pertanyaan lain. Intinya, menggali karakteristik diri kita di mata orang asing yang hanya “kenal” dengan kita melalui Twitter, Facebook, blog, dll. Mereka akan menyebutkan beberapa hal. Bisa jadi sebagian karakteristik tepat dengan ekspektasi kita. Bersyukurlah kalau begitu, berarti kita sudah melakukan aktivitas daring dengan tepat. Tinggal dilanjutkan.

Namun bisa jadi meleset dari perkiraan kita. Kalau sudah begini, berarti saatnya kita evaluasi diri. Misalnya: bila di Twitter kita ingin dipersepsikan sebagai seorang kritikus politik sejati, tapi yang ditangkap oleh para follower kita di Twitter ternyata adalah seorang pecinta makanan, berarti ada yang salah dengan komposisi tweet kita. Mungkin kita terlalu banyak cerita tentang jalan-jalan cari makan, daripada berdiskusi aktif tentang tren politik yang lagi seru.

Membangun personal brand di ranah daring tidak bisa dalam sekejab. Kita harus menjadi netizen yang eksis, yang akhirnya dikenal oleh banyak orang, dan itu butuh waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan. Konsistenlah pula dalam suatu tema sehingga lama-kelamaan orang akan mudah mengasosiasikan tema tersebut dengan diri kita.

Contoh: kalau ada orang bertanya siapa sih blogger fashion yang muda dan menarik? Maka asosiasi yang terpikir pertama kali adalah Diana Rikasari. Diana berhasil membangun persepsi di kalangan netizen (terutama blogger) kalau blognya adalah rujukan fashion. Hal ini disebabkan karena Diana konsisten menulis tentang fashion di blognya sejak 3 tahun lalu. Ia juga aktif mengajak brand fashion lokal untuk dipamerkan di blognya. Aslinya, Diana memang seorang penggila fashion. Blog ini menjadi salah satu bentuk ekspresi dirinya.

Contoh lain: siapa ya blogger yang aktif menulis tentang perkembangan teknologi dan dunia startup lokal? Maka pilihan top of mind langsung lari ke Dailysocial.net, yang sudah 2 tahun konsisten membahas tema yang sama. Untuk memperkuat karakteristik brand-nya, Dailysocial.net juga menyelenggarakan beberapa kali event kopdar dan diskusi. Pemiliknya, Rama Mamuaya, memang seorang yang punya ambisi agar startup lokal dikenal oleh dunia. Ambisi yang mendorongnya untuk terus menulis dan membangun jaringan dengan blog-blog serupa di luar negeri.

Contoh lain lagi: siapa di ranah Twitter yang akrab dengan dunia musik Indonesia? Pilihan yang pertama kali muncul adalah Adib Hidayat (@adibhidayat). Adib, juragan Rolling Stones Indonesia merangkap penulis biografi Gigi ini terkenal di kalangan musisi. Profesinya sehari-hari ikut dibawa ke Twitter untuk memperkuat personal brand-nya di ranah daring.

Kalau ingin punya karakter kuat seperti 3 contoh di atas, kuncinya hanya satu kok: konsistenlah menulis dalam tema yang sesuai dengan jati diri kita. Secara perlahan, karakter diri kita di ranah daring lama-lama akan terbentuk dengan sendirinya.

Kredit foto: magnoid

Artikel ini ditulis oleh: Pitra Satvika (@pitra)
Sehari-hari bisa ditemui di Stratego, sebuah digital agency yang membangun pengalaman digital untuk brand di ranah online dan event. Pecinta social media, fotografi, dan menulis. Penulis blog ini sejak Juli 2005.

6 komentar »

  • Setiap Netizen Punya Karakternya Masing-masing | Marketeers :

    […] ini juga bisa dibaca di blog penulis: Setiap Netizen Punya Karakternya Masing-masing VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0.0/10 (0 votes cast)VN:R_U [1.9.3_1094]Rating: 0 (from 0 votes)Related […]

  • Belajar Ngeblog di B :

    Kalo lihat id @kurniasepta apa penilaiamu ttg kurniasepta? 🙂

  • Adham Somantrie :

    lah saya ini gak jelas, euy… jadi gak jelas juga topiknya apa yang mau ditulis di ranah daring…

  • @yoshife :

    kalau saya ini karakternya sesuai zodiak. #halah

  • basibanget :

    memang benar apa yang dikatakan ybs

  • Rusa :

    kira2 kalo @rusabawean yg @pitra ingat apa ya?

    eh tapi kalo menurut gampangnya Rusa, u/ melihat persepsi orang terhadapmkita di twitter adalah dg melihat list yg ditujukan ke kita 🙂

Tinggalkan komentar Anda!

CommentLuv badge